27 Ribu Warung Pangan Disiapkan, Pedagang Diminta Tahan Harga saat Pasar Bergejolak

Author: Redaksi Android62

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD menyiapkan sekitar 27 ribu Warung Pangan untuk membantu menahan gejolak harga komoditas. Mitra program ini akan memperoleh pasokan dengan harga lebih rendah, tetapi wajib menjual barang sesuai Harga Eceran Tertinggi atau HET.

Skema tersebut menempatkan pedagang pasar sebagai titik pengendalian harga di level ritel. Ketika harga pasar melonjak, pedagang yang telah menerima pasokan murah tidak diperbolehkan menaikkan harga melewati batas yang ditetapkan.

Direktur Utama ID FOOD Ghimoyo menjelaskan ketentuan itu menjadi penting saat terjadi kenaikan harga yang tajam. “Misalnya ada terjadi gejolak tinggi, dia nggak boleh naikin karena dari kita harganya udah cukup murah,” ujar Ghimoyo.

Pasokan Langsung untuk Memendekkan Distribusi

Warung Pangan dirancang sebagai bagian dari ekosistem distribusi pangan nasional yang lebih pendek. Akses pasokan yang lebih langsung diharapkan dapat mengurangi tekanan harga yang selama ini ditanggung konsumen.

Pedagang pasar tradisional diposisikan bukan hanya sebagai penerima barang untuk dijual kembali. Mereka menjadi mitra utama dalam upaya menjaga komoditas tetap tersedia dan terjangkau saat pasar mengalami tekanan.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki infrastruktur pasar yang luas. Jaringan pasar tradisional tersebut tersebar di 514 kabupaten dan kota, meski banyak pedagang belum memperoleh barang langsung dari sumber pasokan.

Keterbatasan akses itu membuat jalur barang menjadi lebih panjang sebelum sampai ke pembeli akhir. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga di tingkat masyarakat ketika pasokan terganggu atau permintaan meningkat.

Alternatif terhadap Operasi Pasar Skala Besar

Hanif mengatakan jaringan Warung Pangan dapat menjadi instrumen stabilisasi harga tanpa pemerintah terus mengandalkan operasi pasar berskala besar. Pemerintah ingin memakai infrastruktur pasar tradisional yang telah tersedia ketika harga komoditas mulai bergejolak.

Menurut Medcom.id, intervensi melalui pedagang dinilai dapat menjangkau masyarakat secara lebih langsung. Pola ini berbeda dari penyelenggaraan pasar murah yang perlu dilakukan berulang kali pada lokasi tertentu.

Peluncuran program Warung Pangan berlangsung di Pasar Tebet Timur, Jakarta, pada Senin, 20 Juli 2026. Dalam kesempatan itu, Hanif menyebut ID FOOD memegang dua agenda, yakni menjaga stabilitas serta keterjangkauan pangan dan menjalankan usaha perdagangan pangan.

Pembagian Peran dengan KDKMP

Warung Pangan diposisikan sebagai pelengkap Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau KDKMP. Kedua jaringan itu memiliki sasaran distribusi yang berbeda agar penyaluran barang subsidi dan stabilisasi komoditas komersial dapat berjalan bersamaan.

Jaringan Fokus Peran Sasaran Utama
Warung Pangan Stabilisasi harga komoditas di luar barang subsidi Pedagang pasar
KDKMP Penyaluran barang subsidi pemerintah Koperasi desa dan kelurahan

Ghimoyo menyatakan KDKMP akan berfokus pada penyaluran barang subsidi pemerintah. Sementara ID FOOD menjalankan mandat stabilisasi harga komoditas di luar kelompok barang tersebut melalui jaringan Warung Pangan.

Kolaborasi itu juga membuka ruang bagi ID FOOD untuk menjadi agregator pasokan dari desa-desa tertentu. Barang yang dihimpun dari berbagai sumber dapat diolah sesuai kondisi pasokan yang tersedia.

Warung Pangan tidak hanya akan menyalurkan komoditas yang memperoleh subsidi pemerintah. Jaringan tersebut juga disiapkan untuk menjual produk komersial yang memiliki pengaruh terhadap inflasi.

Keberhasilan program akan bergantung pada kelancaran pasokan serta kepatuhan para pedagang terhadap HET. Dengan dua unsur itu, jaringan warung dapat berfungsi sebagai saluran perdagangan sekaligus penahan gejolak harga di tingkat konsumen.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru