WHO Peringatkan Risiko Ebola Makin Meluas, Kongo dan Uganda Jadi Titik Rawan Baru

Author: Redaksi Android62

WHO menilai wabah Ebola yang kini meluas di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sudah cukup serius untuk ditetapkan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Sorotan terbesar datang dari fakta bahwa penularan tidak lagi berhenti di satu wilayah, melainkan mulai menembus batas negara dan menjangkau area lain yang sebelumnya belum aman.

Situasi ini membuat otoritas kesehatan menaruh perhatian lebih besar pada kawasan sekitar. Infeksi telah terdeteksi di Uganda, sementara kasus yang terkait wabah juga mencapai Kinshasa, sehingga risiko penyebaran lintas batas dinilai semakin sulit dikendalikan.

Wabah terbaru itu dipicu strain Bundibugyo yang tergolong langka. Hingga kini belum ada vaksin maupun pengobatan yang disetujui khusus untuk varian tersebut, sehingga pengendalian wabah sangat bergantung pada respons cepat di lapangan.

Africa Centres for Disease Control and Prevention mencatat hingga Sabtu ada 88 kematian dan 336 kasus suspek. Angka itu menunjukkan wabah berkembang dalam waktu singkat dan menambah kekhawatiran di tengah kondisi lapangan yang sudah rumit.

Sumber awal penularan dilaporkan berada di provinsi Ituri, timur laut DRC, dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan. Wabah tersebut bermula di Mongwalu, wilayah pertambangan yang sibuk, lalu menyebar ketika orang yang terinfeksi bergerak keluar untuk mencari perawatan.

Pola perpindahan itu membuat virus menjangkau tempat lain, termasuk melintasi perbatasan ke Uganda. Di negara itu sudah ada dua kasus terkonfirmasi laboratorium yang terkait dengan pelancong dari DRC, dan salah satu pasien meninggal di Kampala.

WHO menilai situasi ini belum memenuhi kriteria pandemi. Meski begitu, badan kesehatan PBB itu tetap meminta negara-negara tidak menutup perbatasan atau membatasi perdagangan secara berlebihan karena langkah seperti itu bisa memicu masalah lain tanpa menghentikan risiko utama.

Tedros Adhanom Ghebreyesus menilai negara tetangga berada dalam risiko tinggi mengalami penyebaran lebih lanjut. Ia menyebut mobilitas penduduk, koneksi perdagangan dan perjalanan, serta ketidakpastian epidemiologis masih menjadi faktor utama yang harus diwaspadai.

Karena itu, WHO meminta negara tetangga mengaktifkan sistem manajemen darurat, memperkuat pemeriksaan lintas batas, dan segera mengisolasi kasus terkonfirmasi. Organisasi itu juga merekomendasikan pemantauan harian terhadap kontak erat dan larangan perjalanan internasional selama 21 hari bagi orang yang terpapar.

Di lapangan, tantangan pengendalian wabah tidak berhenti pada sisi medis. Africa CDC memperingatkan bahwa pergerakan penduduk, infrastruktur kesehatan yang lemah, dan kekerasan oleh kelompok bersenjata di Ituri akan menyulitkan upaya penanganan.

Di wilayah itu, pasien nol disebut sebagai seorang perawat yang datang ke fasilitas kesehatan di Bunia pada 24 April dengan gejala mirip Ebola. Trish Newport dari Doctors Without Borders mengatakan jumlah kasus dan kematian dalam waktu singkat sangat mengkhawatirkan, apalagi penyebaran kini terjadi di beberapa zona kesehatan dan sudah lintas batas.

Ia juga menyoroti kenyataan bahwa banyak warga Ituri sulit mengakses layanan kesehatan dan hidup dalam situasi tidak aman. WHO menambahkan masih ada ketidakpastian besar mengenai jumlah pasti orang yang terinfeksi, luas geografis penyebaran, serta hubungan epidemiologis antara kasus yang sudah diketahui atau masih dicurigai.

Ebola sendiri merupakan penyakit virus parah yang sering berujung fatal dan pertama kali diidentifikasi pada 1976 di dekat Sungai Ebola, di wilayah yang kini menjadi DRC. Virus ini diduga berasal dari hewan liar, terutama kelelawar, lalu menular ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah, muntah, atau air mani, maupun bahan terkontaminasi seperti seprai dan pakaian.

Penularan terjadi setelah gejala muncul, yang dapat berupa demam, muntah, diare, kelemahan hebat, nyeri otot, dan pada kasus berat pendarahan internal maupun eksternal. Masa inkubasi Ebola bisa berlangsung dua hingga 21 hari, sehingga pelacakan kontak menjadi sangat penting dalam pengendalian wabah.

Strain Bundibugyo sendiri pertama kali diidentifikasi di Uganda pada 2007 dan menurut Menteri Kesehatan DRC Samuel-Roger Kamba memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yang dapat mencapai 50 persen. Kondisi di timur DRC yang tidak stabil membuat respons terhadap wabah ini semakin berat, terutama karena krisis kemanusiaan, mobilitas penduduk yang tinggi, karakter hotspot yang urban atau semiurban, dan jaringan fasilitas kesehatan informal ikut memperbesar risiko penyebaran.

DRC telah mengalami setidaknya 17 wabah Ebola sejak virus itu pertama kali ditemukan di negara tersebut pada 1976. Wabah paling mematikan di negara itu terjadi pada 2018 hingga 2020 dan menewaskan hampir 2.300 orang, sementara secara global Ebola telah menewaskan sekitar 15.000 orang sejak ditemukan, hampir semuanya di Afrika.

Berita Terbaru