Merger Paramount Skydance dan Warner Bros Discovery senilai US$110 miliar menghadapi risiko biaya tambahan sekitar US$7 juta setiap hari apabila transaksi belum selesai sebelum 30 September. Kewajiban biaya berjalan itu muncul saat proses akuisisi ditunda sementara oleh pengadilan di Amerika Serikat.
Penundaan tersebut terjadi meski Komisi Eropa telah menyetujui transaksi yang nilainya sekitar Rp1.760 triliun itu. Paramount tetap harus menunggu perkembangan gugatan yang diajukan koalisi 12 negara bagian di AS sebelum penggabungan dapat dituntaskan.
Hakim Araceli Martínez-Olguín menghentikan sementara proses akuisisi agar keberatan dari negara-negara bagian dapat dipertimbangkan. Putusan sementara itu belum menentukan apakah merger akan diblokir, tetapi membuat tenggat penyelesaian transaksi menjadi lebih berisiko bagi Paramount.
Biaya berjalan akan dibayarkan kepada pemegang saham Warner Bros apabila transaksi melewati batas waktu 30 September. Tekanan finansial ini membuat persidangan di AS menjadi faktor penting, sekalipun persetujuan dari regulator federal sebelumnya telah diperoleh.
Keberatan Berpusat pada Pasar Hiburan
Koalisi 12 negara bagian menggugat untuk menghentikan kesepakatan tersebut pada pekan lalu. Mereka menilai penggabungan dua perusahaan media besar itu dapat menimbulkan “kerugian substansial bagi bioskop, distributor TV kabel dasar, dan pada akhirnya, penonton di seluruh negeri.”
Kekhawatiran mereka tidak hanya terkait ukuran bisnis perusahaan gabungan, melainkan juga dampaknya terhadap jalur distribusi dan pilihan bagi konsumen. Pasar bioskop, layanan televisi kabel dasar, serta penonton menjadi titik perhatian dalam perkara tersebut.
Pengacara transaksi korporasi dari Farrell Fritz, Alon Kapen, menilai penghentian sementara itu membawa sinyal penting. “Penundaan sementara (TRO) ini hanya jeda singkat dan belum memutuskan perkara, tetapi ini menandakan bahwa pengadilan memandang serius teori pasar bioskop yang diajukan negara-negara bagian,” ujarnya.
Departemen Kehakiman AS sebelumnya menyatakan dukungan terhadap kesepakatan ini pada Juni lalu. Namun, sikap lembaga tersebut tidak menutup ruang bagi negara-negara bagian untuk melanjutkan gugatan mereka di pengadilan.
Persetujuan Eropa Disertai Syarat Ketat
Di Eropa, persetujuan Komisi Eropa diberikan setelah Paramount menerima serangkaian kewajiban di bidang distribusi film. Perusahaan harus mengakhiri kemitraan distribusi film utama dengan Universal Pictures di wilayah Eropa dalam 13 bulan.
Paramount juga tidak boleh membentuk kemitraan distribusi serupa selama 10 tahun. Ketentuan itu ditetapkan untuk mengurangi kekhawatiran bahwa perusahaan hasil merger akan memiliki kendali berlebihan atas jalur perilisan film di bioskop.
| Wilayah | Status Transaksi | Fokus Pengawasan |
|---|---|---|
| Uni Eropa | Menyetujui dengan syarat | Distribusi film bioskop |
| Amerika Serikat | Ditunda sementara pengadilan | Bioskop, TV kabel dasar, dan penonton |
| Inggris | Mempertimbangkan intervensi | Berita lokal, tayangan anak, dan streaming |
Fokus regulator Eropa tertuju pada potensi penggabungan jalur distribusi dengan perusahaan pesaing. Syarat pemutusan kerja sama itu menjadi dasar bagi Komisi Eropa untuk memberikan lampu hijau terhadap merger.
Tekanan dari Serikat Penulis dan Inggris
Penolakan terhadap merger juga datang dari Writers Guild of America atau WGA. Serikat penulis tersebut menilai perusahaan gabungan berpotensi memperbesar tekanan terhadap lapangan kerja dan tingkat gaji para penulis.
Kepala WGA, Tom Fontana, mengatakan perusahaan gabungan dapat memiliki “kekuatan yang sangat besar untuk menekan gaji kami.” Ia juga mengkhawatirkan kesepakatan itu akan “menghilangkan peluang bagi para penulis pemula.”
Di Inggris, regulator masih mempertimbangkan perlu atau tidaknya melakukan intervensi. Penilaian di negara tersebut mencakup dampak terhadap berita lokal, program televisi anak-anak, dan persaingan dalam pasar streaming.
Menurut Media Indonesia, Paramount membantah bahwa penggabungan ini akan merugikan penonton. Perusahaan menyatakan komitmen untuk merilis sedikitnya 30 film di bioskop setiap tahun, atau dua kali jumlah produksi mereka saat ini.
Komitmen rilis film itu menjadi salah satu argumen Paramount dalam menghadapi keberatan yang muncul di berbagai wilayah. Namun, nasib akhir merger masih bergantung pada proses hukum di AS serta penilaian regulator di Inggris.
Source: mediaindonesia.com






