300 Anak Papua Masuki Jalur Pembinaan Timnas, Freeport Dan PSSI Perkuat Fondasi Di Jayapura

Author: Redaksi Android62

Lebih dari 300 anak dari kategori U-10 dan U-12 turun di Stadion Mandala, Jayapura, dalam Freeport Grassroots Tournament yang digelar PSSI bersama PT Freeport Indonesia. Ajang ini langsung menegaskan bahwa pembinaan sepak bola usia dini di Papua masih berjalan dan tetap dipandang sebagai jalur penting menuju level yang lebih tinggi.

Turnamen tersebut tidak hanya menjadi ruang bertanding, tetapi juga pintu awal untuk membentuk fondasi pemain muda sejak usia dini. Di tengah perhatian terhadap perkembangan sepak bola nasional, Jayapura kembali muncul sebagai tempat yang terus melahirkan bibit potensial.

Pembinaan tidak berhenti di hasil akhir

PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia mendorong turnamen ini sebagai wadah yang memadukan aspek teknis dan pendidikan karakter. Karena itu, anak-anak tidak hanya diarahkan untuk mengejar kemenangan, tetapi juga untuk menjalani proses belajar yang membentuk kebiasaan bermain sejak awal.

Pendekatan seperti ini membuat kompetisi usia muda memiliki nilai lebih besar daripada sekadar skor pertandingan. Di lapangan, para pemain mendapat ruang untuk mengenal teknik dasar, merasakan atmosfer kompetitif, dan membangun disiplin yang dibutuhkan dalam pembinaan jangka panjang.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai dukungan sponsor berperan penting dalam menjaga ekosistem sepak bola nasional dari level dasar. Ia menyebut kepercayaan dari mitra seperti Freeport memberi pengaruh positif terhadap perkembangan pemain muda Indonesia.

"Kepercayaan ini memperkuat komitmen PSSI untuk terus meningkatkan sepak bola usia dini. Kolaborasi ini memberi pengaruh positif yang nyata bagi perkembangan pemain muda kita," ujar Erick Thohir dalam keterangan resminya.

Papua tetap kuat sebagai sumber talenta

Bagi Papua, turnamen ini juga punya makna yang lebih luas karena wilayah tersebut terus dikenal sebagai lumbung pemain berbakat. Ketua PSSI Papua, Benhur Tomi Mano, menilai pembinaan yang dijalankan melalui akademi dan turnamen seperti ini sudah memberi hasil nyata.

Ia menyebut sejumlah pemain dari akademi binaan Freeport telah mendapat kesempatan menembus level internasional. Menurut dia, fakta tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan di Papua tidak berjalan sia-sia dan masih menyimpan banyak potensi yang perlu dijaga.

Benhur juga menekankan pentingnya peran orang tua agar proses pembinaan tidak terputus di tengah jalan. Dukungan keluarga dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan anak-anak terus berkembang dan tidak kehilangan arah dalam perjalanan mereka.

"Banyak pemain dari akademi Freeport sudah berkesempatan ke luar negeri. Ini bukti kontribusi nyata dalam mengembangkan sepak bola di Indonesia Timur. Kami harap orang tua terus mendukung potensi anak agar Papua bisa terus menyumbang bakat untuk kejayaan Indonesia," kata Benhur.

Nilai sportivitas ikut dipupuk sejak dini

Freeport menempatkan turnamen ini sebagai bagian dari visi pengembangan Papua melalui jalur olahraga. Senior Vice President Sustainable Development PTFI Nathan Kum menilai lapangan hijau bisa menjadi ruang efektif untuk menanamkan nilai dasar kepada anak-anak.

Nathan menegaskan bahwa pembinaan pemain muda tidak cukup hanya fokus pada kemampuan teknis. Menurut dia, sportivitas, fair play, dan respect harus tumbuh bersama dengan kualitas bermain agar karakter pemain juga berkembang.

"Kompetisi ini menjadi ruang penting bagi anak-anak untuk memahami nilai sportivitas, fair play, dan respect. Ini adalah fondasi utama pembentukan karakter mereka," tegas Nathan.

Jalur menuju tim nasional mulai terlihat

Hasil pembinaan di Papua perlahan terlihat dari jejak para alumni Papua Football Academy yang masuk radar tim nasional. Pada 2025, enam pemain dari jalur pembinaan itu dipanggil ke Timnas, lalu pada 2026 tiga siswa kembali terpilih mengikuti pemusatan latihan Timnas U-17 untuk AFC U-17 Asian Cup 2027.

Tiga pemain yang disebut dalam data itu adalah Stenly Meyanu, Yance Glen Imbiri, dan Dolfi Salossa. Capaian tersebut menegaskan bahwa jalur pembinaan di Papua tidak berhenti pada turnamen usia dini, melainkan terus mengalir sampai ke level yang lebih besar.

Format pertandingan dibuat ramah anak

Freeport Grassroots Tournament 2026 menggunakan format 7 lawan 7 dengan durasi 2 x 15 menit. Format itu dipilih agar pertandingan tetap kompetitif, namun tetap aman dan sesuai dengan kebutuhan pembinaan anak usia dini.

Penyelenggara juga memberi dukungan langsung kepada sekolah sepak bola peserta dengan membagikan sepatu sepak bola kepada seluruh SSB yang terlibat. Selain itu, tim yang menunjukkan sportivitas terbaik memperoleh penghargaan khusus sebagai bentuk apresiasi atas perilaku positif di lapangan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, PSSI dan Freeport menjaga ruang pembinaan yang menyatukan pertandingan, pendidikan karakter, dan dukungan fasilitas bagi anak-anak di Jayapura. Dengan ratusan peserta, pelatih, dan sekolah sepak bola yang ikut terlibat, jalur lahirnya talenta muda Papua tetap terbuka untuk menuju level yang lebih tinggi.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru