Telat bicara pada anak kerap baru disadari saat gejalanya semakin jelas, padahal tanda awal bisa muncul sejak bayi berusia 6 bulan. Pada fase ini, anak yang sulit melakukan kontak mata saat dipanggil sudah perlu mendapat perhatian lebih dari orang tua.
Memasuki usia 12 bulan, tanda keterlambatan bicara biasanya makin tampak. Anak bisa tidak merespons panggilan, tidak bergumam seperti “Dadaa”, atau tidak memberi isyarat sederhana seperti menggelengkan kepala dan melambaikan tangan.
Keluhan seperti itu tidak selalu berdiri sendiri. Berdasarkan penjelasan yang dikutip CNN Indonesia dari Almoosa Health dan berbagai sumber, ada lima penyebab yang paling sering dikaitkan dengan telat bicara pada anak, mulai dari gangguan fisik hingga masalah perkembangan saraf.
Masalah pada mulut dapat mengganggu pembentukan kata
Gangguan pada mulut bisa menghambat anak mengucapkan kata dengan jelas. Kondisi ini dapat terjadi pada langit-langit mulut, lidah, atau frenulum linguae yang terlalu pendek.
Jika gerakan lidah tidak leluasa, proses mengeluarkan bunyi dan membentuk kata ikut terganggu. Akibatnya, kemampuan bicara anak bisa terlambat dibandingkan perkembangan usianya.
Masalah pendengaran membuat anak sulit meniru bunyi
Pendengaran dan kemampuan bicara saling berkaitan erat. Anak yang kesulitan mendengar akan lebih sulit menangkap kata-kata dan bunyi yang perlu ditiru untuk belajar berbicara.
Kondisi ini membuat anak sukar mengenali kosakata, nada, dan artikulasi dengan benar. Bila otak tidak menerima bunyi secara tepat, kemampuan mengulang kata juga ikut terhambat.
Autisme sering berkaitan dengan hambatan komunikasi
Pada anak dengan sindrom autisme, kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi sosial dapat menjadi salah satu tanda yang berkaitan dengan telat bicara. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan berbahasa ekspresif sering terlambat berkembang.
Orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter agar evaluasi dan penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Semakin dini pemeriksaan dilakukan, semakin cepat pula hambatan komunikasi dapat dikenali.
Afasia dan apraksia bicara sama-sama menghambat kemampuan berbahasa
Afasia terjadi karena kerusakan pada sisi kiri otak yang berfungsi mengatur pemahaman bahasa dan ekspresi. Gangguan ini dapat membuat anak kesulitan berbicara, menulis, dan mendengarkan dengan baik.
Berbeda dengan afasia, apraksia bicara muncul ketika otak kesulitan mengirimkan perintah yang tepat ke mulut untuk menghasilkan kata. Anak sebenarnya tahu apa yang ingin diucapkan, tetapi tubuhnya tidak bisa mengeksekusi ucapan dengan benar.
Kondisi apraksia bicara bisa disebabkan faktor bawaan atau cedera otak serius, termasuk tumor. Jika tanda-tandanya muncul, bantuan tenaga profesional seperti dokter spesialis anak perlu segera dicari.
Ringkasan lima penyebab telat bicara pada anak
| Penyebab | Gambaran Utama | Dampak pada Bicara |
|---|---|---|
| Masalah pada mulut | Gangguan pada palatum, lidah, atau frenulum linguae | Gerakan lidah terhambat |
| Masalah pendengaran | Anak sulit menangkap bunyi dan kata | Kesulitan meniru kosakata dan artikulasi |
| Autisme | Hambatan komunikasi dan interaksi sosial | Perkembangan bahasa ekspresif terlambat |
| Afasia | Kerusakan pada sisi kiri otak | Kesulitan bicara, menulis, dan mendengar |
| Apraksia bicara | Otak sulit mengirim perintah ke mulut | Ucapan tidak keluar sesuai yang dimaksud |
Lima penyebab ini menjadi pengingat bahwa telat bicara pada anak tidak boleh dianggap sepele. CNN Indonesia mencatat, gejala bisa mulai terlihat sejak bayi berusia 6 bulan dan semakin jelas pada usia 12 bulan.
Respons dini dari orang tua penting agar hambatan perkembangan bahasa tidak dibiarkan terlalu lama. Pemeriksaan ke dokter spesialis anak dapat membantu menemukan penyebabnya lebih cepat.
Source: www.cnnindonesia.com






