X kini mulai mengarahkan porsi tayangan terbesar ke unggahan pertama, bukan ke akun yang paling cepat menyalin video viral. Kebijakan ini dirancang untuk menekan keuntungan akun repost yang selama ini ikut memanen impresi dan pendapatan dari konten milik kreator lain.
Langkah tersebut muncul setelah X melihat pola akun besar yang secara terprogram mengunggah ulang konten dari akun yang lebih kecil. Praktik itu dinilai memanfaatkan program bagi hasil pendapatan kreator sekaligus menghindari kredit kepada pembuat asli.
Selama ini, video atau meme yang sama bisa muncul berulang dari banyak akun besar hanya dalam hitungan menit. Akibatnya, kreator pertama sering tenggelam, sementara akun repost justru mengumpulkan jutaan tayangan dan pendapatan.
Head of Product X, Nikita Bier, menjelaskan bahwa perusahaan melihat pola unggah ulang itu dipakai untuk mengeksploitasi creator revenue-share. Program tersebut memang memberi peluang bagi kreator yang memenuhi syarat untuk memperoleh uang dari engagement di platform.
Namun, sistem itu juga menciptakan dorongan bagi sebagian pengguna untuk bergerak cepat menyalin konten tren sebelum unggahan asli sempat mendapatkan momentum. X kini berusaha memutus pola tersebut dengan mengubah cara distribusi impresi di platformnya.
Dalam model baru ini, unggahan hasil repost akan diidentifikasi dan impresinya dialokasikan sepenuhnya kepada kreator. Artinya, pembuat konten pertama akan menerima porsi utama visibilitas sekaligus manfaat monetisasi dari kontennya sendiri.
Perubahan ini juga menunjukkan sikap X terhadap apa yang banyak pengguna sebut sebagai “copycat economy”. Istilah itu merujuk pada ekosistem akun yang mengandalkan daur ulang konten orang lain untuk meraih engagement yang kemudian bisa diuangkan.
Dengan kebijakan baru itu, akun agregasi dan akun repost tidak lagi berada pada posisi yang sama dengan kreator asli dalam perebutan impresi. X juga menegaskan arah kebijakannya untuk memberi perlindungan atribusi yang lebih berpihak pada pembuat awal.
Bagi kreator, langkah ini penting karena masalah atribusi kerap menjadi sumber keluhan. Saat sebuah video cepat menyebar lewat akun besar, pembuat asli sering kehilangan kesempatan membangun audiens dan ikut menikmati popularitas karyanya sendiri.
Meski memperketat repost, X tetap memberi ruang untuk komentar dan reaksi. Bier mendorong pengguna yang ingin menambah opini atau konteks pada klip viral agar memakai fitur “Share Video” atau “Quote”, bukan mengunduh lalu mengunggah ulang konten tersebut.
Menurut Bier, unggahan yang berisi komentar bermakna tetap akan memperoleh sebagian impresi. Namun, unggahan asli tetap akan menerima alokasi terbesar sehingga kredit dan manfaat utama tidak berpindah ke penyalin konten.
X juga mengakui ada masalah teknis pada fitur Share Video. Sejumlah pengguna sebelumnya menyoroti bahwa setelah melewati 280 karakter, video yang dibagikan berubah menjadi tautan dan tidak lagi tertanam di unggahan.
Bier menyebut masalah itu sebagai bug dan mengatakan perbaikannya akan dilakukan. Hal ini menjadi penting karena X justru sedang mendorong pengguna untuk memakai fitur berbagi resmi agar atribusi tetap benar.
Pada saat yang sama, perubahan ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi pembayaran kepada akun agregasi konten. Akun semacam itu selama ini sering bergantung pada unggahan ulang karya orang lain demi mengejar engagement yang bisa dimonetisasi.
Akun besar punya keuntungan karena basis pengikutnya luas dan bisa mempublikasikan konten dengan cepat. Saat konten dari kreator kecil diunggah ulang oleh akun seperti itu, perhatian pengguna lebih mudah berpindah ke versi salinan daripada ke sumber pertama.
Dengan mengubah alokasi impresi dari hulunya, X ingin menggeser insentif di platform. Sistem baru itu dibuat agar pihak yang pertama kali menciptakan konten mendapat manfaat terbesar, bukan pihak yang paling cepat menyalin.
Source: www.indiatoday.in






