Standard Chartered menempatkan kecerdasan buatan sebagai inti perubahan besar di tubuh bank itu, dengan rencana memangkas hampir 8.000 posisi pendukung dalam empat tahun ke depan. Langkah ini menunjukkan bahwa efisiensi di sektor perbankan kini tidak lagi hanya soal menekan biaya, melainkan juga soal menyusun ulang cara kerja agar lebih bergantung pada teknologi.
Pemangkasan tersebut akan berdampak pada lebih dari 15 persen posisi di fungsi korporat pada 2030. Hingga akhir tahun lalu, Standard Chartered masih memiliki 52.271 karyawan di area operasi back-office, sehingga ruang perombakan internalnya masih tergolong besar.
AI jadi dasar restrukturisasi
CEO Bill Winters menegaskan bahwa perubahan ini tidak semata-mata program penghematan. Menurut dia, perusahaan sedang mengganti SDM berkualitas rendah dengan modal keuangan dan modal investasi yang ditanamkan perusahaan.
Winters juga menilai yang terjadi bukan sekadar pengurangan karyawan dalam arti umum. Ia menggambarkannya sebagai pergeseran peran kerja, karena semakin banyak tugas akan dialihkan ke mesin dan proses itu diperkirakan bergerak lebih cepat seiring masuknya era AI.
Perusahaan menyebut pengurangan peran akan dilakukan secara transparan di internal. Di saat yang sama, target besarnya adalah mendorong produktivitas pendapatan per karyawan naik sekitar 20 persen pada 2028.
Target keuangan ikut dinaikkan
Restrukturisasi tenaga kerja itu berjalan seiring dengan ambisi finansial yang lebih tinggi. Standard Chartered mengumumkan target baru dalam pertemuan investor di Hong Kong, termasuk kenaikan 3 poin persentase dalam return on tangible equity.
Target tersebut dipasang menjadi lebih dari 15 persen pada 2028 dan sekitar 18 persen pada 2030. Arah ini memperlihatkan bahwa otomatisasi diposisikan sebagai alat untuk memperbaiki kinerja keuangan, bukan hanya sebagai proyek teknologi internal.
Bank asal London ini juga masih menyelesaikan program restrukturisasi “Fit for Growth” yang dirancang untuk menghemat US$1,5 miliar. Program penghematan tersebut berjalan bersamaan dengan agenda efisiensi tenaga kerja dan transformasi teknologi yang lebih luas.
Bisnis wealth tetap memberi dorongan
Di tengah rencana pemangkasan, tidak semua lini bisnis mengalami tekanan. Unit wealth Standard Chartered justru mencatat kinerja solid dengan arus dana baru bersih rekor sebesar US$18 miliar.
Hasil itu memberi sinyal bahwa sebagian bisnis masih mampu tumbuh kuat meski perusahaan sedang mengubah struktur organisasi. Perubahan besar ini menunjukkan Standard Chartered ingin menjaga pertumbuhan sambil menata ulang basis biayanya.
Perombakan juga menyentuh jajaran pimpinan setelah kepergian mendadak CFO Diego De Giorgi. Posisi tersebut kemudian diisi Manus Costello, mantan kepala hubungan investor global yang direkrut pada 2024.
Pergantian di level eksekutif itu memperlihatkan bahwa transformasi Standard Chartered tidak berhenti pada pengurangan peran kerja. Bank tersebut kini menyesuaikan teknologi, struktur organisasi, dan pengambilan keputusan puncak secara bersamaan.
Sinyal untuk industri yang lebih luas
Arah yang ditempuh Standard Chartered menempatkannya di barisan depan bank besar yang semakin agresif memakai otomatisasi. HSBC Holdings Plc dan sejumlah perusahaan di Wall Street juga sedang mempertimbangkan langkah serupa.
Namun, sebagian ahli otomatisasi masih meragukan apakah alat AI saat ini sudah cukup kuat untuk memicu pemangkasan besar di pasar tenaga kerja. Di tengah perdebatan itu, Standard Chartered sudah bergerak lebih jauh dengan menjadikan AI sebagai dasar utama perombakan struktur kerja.







