Sebuah tanker minyak Jepang akhirnya berhasil mendaratkan muatannya di Aichi setelah melewati jalur yang sempat membuat banyak kapal tertahan di kawasan Teluk Persia. Kapal itu membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah, jumlah yang setara dengan sekitar 80% kebutuhan minyak harian domestik Jepang.
Kedatangan muatan besar ini langsung menjadi perhatian karena pasokan energi Jepang sangat bergantung pada jalur pelayaran di kawasan tersebut. Saat ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat, Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif bagi arus minyak dunia.
Tanker tersebut adalah Idemitsu Maru, kapal berbendera Panama yang dioperasikan oleh anak usaha Idemitsu Kosan Co. Kapal ini memiliki panjang lebih dari 300 meter dan sempat sudah memasuki Teluk Persia sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai.
Setelah memuat minyak mentah di Arab Saudi, kapal itu mulai berlayar pada awal Maret ketika selat diblokade. Perjalanannya tidak berjalan mulus karena kapal sempat tertahan di lepas pantai Abu Dhabi sebelum akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz pada 28 April.
Seluruh awak kapal dilaporkan dalam kondisi sehat. Di antara mereka terdapat tiga warga negara Indonesia yang ikut dalam pelayaran menuju Jepang.
Situasi di kawasan itu membuat Jepang menaruh perhatian besar pada keamanan jalur pelayaran. Iran secara efektif menutup Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik regional, dan Jepang meminta Teheran memastikan jalur tersebut tetap bebas serta aman bagi kapal dari semua negara.
Permintaan itu menunjukkan besarnya ketergantungan Jepang pada rute tersebut untuk menjaga pasokan energi. Kondisi ini juga menjelaskan mengapa masih banyak kapal lain yang tertahan di kawasan Teluk Persia ketika Idemitsu Maru akhirnya bisa keluar.
Sumber terkait menyebut kapal itu tidak membayar biaya transit kepada Iran. Setelah meninggalkan Teluk Persia, kapal tersebut melintasi perairan India dan Selat Malaka sebelum akhirnya tiba di Jepang.
Kedatangan tanker ini memberi sinyal bahwa sebagian pengiriman minyak masih dapat bergerak meski keamanan di Selat Hormuz belum stabil. Bagi Jepang, jalur itu tetap menjadi perhatian utama karena gangguan sekecil apa pun dapat memengaruhi arus energi domestik.
Pergerakan kapal lain juga terus dipantau. Tanker milik Eneos Holdings Inc. dilaporkan melintasi Selat Hormuz pada pertengahan Mei 2026 dan diperkirakan tiba di Jepang antara akhir Mei hingga awal Juni 2026.
