Tekanan jual kembali mendominasi perdagangan IHSG dan membuat indeks ditutup melemah tajam pada Jumat, 24 April 2026. Pada akhir sesi, indeks terkoreksi 3,38 persen ke 7.129,49, dengan 701 saham berada di zona merah dan hanya 92 saham yang mampu menguat.
Kondisi itu menunjukkan pasar bergerak dalam suasana hati yang rapuh. Minat beli tertahan karena pelaku pasar menghadapi gabungan tekanan dari luar negeri dan kekhawatiran dari dalam negeri yang sama-sama belum mereda.
Tekanan dari luar negeri masih menjadi faktor utama
Riset Phintraco Sekuritas menilai beban terbesar datang dari sentimen global, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar masih mencermati situasi di sekitar Selat Hormuz yang membuat harga minyak bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan.
Selain itu, perkembangan gencatan senjata Israel dan Lebanon belum cukup memberi rasa tenang bagi pelaku pasar. Di saat yang sama, muncul keraguan bahwa Amerika Serikat dan Iran segera kembali duduk dalam perundingan, sehingga risiko kawasan tetap dianggap tinggi.
Kondisi ini mendorong pasar lebih berhati-hati. Ketika ketidakpastian eksternal masih besar, saham-saham di Bursa Efek Indonesia ikut terkena tekanan karena investor cenderung menahan ekspansi posisi beli.
Dari dalam negeri, rupiah dan harga minyak ikut membebani sentimen
Sementara itu, pasar juga menyoroti prospek ekonomi Indonesia di tengah harga minyak yang tinggi. Pergerakan rupiah yang sempat tertekan menjadi salah satu perhatian utama karena membuat investor lebih peka terhadap perubahan sentimen.
Meski rupiah sempat menguat 0,33 persen ke level Rp17.229 per dolar AS di pasar spot, tekanan sebelumnya belum sepenuhnya hilang. Situasi tersebut ikut memunculkan kehati-hatian baru di kalangan pelaku pasar, terutama karena arah harga minyak global belum stabil.
Pada titik seperti ini, reaksi pasar menjadi lebih cepat terhadap kabar negatif. Akibatnya, aksi jual meluas dan warna merah mendominasi pergerakan saham sepanjang perdagangan.
Sinyal teknikal IHSG juga belum memberi dukungan
Selain faktor sentimen, kondisi teknikal indeks masih menunjukkan kelemahan lanjutan. IHSG disebut telah breakdown dari level MA20, sementara histogram MACD positif mulai menyempit dan berpotensi membentuk death cross.
Phintraco Sekuritas memperkirakan area gap down di kisaran 7.022 dapat menjadi target tekanan berikutnya. Dalam skenario itu, IHSG berpeluang menguji support kuat di 7.000, dengan resistance di 7.300 dan pivot di 7.200.
Gambaran teknikal tersebut membuat ruang penguatan jangka pendek terlihat terbatas. Selama indeks belum mampu kembali ke area yang lebih aman, pasar masih rentan terhadap tekanan tambahan dari sentimen eksternal maupun domestik.
Aktivitas transaksi tetap tinggi di tengah pelemahan
Walau IHSG terkoreksi cukup dalam, aktivitas perdagangan tetap ramai. Volume transaksi tercatat 44,80 juta saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp 24,30 triliun dan frekuensi transaksi 2,65 juta kali.
Namun tingginya aktivitas tidak cukup menahan pelemahan karena tekanan jual jauh lebih kuat. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah saham masih mampu mencatat kenaikan seperti PSDN, BNBA, BRNA, CTTH, SMMT, KDTN, dan INPS.
Sebaliknya, saham yang paling banyak terkoreksi adalah SKBM, AMIN, LPPF, KRYA, HOPE, COCO, ICON, dan KOBX. Sebaran pelemahan yang luas ini menandakan tekanan tidak hanya terjadi pada satu kelompok saham, tetapi menjangkau banyak sektor sekaligus.
Selama harga minyak, rupiah, dan ketidakpastian geopolitik belum menunjukkan perbaikan yang jelas, pergerakan IHSG cenderung tetap sensitif terhadap perubahan sentimen. Dalam situasi seperti ini, pasar saham masih berpotensi bereaksi cepat setiap kali muncul perkembangan baru dari dalam maupun luar negeri.
Source: www.suara.com






