Di antara ular yang hidup di berbagai kawasan Amerika hingga Asia, ada kelompok yang kemampuan makannya sangat menyempit. Mereka bergantung pada siput dan bekicot, bahkan pada beberapa spesies, makanan itu menjadi satu-satunya menu yang bisa mereka andalkan sejak kecil.
Adaptasi itu membuat bentuk rahang mereka berbeda dari ular kebanyakan. Pada sejumlah spesies, rahang yang tidak simetris dan struktur mulut yang khusus membantu mereka menghadapi mangsa bercangkang, sehingga hampir tidak ada ruang untuk jenis makanan lain.
Pareas iwasakii menjadi contoh paling jelas dari spesialisasi tersebut. Ular dari Kepulauan Yaeyama di selatan Kepulauan Ryukyu, Jepang, ini memiliki rahang asimetris dan menjadikan siput sebagai satu-satunya makanan, bahkan sejak baru menetas.
Rahang itu membantu ular ini memakan siput dengan cangkang dekstral. Karena itu, Pareas iwasakii sering disebut sebagai salah satu contoh paling spesifik dari ular yang benar-benar menyesuaikan diri dengan satu jenis mangsa.
Dipsas georgejetti juga menunjukkan pola makan yang sangat sempit. Spesies nokturnal ini hidup di semak-semak dataran rendah kering, sabana, hutan kering musiman, padang rumput, dan kadang masuk rumah di Ekuador.
Ular ini bergerak aktif tetapi lambat di permukaan tanah atau di semak hingga ketinggian 2 meter. Dipsas georgejetti hanya memakan siput dan bekicot, serta tidak berbahaya bagi manusia karena tidak berbisa dan tidak pernah menggigit.
Dipsas klebbai memiliki punggung cokelat muda dengan bercak lonjong cokelat tua hingga hitam, sementara kepalanya hitam dengan tepi putih. Spesies ini hidup di hutan pegunungan, padang rumput, kebun pedesaan, dan rumah-rumah.
Aktivitasnya dimulai sejak petang hingga dini hari, meski kadang berjemur di serasah daun pada siang hari. Di penangkaran, ular ini hanya memakan siput dan menggunakan racun dari sel-sel mukosa kelenjar infralabial untuk melumpuhkannya.
Sibon bevridgelyi memiliki kepala yang lebih lebar dari leher, mata melotot, dan pola bercak hitam tidak beraturan berwarna cokelat kemerahan dengan celah kuning pucat. Habitatnya meliputi hutan gugur, semak belukar, padang rumput, dan perkebunan kakao, biasanya dekat aliran sungai.
Aktivitasnya meningkat pada malam hari, terutama saat hujan atau gerimis. Makanannya meliputi siput dan bekicot, sedangkan pada siang hari ular ini kerap melingkar di bawah kulit pohon atau di tengah pohon palem.
Dipsas bobridgelyi dikenal sebagai ular pemakan siput yang hidup di atas pohon. Aktivitas berburunya berlangsung pada malam hari, sementara siang hari digunakan untuk beristirahat.
Statusnya terancam punah karena habitatnya terfragmentasi dan terus menurun dalam luas serta kualitas akibat penggundulan hutan. Hingga kini, spesies ini hanya ditemukan di dua lokasi.
Kelompok ular pemakan siput tidak selalu sepenuhnya eksklusif. Ular garter, misalnya, tersebar luas di berbagai negara di benua Amerika dan paling sering ditemukan dekat air.
Menu ular ini jauh lebih beragam karena juga mencakup cacing tanah, katak, lintah, serangga, udang karang, ikan kecil, dan ular lainnya. Mereka melumpuhkan mangsa dengan gigi tajam, refleks cepat, serta air liur beracun.
Smooth green snake mudah dikenali dari punggung hijau dan perut kuning yang kontras. Sifatnya jinak, akan kabur saat terancam, dan tidak berbisa sehingga sering dipilih sebagai hewan peliharaan.
Makanannya terdiri atas hewan-hewan kecil, termasuk cacing, laba-laba, semut, ulat, jangkrik, kecoak, ngengat, dan siput. Meski tidak eksklusif pemakan siput, spesies ini tetap termasuk ular yang mengandalkan mangsa kecil bertubuh lunak.
Di antara ular-ular itu, perbedaan paling mencolok justru terletak pada seberapa jauh tubuh mereka beradaptasi terhadap siput. Ada yang masih bisa menerima mangsa lain, tetapi ada pula yang seolah hanya disiapkan alam untuk menghadapi cangkang kecil dan tubuh lunak yang menjadi santapan utamanya.
Source: www.idntimes.com






