Teknologi kecerdasan buatan dari FKUI mulai diarahkan untuk menangkap risiko gagal jantung sebelum pasien kembali memburuk. Sistem bernama NAVI-HF ini dirancang sebagai alat bantu dokter untuk membaca tanda kongesti paru yang kerap luput dari pemeriksaan klinis biasa.
Gagasan itu lahir dari kebutuhan nyata di fasilitas kesehatan, terutama saat alat diagnostik belum tersedia lengkap. Dalam kondisi seperti itu, keputusan pulang pasien sering harus diambil dengan data yang terbatas, padahal penumpukan cairan di paru-paru bisa masih berlangsung tanpa gejala yang jelas.
Memindai suara napas dari stetoskop digital
NAVI-HF bekerja dengan menganalisis suara napas yang direkam melalui stetoskop digital. AI kemudian membaca pola suara tersebut untuk mengenali kemungkinan adanya cairan di paru-paru yang belum menimbulkan bunyi khas saat diperiksa secara manual.
Masalah ini penting karena gagal jantung terjadi ketika kemampuan jantung memompa darah menurun. Akibatnya, cairan dapat menumpuk di tubuh, terutama di paru-paru, dan memunculkan sesak napas, bengkak pada kaki, tubuh mudah lelah, serta gangguan aktivitas harian.
| Komponen | Fungsi | Manfaat |
|---|---|---|
| Stetoskop digital | Merekam suara napas pasien | Menjadi data awal bagi analisis AI |
| AI NAVI-HF | Membaca pola suara napas | Mendeteksi risiko kongesti paru yang tidak terdengar secara klinis |
| Hasil analisis | Menunjukkan risiko kongesti paru | Membantu dokter menunda kepulangan atau menyesuaikan terapi |
Jika hasil analisis menunjukkan pasien masih berisiko, dokter dapat menunda kepulangan atau menyesuaikan terapi sampai kondisi lebih stabil. Langkah ini diharapkan dapat menekan angka pasien yang harus kembali dirawat dalam waktu singkat.
Dirancang juga untuk pemantauan dari rumah
NAVI-HF tidak hanya disiapkan untuk ruang rawat. Sistem ini juga dirancang agar bisa dipakai pasien di rumah dengan stetoskop digital portabel yang dihubungkan ke ponsel, lalu suara napas dianalisis oleh aplikasi berbasis AI.
Jika sistem mendeteksi tanda penumpukan cairan di paru-paru, pasien akan mendapat peringatan untuk segera berkonsultasi atau datang ke rumah sakit. Rony Marethianto Santoso juga menyebut alat itu dapat diminiaturisasi agar pasien bisa memeriksakan diri sendiri di rumah.
Ke depan, sistem ini ditargetkan terhubung dengan layanan cloud. Dengan begitu, dokter dapat memantau kondisi pasien dari jarak jauh dan mendukung telemedicine serta pemantauan berbasis rumah.
Data awal menunjukkan arah yang menjanjikan
Pengembangan algoritma NAVI-HF menggunakan data awal dari sekitar 246 pasien di sejumlah rumah sakit rujukan gagal jantung di Indonesia. Hasil awalnya menunjukkan sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang baik untuk mengidentifikasi pasien yang masih mengalami kongesti paru.
Rony menjelaskan inovasi ini dalam sidang terbuka promosi doktor Ilmu Kedokteran. Tujuannya bukan menggantikan dokter, melainkan memberi lapisan bantu saat pemeriksaan gagal jantung belum bisa dilakukan secara lengkap.
Menjawab tingginya beban gagal jantung
Rony menyebut Indonesia menempati peringkat kedua di Asia untuk prevalensi penyakit jantung. Tingginya kasus itu juga berkaitan dengan besarnya angka rawat ulang pada pasien gagal jantung.
Dalam banyak kasus, pasien yang sudah mendapat pengobatan tetap kembali dirawat karena kondisinya memburuk. Di titik inilah AI diposisikan sebagai alat bantu agar keputusan klinis lebih akurat, terutama di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan alat diagnostik maupun tenaga ahli.
Dengan kemampuan membaca risiko lebih cepat, NAVI-HF diharapkan dapat memberi kesempatan bagi dokter untuk bertindak sebelum kondisi pasien jatuh lebih berat. Bagi layanan kesehatan, alat ini membuka jalur tambahan untuk mendeteksi kekambuhan dan mencegah rawat ulang yang seharusnya bisa dihindari.
Source: www.cnnindonesia.com






