5 Penyebab Sperma Terlihat Encer, Perubahan yang Perlu Diperiksa Bila Menetap

Air mani yang tampak lebih cair, bening, atau berjumlah lebih sedikit tidak selalu menandakan gangguan berat. Namun, perubahan yang berulang dalam waktu lama dapat berkaitan dengan kondisi reproduksi yang perlu dievaluasi, terutama saat ada kesulitan memperoleh keturunan.

Tampilan semen setelah ejakulasi tidak cukup untuk menilai kesuburan pria. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan tersebut terkait jumlah sperma, produksi cairan semen, atau gangguan kesehatan reproduksi lain.

Perubahan yang Perlu Diamati

Menurut CNN Indonesia, air mani yang lebih encer dapat tampak tidak sekental biasanya dan cepat mencair setelah keluar. Warnanya juga bisa terlihat lebih transparan, disertai volume ejakulasi yang lebih sedikit.

Kondisi sementara dapat muncul akibat frekuensi ejakulasi yang tinggi. Meski demikian, keluhan yang menetap atau disertai hambatan kehamilan tanpa kontrasepsi perlu dikonsultasikan kepada tenaga medis.

PenyebabPengaruh yang Mungkin Terjadi
Jumlah sperma rendahKonsentrasi sperma dalam semen dapat berkurang.
VarikokelDapat mengganggu produksi sperma dan kualitas air mani.
Terlalu sering ejakulasiVolume dan konsentrasi sperma dapat turun sementara.
Ejakulasi retrogradAir mani mengalir ke kandung kemih.
Kekurangan zincDapat memengaruhi produksi sperma serta kualitas air mani.

5 Penyebab Sperma Tampak Encer

1. Jumlah Sperma Rendah

Jumlah sperma rendah atau oligospermia dapat membuat cairan semen terlihat lebih encer karena konsentrasi spermanya berkurang. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut kondisi ini terjadi ketika jumlah sperma kurang dari 15 juta per mililiter cairan semen.

Oligospermia dapat mengurangi peluang kehamilan, tetapi tidak otomatis berarti seseorang infertil. Gangguan hormon, infeksi, paparan bahan kimia, konsumsi alkohol berlebihan, merokok, obesitas, serta efek obat tertentu dapat berkaitan dengan kondisi ini.

2. Varikokel

Varikokel merupakan pembengkakan pembuluh darah di sekitar testis yang berpotensi mengganggu produksi sperma. Kondisi ini juga dapat menurunkan kualitas air mani pada sebagian pria.

Varikokel dapat muncul pada satu atau kedua sisi skrotum dan kadang tidak menimbulkan gejala. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada pria yang menjalani pemeriksaan fertilitas, meski tidak semua penderitanya mengalami gangguan kesuburan.

3. Terlalu Sering Ejakulasi

Ejakulasi yang terjadi sangat sering dapat membuat volume dan konsentrasi sperma menurun untuk sementara. Tubuh membutuhkan waktu untuk kembali memproduksi cairan semen dan sperma dalam jumlah yang lebih optimal.

Masturbasi atau hubungan seksual beberapa kali dalam sehari dapat memengaruhi tampilan air mani setelah ejakulasi. Kondisi tersebut umumnya dapat membaik setelah tubuh mendapat jeda beberapa hari.

4. Ejakulasi Retrograd

Ejakulasi retrograd terjadi ketika air mani bergerak menuju kandung kemih, bukan keluar melalui penis. Keadaan ini umumnya berkaitan dengan gangguan pada otot sfingter kandung kemih.

Akibatnya, jumlah air mani yang keluar dapat jauh lebih sedikit dari biasanya. Cairan yang keluar juga dapat terlihat encer sehingga perlu dibedakan dari perubahan konsistensi yang hanya bersifat sementara.

5. Kekurangan Zinc

Zinc berperan dalam produksi sperma, pembentukan DNA, sistem imun, dan fungsi reproduksi pria. Kekurangan mineral ini dapat memengaruhi kualitas air mani serta menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan sperma tampak encer.

Asupan zinc dapat diperoleh dari tiram, daging merah, ayam, makanan laut, kacang-kacangan, biji-bijian, produk susu, dan polong-polongan. Pemenuhan kebutuhan mineral tersebut mendukung berbagai fungsi tubuh yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi pria.

Pemeriksaan Tidak Berdasar Tampilan Semata

Perubahan kekentalan air mani dapat bersifat sementara dan tidak selalu berbahaya. Penilaian yang hanya mengandalkan warna, volume, atau tekstur semen tidak dapat memastikan ada tidaknya gangguan kesuburan.

Evaluasi medis menjadi penting apabila perubahan terus terjadi atau disertai kesulitan memperoleh keturunan. Hasil pemeriksaan dapat membantu menentukan faktor yang memengaruhi kondisi reproduksi dan penanganan yang sesuai.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terkait