Pascajatuh dari Lantai 6, Kaki Kanan Adik Keisya Levronka Masih Sulit Dipakai

Kondisi kaki kanan Lexi Valleno Havlenda masih menjadi kendala utama dalam aktivitas hariannya setelah insiden jatuh dari lantai enam Universitas Tarumanagara pada 2024. Hingga kini, ia masih harus menjalani fisioterapi dan berbagai penanganan lanjutan untuk membantu pemulihan.

Lexi menyampaikan kondisi tersebut saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (15/7/2026). Ia menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini masih tertuju pada pemulihan, bukan pada hal lain.

Masih perlu banyak terapi

Lexi menjelaskan bahwa kaki kanannya belum pulih sepenuhnya dan masih menghambat aktivitas sehari-hari. Karena itu, ia masih bergantung pada fisioterapi untuk menjaga fungsi tubuhnya tetap berkembang ke arah yang lebih baik.

“Ya, kaki kanan sih kan masih terhambat lah untuk aktivitas sehari-hari. Jadi kalau kegiatan paling ya itu masih banyak butuh terapi kan, fisioterapi segala macam,” kata Lexi.

Ia juga menyebut bahwa proses pemulihan memang masih menjadi prioritas. Menurut dia, pemulihan harus didahulukan sebelum memikirkan langkah lain.

“Fokusnya kan sekarang pemulihan, pemulihan dulu kan,” ujarnya.

InformasiDetail
NamaLexi Valleno Havlenda
Kondisi utamaKaki kanan masih terhambat untuk aktivitas sehari-hari
Perawatan yang dijalaniFisioterapi dan penanganan lain
Momen penyampaian kondisiDi Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (15/7/2026)

Keluarga menjaga kondisi fisik dan mental

Ibu Keisya, Levi Leonita Davies, mengatakan bahwa perhatian keluarga tidak hanya tertuju pada pemulihan fisik. Menurut dia, kondisi mental Lexi juga sempat menjadi perhatian besar selama masa perawatan.

Levi mengungkapkan bahwa Lexi pernah hampir menyerah saat menjalani pengobatan. Karena itu, keluarga berusaha tetap kuat agar Lexi tidak semakin terbebani dengan situasi yang dihadapinya.

“Jadi selain dari fisiknya, kita juga mentalnya juga. Jadi sempat lah dia ngomong, ‘Ah mending aku mati aja daripada aku kayak gini’, apa segala macam. Ya kita yang ini (menguatkan). Jadi kita itu sampai sepakat keluarga, tante, kakaknya, apa semua itu kalau di depan adik jangan nangis ya,” tutur Levi.

Ia menambahkan, keluarga sengaja menjaga suasana di depan Lexi agar tetap tenang, terutama saat masih dirawat di rumah sakit. Mereka sepakat untuk tidak menunjukkan tangis di hadapannya karena tidak ingin beban emosional itu ikut menekan proses pemulihan.

Proses panjang sejak insiden di kampus

Insiden yang dialami Lexi terjadi saat ia mengikuti kegiatan organisasi Mahasiswa Hukum Pecinta Alam di Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat. Peristiwa itu berlangsung pada Jumat, 29 Maret 2024, ketika ia mengikuti latihan panjat tebing atau susur goa.

Berdasarkan keterangan yang beredar, Lexi jatuh dari lantai enam gedung kampus setelah pengait yang digunakannya terlepas. Pihak Untar menyebut kegiatan tersebut berlangsung tanpa izin resmi dari universitas dan keamanan kampus sebenarnya sudah melarang pelaksanaannya.

Levi menyebut perjuangan pemulihan Lexi telah berjalan selama dua tahun. Sementara itu, keluarga dan Universitas Tarumanagara juga sepakat menempuh mediasi dalam perkara ini, dengan majelis hakim memberi waktu 30 hari untuk proses tersebut.

“Hari ini juga dijadwalkan sebagaimana proses perkara perdata, akan ada mediasi selama 30 hari. Kalau kami dari penggugat hari ini sebenarnya sudah siap untuk mediasi,” tutur Eclund.

Di hari kejadian, situasi kampus disebut ikut memengaruhi penanganan awal karena bertepatan dengan hari libur. Operasional kampus dan fasilitas penanganan darurat saat itu juga terbatas, sehingga dampak insiden tersebut terasa panjang bagi Lexi hingga sekarang.

Source: entertainment.kompas.com
Berita Terkait