Yadea G6 masih menunjukkan sisi praktisnya setelah dipakai sekitar delapan bulan dan menempuh hampir 4.000 kilometer. Dalam pemakaian harian, motor listrik ini tetap terasa nyaman, halus, dan tidak menuntut perawatan yang rumit.
Di sisi lain, pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa ada satu titik rawan yang perlu diperhatikan sejak awal, yakni baterai SLA. Pada unit ini, masalah muncul setelah kebiasaan pengisian daya dilakukan tanpa jeda yang tepat hingga baterai sempat mengeluarkan bau panas lalu kembung.
Baterai Jadi Bagian yang Paling Sensitif
Kasus pada baterai menjadi catatan terpenting dari pemakaian Yadea G6. Pemilik mengaku baterai kerap diisi lalu dibiarkan terus menempel selama 5–6 jam setelah penuh, padahal untuk baterai jenis SLA disarankan ada jeda pengisian setiap dua jam agar kondisinya lebih terjaga.
Masalah tersebut tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan pemakaian, tetapi juga menunjukkan pentingnya disiplin saat mengisi daya. Kerusakan yang muncul bukan semata karena motor dipakai harian, melainkan karena kebiasaan pengisian yang kurang tepat.
Untungnya, persoalan itu tidak langsung menjadi beban biaya tambahan karena baterai masih masuk masa garansi. Proses klaim hingga penggantian baterai baru selesai dalam waktu 14 hari.
Kondisi Harian Tetap Aman Dipakai
Di luar persoalan baterai, Yadea G6 masih dinilai layak untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari. Motor ini digunakan dalam pola ringan hingga sedang, dengan jarak tempuh harian sekitar 10 kilometer pulang-pergi, lalu sesekali dipakai untuk perjalanan lebih jauh saat ada kegiatan komunitas.
Dalam pola pakai seperti itu, kondisi umum kendaraan masih terlihat baik. Lecet yang muncul pun hanya sebatas bekas pemakaian wajar dan tidak mengganggu fungsi utama motor.
Kesan positif juga datang dari karakter berkendaranya yang halus. Bagi pengguna yang lebih mengutamakan fungsi praktis ketimbang performa ekstrem, hasil pemakaian ini memberi gambaran yang cukup realistis.
Handling dan Ban Pernah Jadi Perhatian
Selain baterai, sektor kemudi juga sempat menyimpan keluhan awal. Komstir pernah terasa berat, dan pada awalnya kondisi itu sempat dianggap sebagai karakter bawaan motor.
Setelah dibawa servis, rasa berat pada komstir berkurang dan motor terasa lebih nyaman dikendarai. Perubahan itu menunjukkan bahwa beberapa keluhan awal bisa membaik lewat perawatan yang tepat.
Ban bawaan pabrik juga sempat dinilai licin, sehingga akhirnya diganti memakai Michelin untuk meningkatkan keamanan dan daya cengkeram. Setelah penggantian, handling terasa lebih stabil, meski ada konsekuensi pada penurunan kecepatan puncak.
Performa Masih Cukup untuk Kebutuhan Harian
Sebelum ganti ban, motor disebut masih mampu menyentuh 70 km/jam. Setelah penggantian, kecepatan maksimal turun dan mentok di sekitar 65 km/jam.
Angka itu masih dianggap aman karena tetap berada di atas klaim kecepatan maksimal pabrikan yang berada di kisaran 60 km/jam. Dalam penggunaan harian, akselerasinya juga tetap halus dan tidak menghentak.
Saat diuji, mode gear 1 bisa mencapai sekitar 47 km/jam. Mode gear 2 tembus sekitar 61 km/jam, meski pengujian dilakukan di jalan yang tidak rata.
Perawatan Ringkas dan Komponen Masih Awet
Selama periode pemakaian tersebut, daftar komponen yang diganti juga tidak banyak. Baru kampas rem depan yang sudah diganti satu kali karena aus.
Komponen lain seperti lampu, kaki-kaki, dan sistem kelistrikan dilaporkan masih normal. Suspensinya juga dinilai cukup nyaman untuk ukuran motor listrik, walau bagian depan terasa sedikit memantul karena menggunakan model teleskopik.
Nilai praktis Yadea G6 tetap terasa karena pengguna tidak perlu mengisi bensin, tidak perlu ganti oli, dan tidak dibebani perawatan rutin yang kompleks. Dengan catatan pemakaian yang masih rapi di luar masalah baterai, motor ini tetap menarik bagi pembeli yang mencari kendaraan listrik simpel untuk aktivitas harian.







