Membuka media sosial ketika tekanan meningkat memang dapat mengalihkan perhatian untuk sesaat, tetapi kebiasaan itu tidak selalu memulihkan kondisi emosi. Penggunaan pasif tanpa tujuan justru dapat membuat stres tertunda, sementara pikiran menerima rangsangan baru secara terus-menerus.
Risikonya bertambah ketika waktu yang dipakai untuk menggulir layar menggantikan aktivitas sederhana yang lebih mendukung pemulihan mood. Sejumlah temuan yang dirangkum Beautynesia menunjukkan lima pola scrolling yang perlu diperhatikan saat seseorang sedang lelah atau cemas.
| No. | Kebiasaan saat scrolling | Dampak yang dapat muncul |
|---|---|---|
| 1 | Menerima informasi tanpa henti | Kelelahan mental |
| 2 | Membandingkan diri dengan orang lain | Mood negatif dan tidak puas pada diri |
| 3 | Mencari konten negatif berulang | Stres dan kecemasan meningkat |
| 4 | Menjadikan media sosial sebagai pelarian | Masalah hanya tertunda |
| 5 | Mengabaikan aktivitas pemulihan | Mood lebih sulit pulih |
1. Otak Tidak Benar-Benar Beristirahat
Video, foto, berita, dan kolom komentar dapat muncul silih berganti dalam waktu singkat saat seseorang terus menggulir layar. Kondisi ini membuat pikiran tetap bekerja mengolah informasi, meski tubuh sebenarnya sedang membutuhkan jeda dari tekanan.
Nature Reviews Psychology pada 2023 menyoroti bahwa paparan informasi digital yang berkelanjutan dapat meningkatkan beban kognitif. Beban tersebut mengurangi kesempatan otak untuk melakukan pemulihan mental dan dapat meninggalkan rasa lelah setelah aplikasi ditutup.
2. Perbandingan Sosial Membuat Mood Lebih Negatif
Saat kondisi emosi sedang rapuh, unggahan mengenai pencapaian, penampilan, atau kehidupan orang lain mudah menjadi bahan perbandingan. Padahal, apa yang tampil di Media Sosial sering kali hanya bagian terbatas dari kehidupan seseorang.
Studi dalam Computers in Human Behavior pada 2021 mengaitkan perbandingan sosial dengan kecemasan, ketidakpuasan terhadap diri, dan suasana hati yang lebih negatif. Dampaknya dapat terasa lebih kuat pada orang yang sudah lebih dulu berada dalam keadaan stres.
3. Scroll Tanpa Tujuan Bisa Berujung Doomscrolling
Keinginan mengisi waktu atau mencari pengalihan dapat berubah menjadi kebiasaan menelusuri kabar buruk secara berulang. Pola tersebut dikenal sebagai Doomscrolling, yaitu kecenderungan terus terpapar informasi negatif yang memicu kecemasan.
Penelitian dalam Health Communication pada 2022 menghubungkan doomscrolling dengan peningkatan stres, kecemasan, dan kelelahan emosional. Semakin lama paparan terhadap konten negatif berlangsung, semakin sulit pikiran kembali ke keadaan tenang.
4. Stres Hanya Dialihkan, Bukan Diselesaikan
Ponsel dapat memberi jarak sementara dari persoalan yang sedang membebani, tetapi penyebab stres biasanya tetap ada ketika scrolling berhenti. Waktu yang berlalu tanpa penyelesaian juga berpotensi menambah rasa bersalah pada sebagian orang.
Menurut penelitian dalam Journal of Behavioral Addictions pada 2020, penggunaan media sosial sebagai pelarian emosi atau avoidance coping sering hanya memberikan kelegaan sesaat. Setelahnya, masalah yang sama dapat kembali muncul tanpa perubahan berarti.
5. Ada Aktivitas yang Lebih Membantu Memulihkan Mood
Berjalan kaki, melakukan peregangan, berbicara dengan orang terdekat, menjalani perawatan diri, atau berlatih mindfulness dapat memberi ruang dari arus informasi digital. Aktivitas tersebut membantu perhatian beralih secara lebih terarah dibanding scrolling pasif.
Frontiers in Psychology pada 2021 mencatat aktivitas fisik ringan dan teknik mindfulness dapat membantu mengurangi stres serta memperbaiki suasana hati. Memberi jeda dari layar dapat menjadi langkah kecil untuk menjaga Kesehatan Mental ketika tekanan meningkat.







