167 Rumah Kosong Di Jepang Dibobol, Jejak Tiga Warga Thailand Terungkap Dari Taman Tak Terawat

Author: Redaksi Android62

Polisi di Prefektur Ibaraki, Jepang, menyerahkan tiga pria warga Thailand berusia 30-an tahun ke jaksa setelah mereka diduga terlibat dalam pembobolan 167 rumah kosong di berbagai wilayah. Dari rangkaian aksi itu, nilai kerugian diperkirakan mencapai sekitar 20 juta yen atau sekitar Rp2,28 miliar.

Yang membuat kasus ini menonjol bukan hanya jumlah rumah yang menjadi sasaran, tetapi juga cara para pelaku memilih target. Polisi menyebut mereka berkeliling dengan mobil dan mengamati rumah-rumah yang tampak tidak berpenghuni, terutama dari taman yang tidak terawat atau area parkir yang kosong.

Jejak awal yang membuka rangkaian besar

Kasus ini berawal dari penangkapan ketiga pria tersebut pada Juli tahun lalu. Saat itu, mereka diduga membobol sebuah rumah di Kota Hokota, Prefektur Ibaraki, dalam peristiwa yang disebut terjadi saat Tahun Baru 2024.

Dalam dugaan pencurian awal itu, mereka disebut membawa kabur uang tunai sekitar 170 ribu yen dan sejumlah barang lain. Penyelidikan kemudian berkembang jauh lebih besar dan mengarah pada pola pembobolan yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Ratusan aksi dalam delapan bulan

Aparat menduga ada sedikitnya 167 aksi pencurian yang dilakukan selama delapan bulan, mulai akhir Oktober 2024 hingga Juli 2025. Seluruh rangkaian itu tidak terjadi di satu wilayah saja, melainkan tersebar di 11 prefektur di Jepang.

Ibaraki menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Polisi mendata 138 kejadian terjadi di prefektur tersebut, sementara sisanya tersebar di daerah lain seperti Osaka dan Hyogo.

Barang bernilai tinggi ikut diambil

Selain uang tunai, rumah-rumah yang dibobol juga diduga kehilangan barang bernilai tinggi. Polisi menyebut total uang yang dicuri mencapai sekitar 6,4 juta yen.

Kerugian lain datang dari barang seperti jam tangan, perhiasan, dan perangkat audio yang diperkirakan bernilai 17,6 juta yen. Jika digabung, total kerugian dari seluruh rangkaian itu mencapai sekitar 20 juta yen.

Cara memilih rumah yang dianggap aman

Dalam pemeriksaan, para tersangka mengaku memilih sasaran dengan melihat kondisi rumah dari luar. Rumah yang memiliki halaman depan tidak terawat dan parkiran kosong dianggap lebih mungkin ditinggal penghuninya.

Pola sederhana itu dinilai efektif karena tidak langsung menarik perhatian warga sekitar. Dengan cara berkeliling dan mengamati lingkungan rumah, mereka diduga dapat menentukan target tanpa banyak mencolok di jalan.

Penyelidikan masih berlanjut

Polisi masih mengembangkan kasus ini untuk memastikan apakah ada pihak lain yang terlibat. Aparat juga belum menutup kemungkinan adanya jaringan kejahatan lintas wilayah yang membantu operasi pembobolan tersebut.

Rangkaian 167 pembobolan ini menunjukkan bagaimana tanda-tanda kecil di sekitar rumah bisa dimanfaatkan untuk membaca peluang kejahatan. Penyelidikan kini terus berfokus pada kemungkinan hubungan yang lebih luas di balik aksi yang tersebar di banyak prefektur itu.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru