Pamitan yang berlarut saat anak menangis di gerbang sekolah dapat membuat perpisahan terasa semakin berat. Orang tua disarankan tetap tenang, menyampaikan salam secara singkat, lalu meninggalkan anak sesuai rutinitas yang telah dibuat.
Tangisan pada hari-hari awal sekolah tidak selalu menandakan anak gagal menyesuaikan diri. Anak membutuhkan pesan yang konsisten bahwa sekolah aman dan orang tua akan kembali menjemputnya.
American Academy of Pediatrics atau AAP menyebut menangis, menolak masuk kelas, dan ingin terus ditemani dapat menjadi respons wajar selama masa penyesuaian. Namun, orang tua perlu memberi perhatian lebih bila kondisi itu terus berlangsung selama berminggu-minggu atau mengganggu kegiatan sehari-hari.
| No. | Langkah | Tujuan Utama |
|---|---|---|
| 1 | Tetap tenang | Membangun rasa aman anak |
| 2 | Pamitan singkat | Memberi kepastian rutinitas |
| 3 | Tidak pergi diam-diam atau kembali | Menjaga kepercayaan anak |
| 4 | Mengalihkan perhatian | Membantu anak masuk kegiatan kelas |
| 5 | Berkomunikasi dengan guru | Memantau proses penyesuaian |
| 6 | Mengapresiasi kemajuan | Menguatkan kepercayaan diri |
| 7 | Memantau tangisan berkepanjangan | Menentukan kebutuhan bantuan lanjutan |
1. Tetap tenang saat mengantar anak
Ekspresi orang tua dapat memengaruhi cara anak memandang situasi perpisahan di sekolah. Sikap cemas, ragu, atau sedih berlebihan berisiko membuat anak menganggap sekolah sebagai tempat yang menakutkan.
Orang tua dapat menunjukkan keyakinan bahwa anak berada di lingkungan yang aman. Sikap percaya diri ini membantu anak menangkap sinyal bahwa ia mampu menjalani waktu di sekolah.
2. Buat rutinitas pamitan yang singkat
Rutinitas sederhana seperti pelukan, ciuman, salam, dan janji untuk menjemput dapat memberi kepastian bagi anak. Urutan yang sama setiap pagi membantu anak mengenali bahwa perpisahan tersebut hanya sementara.
Proses pamitan tidak harus menunggu hingga anak berhenti menangis sepenuhnya. Memperpanjang waktu di gerbang justru dapat membuat anak makin sulit melepaskan diri.
3. Jangan pergi diam-diam atau kembali setelah berpamitan
Meninggalkan anak tanpa pamit dapat membuatnya merasa orang tua tiba-tiba menghilang. Kondisi itu dapat mengurangi rasa percaya dan rasa aman anak pada perpisahan berikutnya.
Orang tua juga sebaiknya tidak kembali setelah telah berpamitan hanya karena mendengar anak menangis. Anak dapat belajar bahwa tangisan membuat orang tua tetap berada di dekatnya bila pola ini berulang.
4. Alihkan perhatian ke kegiatan yang disukai
Tangisan biasanya paling kuat muncul tepat pada momen perpisahan. Rasa cemas dapat berkurang ketika perhatian anak berpindah ke permainan, guru, atau teman di kelas.
Orang tua dapat memberi tahu guru mengenai kegiatan yang disukai anak. Guru kemudian dapat mengajak anak terlibat dalam kegiatan tersebut segera setelah tiba di sekolah.
5. Bangun komunikasi yang baik dengan guru
Proses adaptasi sekolah anak memerlukan kerja sama antara keluarga dan guru. Sambutan yang hangat serta pendekatan tanpa paksaan dapat membantu anak merasa diterima di lingkungan baru.
Komunikasi rutin juga berguna untuk mengetahui kapan anak mulai tenang dan kegiatan apa yang membuatnya nyaman. CNN Indonesia melaporkan bahwa anak usia dini lebih mudah beradaptasi ketika memperoleh rasa aman dari guru.
6. Beri apresiasi untuk kemajuan kecil
Anak tidak harus langsung berhenti menangis dalam satu atau dua hari pertama. Orang tua dapat memuji keberanian anak ketika ia lebih cepat tenang, berani masuk kelas, atau mulai mau berpisah.
Apresiasi sederhana dapat memperkuat rasa percaya diri anak. Fokus utama sebaiknya ditempatkan pada kemajuan dari hari ke hari, bukan pada tuntutan agar anak langsung sempurna.
7. Waspadai jika tangisan berlangsung terlalu lama
Setiap anak memiliki waktu penyesuaian yang berbeda, dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Meski demikian, tangisan yang makin berat, menetap, dan disertai penolakan sekolah perlu diperhatikan lebih serius.
AAP menyarankan orang tua berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog jika kecemasan berpisah tampak menetap dan menghambat keseharian. Pemeriksaan lanjutan dapat membantu menentukan bentuk pendampingan yang sesuai bagi anak.
Source: www.cnnindonesia.com






