Sebanyak 250 siswa RAFA International Dance School menyatukan tari Gantar, Jaipong, Piring, dan Saman dalam satu panggung kolosal. Sajian itu juga memadukan warisan tari Nusantara dengan jazz, hip-hop, serta balet kontemporer.
Pertunjukan tersebut menunjukkan pertemuan dua bahasa gerak yang berbeda tanpa menghilangkan posisi tari daerah dalam rangkaian acara. Panggung bertajuk GROWTH: Growing into RAFA, Our Way Through Heritage itu digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Sabtu (18/7).
Empat Tari dari Daerah Berbeda
Keempat tarian yang dibawakan berasal dari wilayah berbeda di Indonesia. Media Indonesia mencatat, ragam gerak itu menjadi bagian dari pertunjukan yang melibatkan seluruh siswa RAFA International Dance School.
Setiap tari membawa latar budaya masing-masing, lalu ditempatkan dalam komposisi pertunjukan yang sama. Penyajiannya menghubungkan kekayaan tradisi daerah dengan eksplorasi gerak yang dipelajari para siswa.
| No. | Tarian | Daerah Asal |
|---|---|---|
| 1 | Tari Gantar | Kalimantan Timur |
| 2 | Tari Jaipong | Jawa Barat |
| 3 | Tari Piring | Sumatera Barat |
| 4 | Tari Saman | Aceh |
Tari Gantar dari Kalimantan Timur hadir bersama Tari Jaipong dari Jawa Barat, Tari Piring dari Sumatera Barat, dan Tari Saman dari Aceh. Unsur jazz, hip-hop, serta balet kontemporer melengkapi rangkaian tanpa meniadakan keberadaan tiap tari tradisional.
Perpaduan itu menjadi bagian dari konsep Tarian Raya di Balik Hutan Nusantara. Konsep tersebut memakai pohon sebagai metafora pertumbuhan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari akar.
Pohon sebagai Gambaran Pertumbuhan
Gagasan tentang akar menghubungkan perjalanan belajar siswa dengan warisan budaya Indonesia. Dalam setiap babak, tari dari sejumlah daerah tampil berdampingan dengan gerak kontemporer.
RAFA International Dance School memasuki usia ke-13 saat menggelar pertunjukan tahunan ini. Pementasan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk memperlihatkan pengembangan kemampuan mereka melalui karya tari.
Founder RAFA International Dance School, Nevine, menempatkan proses latihan sebagai perhatian utama dalam tema GROWTH. Menurutnya, pertumbuhan tidak hanya diukur dari hasil akhir pementasan.
“GROWTH itu bertumbuh. Bertumbuh itu tentang proses,” kata Nevine dalam konferensi pers GROWTH di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (18/7).
Ia menambahkan, “Kami selalu mengedepankan bukan tentang hasil tapi lebih kepada para siswa menjalani setiap proses, dari yang tadinya belum bisa, jadi bisa.” Pernyataan itu menegaskan fokus sekolah pada perjalanan belajar para peserta.
Pelestarian yang Dihidupkan Generasi Muda
GROWTH lahir dari kolaborasi RAFA International Dance School dan Yayasan Raya Budaya Nusantara. Yayasan tersebut merupakan organisasi nirlaba yang berkomitmen pada pelestarian budaya Indonesia melalui pengarsipan digital dan pemberdayaan pelaku budaya.
Ketua Yayasan Raya Budaya Nusantara, Teuku Rassya, menilai budaya sebagai akar identitas bangsa. Ia menekankan pentingnya pelestarian yang hadir dalam kehidupan generasi muda.
“Kami percaya bahwa budaya adalah akar identitas bangsa. Kolaborasi dengan RAFA adalah wujud nyata dari keyakinan itu bahwa pelestarian budaya paling efektif terjadi ketika ia hidup di dalam diri generasi muda, bukan hanya tersimpan di arsip,” ungkap Teuku Rassya.
Melalui panggung GROWTH, siswa mempelajari gerak modern sambil membawa tari dari berbagai daerah ke hadapan penonton. Kolaborasi itu menempatkan pertumbuhan artistik dan pijakan pada warisan budaya Nusantara dalam satu pertunjukan.
Source: mediaindonesia.com






