1,3 GW PLTS Atap Tercapai, Target 100 GW Kian Realistis Dengan Dukungan PLN dan Pemerintah

Author: Redaksi Android62

Target pengembangan PLTS nasional kini mengarah ke kisaran 80 GW hingga 100 GW, dan capaian kapasitas PLTS atap yang sudah menembus 1,3 GW menjadi salah satu penanda bahwa pasar energi surya mulai bergerak lebih serius. Pemerintah menilai pertumbuhan ini bukan sekadar tambahan daya listrik, tetapi juga bagian dari pembentukan ekosistem energi bersih yang lebih luas di dalam negeri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama PT PLN (Persero) dan Asosiasi Energi Surya Indonesia atau AESI mendorong percepatan tersebut melalui rangkaian Road to IndoSolar 2026. Langkah ini memperlihatkan bahwa energi surya semakin mendapat tempat, baik dari sisi kebijakan maupun dari sisi pemanfaatan di lapangan.

Kapasitas naik cepat dalam waktu singkat

Dalam lima tahun terakhir, PLTS atap di Indonesia menunjukkan lonjakan yang sangat tajam. Kapasitas terpasang yang semula 146 MW kini sudah mencapai 1,3 GW pada April 2026, atau hampir 10 kali lipat lebih besar.

Peningkatan ini terjadi karena PLTS atap dinilai praktis dan fleksibel. Teknologi ini bisa dipasang di rumah tangga, bangunan komersial, UMKM, hingga industri besar tanpa memerlukan lahan luas seperti pembangkit konvensional.

Ruang pengembangan masih sangat besar

Meski capaian 1,3 GW sudah menjadi tonggak penting, potensi energi surya nasional masih jauh lebih besar. Riset IESR 2025 mencatat ada potensi 165,9 GW untuk PLTS darat dan 38,13 GW untuk instalasi PLTS terapung.

Data itu menunjukkan bahwa pemanfaatan energi matahari di Indonesia masih berada pada tahap awal dibandingkan ruang yang tersedia. Karena itu, PLTS makin dipandang sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional, bukan sekadar proyek kelistrikan biasa.

AESI menilai model energi terdesentralisasi seperti PLTS atap memberi manfaat ganda. Selain membantu menekan emisi karbon, pengembangannya juga dinilai bisa memperkuat rantai pasok manufaktur lokal dan membuka lapangan kerja hijau.

Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menegaskan bahwa energi surya kini sudah masuk ke level kebutuhan strategis nasional. “Capaian ini menunjukkan bahwa energi surya bukan lagi potensi, tetapi sudah menjadi kebutuhan strategis nasional,” ujarnya.

Arah kebijakan pemerintah dan efek ekonominya

Pemerintah tidak hanya menargetkan pertumbuhan kapasitas, tetapi juga mendorong pasar dalam negeri agar ikut tumbuh sehat. Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa fokus target 80 GW hingga 100 GW itu mencakup pembentukan permintaan di dalam negeri.

Menurut Eniya, pasar yang kuat akan membantu industri energi surya berkembang lebih berkelanjutan. Ia juga menyebut target tersebut berpeluang menciptakan sedikitnya 760.000 pekerjaan baru di sektor energi bersih.

Pemerintah juga ingin memperluas pemakaian teknologi fotovoltaik ke lebih banyak lokasi. Selain di atap bangunan, instalasi juga diharapkan bisa menjangkau ground mounted di koperasi desa, puskesmas, dan sarana pendukung kendaraan listrik.

PLN buka akses yang lebih mudah

Dari sisi layanan, PLN ikut memperkuat percepatan penggunaan PLTS atap. Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menyebut capaian 1,3 GW sebagai langkah penting untuk memperluas pemanfaatan energi surya di berbagai sektor.

PLN juga sudah mengintegrasikan fitur perizinan PLTS atap ke dalam aplikasi PLN Mobile. Fitur ini dirancang agar pengajuan dan pemantauan permohonan menjadi lebih mudah, transparan, dan cepat bagi pelanggan.

Adi menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen PLN menjalankan amanat Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024. Kebijakan itu juga diarahkan untuk mempercepat pemanfaatan PLTS Atap On-Grid di Indonesia.

Ekosistem industri ikut menguat

Perkembangan PLTS atap juga ditopang oleh ekosistem industri yang makin matang. AESI saat ini menaungi sekitar 135 anggota dari berbagai sektor, mulai dari manufaktur, pengembang proyek, penyedia teknologi, hingga institusi keuangan dan lembaga sertifikasi energi.

Forum seperti National Solar Transition Forum 2026 juga ikut memperkuat ruang diskusi lintas pemangku kepentingan. Ajang yang digelar pada 21-22 April itu membahas kebijakan, investasi, dan praktik terbaik dari Thailand, India, serta Pakistan sebagai referensi percepatan transisi energi surya di Indonesia.

Dengan kapasitas yang sudah menembus 1,3 GW, arah pengembangan energi surya nasional kini terlihat makin jelas. Dukungan kebijakan pemerintah, kemudahan akses dari PLN, dan penguatan ekosistem industri menjadi tiga penopang utama yang akan menentukan seberapa cepat Indonesia bergerak menuju ambisi 80 GW hingga 100 GW.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru