20 Ruang Belajar Berdiri Dalam Tiga Hari di UMNU Kebumen, Cara Baru Membangun Kampus

Dalam tiga hari, UMNU Kebumen berhasil menuntaskan pembangunan 20 ruang belajar melalui Kampus Modular. Langkah ini langsung menarik perhatian karena menghadirkan cara baru membangun fasilitas pendidikan dengan waktu pengerjaan yang jauh lebih singkat dari konstruksi biasa.

Inovasi tersebut menjadi sorotan saat kampus menggelar Seminar Nasional bertema “Pendidikan Nasional Bermutu Melalui Penguatan Profesionalisme Guru di Era Smart Society 5.0” pada Senin (25/5/2026). Acara ini mempertemukan pembahasan soal transformasi pendidikan dengan contoh nyata pembaruan infrastruktur di lingkungan kampus.

Rektor UMNU Kebumen, Imam Satibi, menyebut penggunaan bangunan modular di kampusnya menempatkan UMNU Kebumen sebagai salah satu pelopor pemanfaatan sistem itu di lingkungan perguruan tinggi Indonesia. Ia juga mengatakan bahwa penerapan bangunan modular di kampus tersebut menjadi yang mengawali dan mungkin pertama di Indonesia.

Pilihan konstruksi modular diambil karena dinilai lebih efisien dari sisi anggaran dan waktu pengerjaan. Dibandingkan pembangunan konvensional yang umumnya memakan waktu berbulan-bulan, sistem ini memberi kecepatan tanpa mengabaikan kebutuhan dasar bangunan.

Kecepatan itu terlihat jelas dari hasil di lapangan. Dalam tiga hari, 20 ruang belajar sudah berdiri untuk mendukung kegiatan akademik yang tetap berjalan.

Meski prosesnya singkat, kampus tetap menempatkan kenyamanan dan keamanan sebagai prioritas utama. Dua hal itu disebut sebagai syarat penting dalam pengembangan ruang belajar yang dipakai mahasiswa.

Pembangunan ruang belajar secara modular juga memperlihatkan bahwa inovasi infrastruktur dapat berjalan seiring dengan kebutuhan operasional kampus. Model ini membuka pilihan baru dalam penyediaan fasilitas pendidikan tanpa harus menunggu proses konstruksi yang panjang.

Peluncuran Kampus Modular tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik. Seminar nasional yang menyertainya juga membahas kesiapan sumber daya manusia pendidikan dalam menghadapi era digital dan Society 5.0.

Ratusan peserta mengikuti forum itu secara luring dan daring. Sekretaris Ditjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Suparto, hadir sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Suparto menyinggung masih adanya kesenjangan penguasaan teknologi di kalangan tenaga pendidik. Ia menyebut ada guru yang sudah sangat terampil memakai alat canggih, tetapi masih banyak yang belum mampu memanfaatkan teknologi informasi secara optimal dalam pembelajaran.

Suparto juga menekankan bahwa teknologi di era Society 5.0 tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut dia, peran guru kini tidak lagi sebatas penyampai materi, melainkan juga fasilitator, inspirator, dan dinamisator pembelajaran.

Karena itu, prinsip belajar sepanjang hayat perlu terus diterapkan oleh para pendidik. Suparto mengapresiasi langkah UMNU Kebumen yang memadukan transformasi digital dengan inovasi pembangunan fisik melalui konsep Kampus Modular.

Ia menegaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan terus mendukung ruang-ruang diskusi akademik. Dukungan itu diarahkan untuk memperkuat kesiapan dunia pendidikan menghadapi kebutuhan masa depan tanpa meninggalkan nilai moral dan budaya.

Kombinasi antara bangunan modular dan pembahasan profesionalisme guru membuat UMNU Kebumen menampilkan dua wajah pembaruan sekaligus. Dari kampus ini, pesan yang muncul jelas: perubahan pendidikan tidak hanya terjadi di kelas dan kurikulum, tetapi juga pada cara ruang belajar dibangun.

Source: jateng.nu.or.id

Berita Terkait