Xiaomi India dilaporkan tengah menghadapi restrukturisasi baru di tengah tekanan yang makin berat di pasar ponsel pintar. Sejumlah eksekutif senior disebut bersiap meninggalkan perusahaan, sementara tanggung jawab mereka akan dibagi kepada pimpinan yang masih ada.
Laporan Smartprix menyebut langkah ini menjadi bagian dari penataan ulang manajemen yang lebih ramping. Pendekatan tersebut menunjukkan Xiaomi sedang berusaha menjaga kelangsungan operasional sambil menyesuaikan organisasi dengan kondisi pasar yang berubah cepat.
Pasar India yang dulu kuat kini menjadi titik tekanan
Bagi Xiaomi, India tetap merupakan pasar penting secara global. Karena itu, setiap perubahan di jajaran pimpinan di negara tersebut membawa dampak strategis yang lebih luas dari sekadar rotasi internal.
Situasi ini muncul ketika Xiaomi terus berupaya mengubah arah bisnisnya. Perusahaan kini menaruh perhatian lebih besar pada perangkat premium, produk ekosistem, dan penataan ulang struktur organisasi.
Dalam dua tahun terakhir, Xiaomi memang sudah beberapa kali mengalami perubahan kepemimpinan di India. Laporan terbaru ini hadir tidak lama setelah Alvin Tse, mantan kepala Xiaomi India, kembali ke kantor pusat global Xiaomi.
Dari dominasi ke fase bertahan
Tekanan yang dihadapi Xiaomi tidak lepas dari persaingan yang semakin tajam. Vivo, Samsung, Oppo, dan merek lain terus memperkuat posisi mereka di berbagai segmen harga, membuat peta pasar yang dulu sempat dikuasai Xiaomi ikut bergeser.
Data industri juga menunjukkan penurunan yang cukup tajam. Pada 2025, Xiaomi disebut turun ke peringkat keenam dalam peringkat smartphone India, dengan pengiriman yang merosot signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Perubahan posisi itu menjadi kontras yang kuat bagi Xiaomi. Perusahaan yang pernah menjadi salah satu pemain paling dominan di India kini harus bekerja lebih keras untuk merebut kembali momentum.
Strategi baru menyasar segmen yang lebih tinggi
Selain persaingan merek, Xiaomi juga menghadapi perubahan perilaku pengguna. Konsumen disebut kini cenderung lebih lama memakai ponsel dan menuntut pengalaman yang lebih baik secara menyeluruh.
Kondisi itu membuat Xiaomi India tidak lagi sepenuhnya bergantung pada volume penjualan ponsel murah. Perusahaan mulai menggeser fokus ke kelas menengah-premium dan premium, sambil menekankan dukungan perangkat lunak yang lebih panjang.
Salah satu langkah yang disorot adalah peluncuran Xiaomi 17T untuk mendorong pertumbuhan di segmen tersebut. Arah ini memperlihatkan peralihan prioritas dari model bisnis lama yang bertumpu pada penjualan besar di kelas terjangkau.
Selain produk, Xiaomi juga disebut merombak operasi penjualannya. Beberapa fungsi manajemen digabung, dan kepemimpinan baru didatangkan untuk membantu menghidupkan kembali pertumbuhan.
Laporan yang sama menyebut Xiaomi menunjuk Alexander Tang untuk memimpin operasi di India. Penunjukan itu dipandang sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk membalikkan tren penurunan pangsa pasar.
Restrukturisasi belum tentu memberi hasil cepat
Meski arah perubahan mulai terlihat, hasilnya belum tentu muncul dalam waktu singkat. Pergantian eksekutif senior justru menandakan bahwa perusahaan masih mencari struktur yang paling efektif untuk menghadapi tantangan saat ini.
Keputusan membagi tugas kepada pemimpin internal juga bisa membantu menjaga operasional tanpa menunggu proses rekrutmen baru yang panjang. Namun, langkah seperti ini menuntut koordinasi yang lebih kuat di tengah pasar yang terus bergerak.
Dengan ukuran pasar India yang begitu besar, Xiaomi tidak memiliki banyak ruang untuk mengabaikannya. Karena itu, restrukturisasi di level pimpinan menjadi sinyal bahwa perusahaan melihat kebutuhan mendesak untuk beradaptasi dan menyesuaikan arah bisnisnya.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, kemampuan Xiaomi menata organisasi dan mengeksekusi strategi baru akan sangat menentukan langkah perusahaan berikutnya.
