20 Perusahaan Jepang Masuk Kontrol Ekspor China, Sinyal Pengetatan Makin Keras

Author: Redaksi Android62

China kembali memperketat pengawasan atas barang berteknologi guna ganda dengan memasukkan 20 perusahaan dan lembaga asal Jepang ke dalam daftar pengendalian ekspor. Status itu membuat eksportir China tidak boleh menyalurkan barang atau jasa kepada entitas yang tercantum tanpa persetujuan lebih dulu.

Dalam pengumuman Kementerian Perdagangan China Nomor 28 Tahun 2026, pembatasan itu berdampak langsung pada akses izin ekspor. Pelaku usaha yang ingin mengirim barang guna ganda ke entitas dalam daftar tidak bisa mengajukan izin umum dan juga tidak dapat memperoleh dokumen ekspor melalui mekanisme pendaftaran serta pengisian informasi.

Daftar 20 entitas Jepang yang dibatasi

Nama-nama yang masuk daftar mencakup perusahaan dari sektor industri, teknologi, hingga energi nuklir. Pembatasan ini menambah ketat jalur perdagangan untuk komponen dan produk tertentu yang dinilai sensitif oleh Beijing.

Entitas Jepang Bidang yang Tersirat Status
MITSUI E&S Co Ltd. Industri Kontrol ekspor
Mitsui Bussan Aerospace Co Ltd Maintenance Center Kedirgantaraan Kontrol ekspor
Terra Drone Corporation Teknologi drone Kontrol ekspor
ACSL Ltd. Teknologi drone Kontrol ekspor
Mitsubishi Nuclear Fuel Co Ltd. Energi nuklir Kontrol ekspor
Japan Nuclear Fuel Limited Energi nuklir Kontrol ekspor
Fujitsu Network Solutions Limited Jaringan dan teknologi Kontrol ekspor
Hitachi Advanced Systems Corporation Sistem canggih Kontrol ekspor
Komatsu Industries Corporation Industri Kontrol ekspor
Komatsu NTC Ltd. Industri Kontrol ekspor
OKI Electric Industry Co Ltd. Elektronik Kontrol ekspor
OKI Com-Echoes Co Ltd. Elektronik Kontrol ekspor
OKI Circuit Technology Co Ltd. Elektronik Kontrol ekspor
OKI Nextech Co Ltd. Teknologi Kontrol ekspor
OKI Engineering Co Ltd. Teknik Kontrol ekspor
YDK Technologies Co Ltd. Teknologi Kontrol ekspor
Nihon Denji Sokki Co Ltd. Peralatan industri Kontrol ekspor
Howa Machinery Ltd. Mesin Kontrol ekspor
Hosoya Pyro-Engineering Co. Rekayasa Kontrol ekspor
The Fujikura Parachute Co Ltd. Perlengkapan khusus Kontrol ekspor

Syarat tambahan untuk ekspor tetap bisa diproses

Jika eksportir China tetap ingin mengirim barang ke perusahaan atau lembaga yang masuk daftar, mereka wajib menyampaikan laporan penilaian risiko terhadap entitas terkait. Selain itu, diperlukan komitmen tertulis bahwa barang yang diekspor tidak akan dipakai untuk tujuan yang dapat meningkatkan kemampuan militer Jepang.

Aturan itu membuat proses perdagangan untuk barang tertentu menjadi lebih ketat dari sebelumnya. Meski demikian, pemerintah China menegaskan bahwa perdagangan normal yang mematuhi hukum tidak akan terdampak.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut kebijakan tersebut dijalankan sesuai ketentuan hukum. Ia mengatakan tindakan itu hanya menyasar sebagian kecil entitas di Jepang dan secara khusus menargetkan barang dual-use.

Guo juga menyatakan langkah itu sah dan ditujukan untuk membatasi apa yang dipandang Beijing sebagai kecenderungan neomiliterisme Jepang. Ia berharap Tokyo mengubah sikapnya, memperbaiki kesalahan, dan kembali ke jalur yang dianggap benar oleh China.

Di saat yang sama, Guo menekankan bahwa pembatasan ini tidak ditujukan untuk mengganggu hubungan bisnis normal antara kedua negara. “Entitas Jepang tidak perlu khawatir selama mereka beroperasi dengan iktikad baik dan mematuhi hukum,” ujarnya.

Pola pembatasan yang sudah berulang

Langkah terbaru ini bukan yang pertama. Sejak Januari 2026, Beijing telah membatasi ekspor barang berteknologi guna ganda kepada sejumlah perusahaan Jepang, termasuk pasokan unsur tanah jarang dan mineral penting lain yang disebut berpotensi digunakan dalam teknologi pertahanan.

Pada Februari 2026, China juga memasukkan 20 entitas Jepang lainnya ke dalam daftar serupa. Di antaranya terdapat IHI Corp, Kawasaki Heavy Industries, Subaru Corp, TDK Corp, dan FUJI Aerospace Technology.

Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan China semakin selektif dalam mengawasi aliran barang yang dinilai sensitif. Namun, Beijing tetap menyampaikan bahwa hubungan bisnis normal dengan Jepang masih dapat berjalan selama aturan dipatuhi dan tidak ada pelanggaran terhadap ketentuan pengendalian ekspor.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru