YouTube Menjadi Penopang Utama, Pendapatan Ladang Keluarga Welker Jauh Tertinggal

Di Shelby, Montana, keluarga Welker kini dikenal bukan hanya sebagai petani, tetapi juga sebagai pembuat konten yang pendapatannya dari internet jauh melampaui hasil saat musim paceklik. Nick Welker bersama keluarganya bisa meraup ratusan ribu dolar dari YouTube, sedangkan dari bertani mereka pada masa sulit hanya memperoleh sekitar US$5.000 atau sekitar Rp80 juta.

Perubahan ini membuat keluarga petani itu menjadi contoh nyata bahwa pekerjaan di ladang dan bisnis digital bisa berjalan berdampingan. Bagi Welker, konten yang mereka buat bukan sekadar hiburan, melainkan sumber pemasukan yang membantu menutup tekanan ketika harga panen lemah dan kekeringan berkepanjangan menghantam banyak lahan pertanian di Amerika Serikat.

Nick Welker adalah generasi keempat yang menggarap tanah keluarga di Montana. Ia bekerja bersama saudaranya, Scott, dan ayah mereka, Bob, di lahan operasional sekitar 12.000 hektar yang ditanami gandum, kacang polong, dan miju-miju.

Keluarga ini sudah lebih dari seabad tinggal dan bertani di Montana. Perjalanan mereka dimulai dari sebidang tanah rumput sederhana, lalu berkembang menjadi salah satu keluarga petani yang paling dikenal di media sosial.

Popularitas mereka tumbuh dari video-video yang awalnya hanya merekam rutinitas harian di kebun. Salah satu konten yang paling awal viral pada pertengahan 2010-an menampilkan restorasi traktor Big Bud, mesin besar yang punya banyak penggemar di kalangan pencinta traktor.

Dari sana, media sosial berubah menjadi aliran pendapatan baru. Keluarga Welker memonetisasi kanal mereka lewat iklan, kerja sama merek, dan penjualan produk sendiri.

Menurut perhitungan Welker, bisnis media sosial mereka kini memberi hasil tahunan yang signifikan. Ia menyebut usaha itu menghasilkan sekitar US$5 untuk setiap US$1 yang diinvestasikan pada peralatan, kamera, dan editor video.

Sumber pemasukan tersebut datang dari beberapa jalur. Iklan YouTube di video mereka menghasilkan ribuan dolar per tahun, sementara merek traktor seperti Case IH juga membayar mahal agar produknya tampil di kanal Welker.

Selain itu, keluarga ini menjual topi dan sweatshirt bermerek Welker Farms. Popularitas mereka membuat tawaran endorsement berbayar terus berdatangan, tetapi Welker mengaku menolak banyak di antaranya, termasuk iklan pakaian dalam dan ajakan tampil di acara reality show TV.

Pengikut mereka juga terus bertambah di berbagai platform. Keluarga Welker kini memiliki lebih dari satu juta pengikut gabungan, sebuah capaian yang memperkuat posisi mereka di dunia konten pertanian.

Dampak uang dari internet terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa tahun terakhir, Nick dan Scott berhasil mengumpulkan cukup modal untuk pindah dari rumah kontainer ganda ke rumah baru.

Namun, ketenaran itu juga membawa konsekuensi di lingkungan sekitar. Di Shelby, kota kecil dengan sekitar 3.300 penduduk, keluarga Welker menjadi sosok yang menonjol dan tak lepas dari perhatian publik.

Mereka kerap didatangi penggemar yang sengaja berbelok ke jalan masuk rumah saat musim panas, terutama wisatawan yang sedang menuju Taman Nasional Glacier. Banyak dari mereka datang untuk berbincang soal traktor dan melihat pertanian itu dari dekat.

Setelah seorang penggemar digigit anjing pertanian, keluarga ini memasang papan kayu yang menegaskan kunjungan hanya diterima dengan janji temu. Bagi mereka, kedekatan dengan penggemar harus tetap diatur agar kehidupan keluarga dan pekerjaan di lahan tidak terganggu.

Di kalangan pengikut, Nick dijuluki “Hollywood” karena aksinya di depan kamera, sedangkan Scott dikenal sebagai “Leg Arms” karena tubuhnya yang besar. Julukan itu ikut memperkuat citra mereka sebagai keluarga petani yang berhasil menyeberang ke dunia digital.

Meski begitu, Welker menilai momentum media sosial keluarga mereka mulai melambat setelah lebih dari satu dekade aktif. Ia kini hanya mengunggah konten dua kali seminggu, bukan lagi setiap hari, karena tanggung jawab pertanian dan keluarga yang makin besar.

Penayangan video juga menurun, sementara kemitraan paling menguntungkan Welker Farms sudah berakhir. Mereka bahkan tidak menerima surat penggemar terakhir selama sepekan, sesuatu yang menandakan perubahan ritme perhatian publik.

Welker menyatakan sejak awal sudah paham bahwa sorotan internet tidak akan bertahan selamanya. Karena itu, keluarga ini mulai menyiapkan langkah lain dengan menggunakan uang dari media sosial untuk membeli properti sewaan di daerah pegunungan dan mempertimbangkan investasi properti tambahan.

Di tengah rencana itu, Welker tetap realistis soal masa depan. Ia menegaskan tidak melihat ada pendapatan luar pertanian tradisional yang bisa menandingi hasil yang mereka peroleh secara daring, meski ia berharap sektor pertanian ikut bangkit ketika perhatian publik pada keluarga mereka akhirnya memudar.

Source: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait