Xbox Baru Terjepit Biaya Memori, Microsoft Mulai Siapkan Model Bisnis yang Berbeda

Microsoft kini menghadapi persoalan yang makin rumit: konsol Xbox generasi berikutnya berisiko hadir di tengah harga memori yang terus menekan biaya perangkat. Di saat perusahaan masih menjaga ambisi performa tinggi untuk proyek berkode nama Helix, arah bisnis yang bisa membuat konsol itu tetap terjangkau justru belum terlihat jelas.

Asha Sharma, bos Xbox yang baru, menyebut kepada Fortune bahwa Helix akan membawa “leading-end performance”. Namun, ia juga memberi sinyal bahwa Microsoft harus memikirkan ulang penyimpanan dan memori secara jauh lebih serius agar perangkat masa depan tidak terjebak pada harga yang sulit diterima pasar.

Tekanan harga memori mengubah hitung-hitungan Xbox

Sharma mengatakan industri konsol tidak cukup lagi hanya menjual “the most premium, high-performance console in the world”. Menurutnya, Microsoft perlu menyiapkan “new business models” karena sulit membayangkan pembeli massal mau mengeluarkan ribuan dolar hanya untuk satu generasi konsol.

Pernyataan itu memperlihatkan dilema utama yang dihadapi Xbox. Di satu sisi, Microsoft ingin tetap mengejar performa puncak untuk Helix, tetapi di sisi lain perusahaan mengakui bahwa model lama untuk menjual konsol mahal semakin sulit dipertahankan.

Storage dan memory jadi titik paling sensitif

Sharma menegaskan Microsoft harus “think very differently about storage and memory going forward”. Ia menyebut perusahaan perlu memakai teknik baru agar game bisa dikompresi, memberi pelanggan opsi penyimpanan yang sangat fleksibel, dan mendorong jenis game baru agar tetap muat di perangkat.

Arah itu terdengar seperti upaya menekan kebutuhan RAM dan SSD yang kian mahal. Krisis harga memori membuat komponen penyimpanan dan memori menjadi bagian paling sensitif dalam penyusunan harga Xbox berikutnya.

Meski begitu, solusi yang dibayangkan masih samar. Xbox sebenarnya sudah memiliki opsi penyimpanan yang fleksibel, sehingga belum jelas perubahan baru seperti apa yang sedang disiapkan Microsoft.

Rencana hardware belum final

Dalam surat terbuka kepada karyawan, Sharma mengatakan Microsoft “currently unable to make as many consoles as players want to buy” dan perusahaan memerlukan model bisnis baru serta kemitraan hardware sambil tetap berkomitmen pada Helix. Nada pernyataan itu menegaskan bahwa arah final untuk hardware Xbox belum benar-benar terkunci.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi sejumlah kemungkinan bisnis. Salah satunya adalah skema pembiayaan atau rent-to-own, sementara opsi lain adalah dorongan yang lebih kuat ke cloud streaming, sejalan dengan minat besar industri teknologi pada AI.

Gagasan cloud streaming memang bukan hal baru, tetapi cocok dengan logika layanan yang ingin menyalurkan game seperti konten berlangganan. Bryan Catanzaro, pionir Nvidia DLSS, mengatakan dalam sesi GDC pada Maret bahwa “AI is fundamentally much more efficient in the cloud”.

Pandangan itu mendukung masa depan di mana perangkat rumahan bisa bertahan dengan RAM dan SSD yang lebih kecil. Namun, arah seperti ini belum otomatis menjawab pertanyaan paling penting, yaitu apakah Xbox baru akan benar-benar lebih murah dan lebih mudah dijangkau.

Di tengah tekanan biaya komponen, Microsoft tetap harus menyeimbangkan performa dan harga jual agar Helix tidak melangkah terlalu jauh dari daya beli pasar. Kekhawatiran itu makin terasa karena pasar juga belum mendapat kepastian dari arah hardware pesaing.

Valve belum mengumumkan harga Steam Machines barunya, sementara 1TB Steam Deck kini dibanderol $950. Situasi tersebut ikut memperkuat kesan bahwa perangkat gaming, baik di sisi konsol maupun PC, bergerak ke level harga yang semakin sulit dijangkau.

Berita Terkait