Dua personel militer Amerika Serikat tewas dan satu lainnya masih hilang setelah serangan Iran di Yordania pada Jumat (17/7/2026). Peristiwa ini membuat jumlah personel AS yang tewas sejak konflik dimulai naik menjadi 16 orang.
Amerika Serikat merespons serangan tersebut dengan gelombang serangan udara ke Iran pada Sabtu (18/7/2026). Operasi itu menjadi serangan malam kedelapan berturut-turut di tengah konflik yang kembali meluas di kawasan Timur Tengah.
Komando Pusat AS atau Centcom menyatakan operasi dimulai pukul 18.00 waktu setempat atas perintah Presiden Donald Trump. Menurut Centcom, serangan itu merupakan respons cepat terhadap serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC terhadap personel AS di Yordania.
Korban dan Serangan di Berbagai Lokasi
Selain 16 personel yang tewas, Centcom melaporkan lebih dari 420 personel AS mengalami luka-luka selama konflik berlangsung. Satu anggota militer AS masih dinyatakan hilang setelah serangan terbaru di Yordania.
| Peristiwa | Lokasi | Keterangan |
|---|---|---|
| Serangan terhadap personel AS | Yordania | Dua personel tewas dan satu anggota hilang |
| Serangan udara AS | Iran selatan dan barat daya | Menyasar pengawasan pesisir serta pertahanan udara |
| Serangan Iran terhadap aset AS | Kuwait, Bahrain, dan Yordania | Menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak |
Centcom menyebut target utama operasi AS adalah kemampuan Iran yang dinilai dapat mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Fasilitas pengawasan pesisir dan sistem pertahanan udara militer Iran juga menjadi sasaran serangan.
Mehr News Agency melaporkan serangan AS terjadi di dekat Sirik, Iran selatan, tanpa laporan korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur. Tasnim News Agency juga menyebut lokasi dekat Shadegan, tidak jauh dari perbatasan Iran-Irak, menjadi target serangan militer AS.
Iran Klaim Menyerang Aset Militer AS
Iran menyatakan telah melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. IRGC juga mengklaim menyerang pusat dukungan militer AS di Kamp Arifjan serta menghancurkan fasilitas radar di Ali Al Salem.
Militer Kuwait menyatakan pihaknya berhasil mencegat rudal balistik dan pesawat nirawak Iran yang kembali mengarah ke wilayahnya pada Sabtu. Sejumlah petugas pemadam kebakaran dan pekerja sektor minyak dilaporkan terluka ketika menangani dampak serangan tersebut.
Kuwait Petroleum Corporation menyatakan salah satu fasilitas minyaknya rusak akibat serangan Iran yang berulang. Media Iran juga melaporkan IRGC menyerang pangkalan Sheikh Isa di Bahrain yang digunakan pesawat tempur AS dan sebuah pusat data intelijen.
Iran turut mengklaim serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap pangkalan militer AS di Al Azraq, Yordania, menghancurkan sedikitnya dua pesawat tempur serta merusak tiga lainnya. Reuters belum dapat memverifikasi klaim itu secara independen.
Gencatan Senjata Runtuh dan Risiko Energi Meningkat
Konflik kembali meningkat setelah gencatan senjata sementara yang disepakati sekitar satu bulan sebelumnya runtuh pada pekan lalu. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan kematian personelnya justru memperkuat tekad Washington.
Iran menilai serangan AS terhadap jembatan, fasilitas kelistrikan, dan infrastruktur lain telah memperluas konflik ke sejumlah negara kawasan. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan dalam pernyataan tertulis melalui media pemerintah bahwa tanda tangan Donald Trump “tidak lagi memiliki kredibilitas”.
Di Arab Saudi, sistem peringatan dini meminta warga Al-Kharj dan Yanbu segera berlindung setelah muncul laporan serangan rudal Iran. Dua sumber yang mengetahui peristiwa itu menyebutnya sebagai serangan pertama terhadap Arab Saudi dalam lebih dari tiga bulan, meski IRGC tidak mencantumkannya dalam pernyataan resmi.
Departemen Luar Negeri AS kemudian mengeluarkan peringatan perjalanan global bagi warga negaranya di luar negeri. Washington mengingatkan ketegangan di Timur Tengah dapat memicu pembatalan penerbangan dan penutupan ruang udara secara berkala.
Konflik yang bermula pada akhir Februari 2026 saat AS dan Israel menyerang Iran kini turut mengganggu pasokan energi global. Perebutan kendali atas Selat Hormuz memperbesar risiko gangguan pelayaran di jalur energi penting dunia serta tekanan inflasi.
