Harga minyak mentah kembali melaju kencang setelah pasar menangkap sinyal bahwa kebuntuan antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan jalan keluar. West Texas Intermediate atau WTI masing-masing sempat menembus US$96 per barel, sedangkan Brent bergerak mendekati US$105 per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Pergerakan itu menunjukkan bahwa pasar tidak hanya bereaksi pada isu suplai dan permintaan, tetapi juga pada risiko distribusi minyak yang bisa terganggu kapan saja. Dalam sepekan, harga komoditas energi tersebut telah naik sekitar 16% karena pelaku pasar semakin cemas terhadap potensi hambatan pengiriman dari kawasan yang sensitif secara geopolitik.
Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian utama
Fokus pasar sekarang banyak mengarah ke Selat Hormuz, jalur yang memegang peranan penting dalam pengiriman minyak global. Setiap tanda gangguan di kawasan itu biasanya segera tercermin pada harga karena pasar langsung menghitung kemungkinan pasokan dari Teluk Persia menjadi lebih sulit keluar.
Kekhawatiran ini makin besar setelah dua pejabat Amerika Serikat menyebut unggahan Donald Trump di platform Truth Social dan blokade laut terhadap pelabuhan Iran telah merusak negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan. Dari sudut pandang pasar, kondisi itu membuat peluang penyelesaian konflik tampak semakin jauh.
Gangguan di jalur pelayaran strategis juga mengubah cara investor membaca risiko minyak. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada produksi dan konsumsi, kini jalur distribusi ikut menjadi penentu penting dalam pembentukan harga.
Nada keras Washington ikut menambah premi risiko
Tekanan ke harga minyak tidak berhenti pada kebuntuan diplomasi. Langkah dan pernyataan dari Washington ikut memperkuat rasa waswas di pasar, terutama setelah instruksi militer kepada Angkatan Laut Amerika Serikat untuk bertindak tegas di wilayah selat.
Laporan mengenai pasukan Amerika yang menaiki supertanker Iran di Samudra Hindia juga ikut memperburuk suasana. Di saat yang sama, Donald Trump menyerukan tindakan “menembak dan menghancurkan” terhadap kapal-kapal yang dianggap memasang ranjau di jalur pelayaran strategis itu.
Kombinasi pernyataan keras dan langkah militer semacam ini membuat ruang kompromi terlihat lebih sempit. Bagi pasar minyak, situasi tersebut berarti premi risiko geopolitik tetap tinggi dan menopang harga di level yang kuat.
Kebuntuan politik belum memberi sinyal reda
Ketegangan Washington dan Teheran tidak hanya berkutat pada isu pelayaran. Negosiasi juga masih tersendat oleh persoalan kemampuan nuklir Iran dan dinamika militer di Lebanon, sehingga pasar belum melihat jalan keluar yang jelas.
Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior perdagangan di BOK Financial Securities Inc., menilai pasar mulai menghitung skenario kebuntuan yang lebih berat. Ia mengatakan, “Ketegangan kini semakin meningkat—pasar saat ini mulai memperhitungkan kebuntuan yang lebih intens dengan durasi yang lebih lama.”
Pernyataan itu sejalan dengan pergerakan harga terbaru. WTI untuk pengiriman Juni naik 0,8% menjadi US$96,61 per barel pada Jumat pagi waktu Singapura, sedangkan Brent untuk pengiriman yang sama menguat 3,1% dan berakhir di US$105,07 per barel.
Kenaikan beruntun menjaga pasar tetap sensitif
Lima hari kenaikan berturut-turut menunjukkan pasar belum melihat tanda meredanya tekanan dari Timur Tengah. Selama sentimen terhadap Selat Hormuz tetap rapuh dan pembicaraan AS-Iran belum bergerak maju, harga minyak cenderung tetap mudah bergerak oleh kabar baru.
Kondisi ini membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan politik dan militer dari kawasan tersebut. Selama ancaman terhadap jalur pelayaran vital belum hilang, setiap perubahan sikap dari Washington maupun Teheran masih berpotensi menjaga harga minyak global tetap tinggi.







