AI Mulai Meniru Emosi Manusia, Jalan Baru Deteksi Gangguan Mental Terbuka

Model bahasa besar kini dinilai mampu meniru sebagian pola emosional dan kognitif manusia dalam kondisi terkontrol, sebuah temuan yang membuka jalur baru bagi riset gangguan kesehatan mental. Bagi ilmuwan, kemampuan ini bisa menjadi alat bantu untuk memahami hubungan antara emosi, penalaran, dan respons bahasa dengan cara yang selama ini sulit dilakukan.

Penelitian dari TU Dresden atau Dresden University of Technology menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak hanya berguna untuk otomasi digital, tetapi juga dapat dipakai untuk memetakan proses afektif dan kognitif. Dalam konteks riset psikologi dan biomedis, pendekatan ini dianggap relevan karena kebutuhan metode yang lebih efektif dan efisien terus meningkat.

AI diuji dalam kondisi emosional tertentu

Tim peneliti dari TU Dresden menguji model bahasa besar dengan meminta sistem mensimulasikan kondisi yang umum dialami orang dengan gangguan mental. Kondisi yang diamati meliputi takut, cemas, marah, jijik, sedih, khawatir, dan stres.

Setelah itu, peneliti melihat bagaimana respons AI berubah saat diberi strategi regulasi emosi yang berbeda. Mereka juga menilai apakah model menampilkan pola kesalahan berpikir yang menyerupai manusia ketika berada dalam kondisi emosional tertentu.

Ketua Kelompok Riset PsikoDigital TU Dresden, dr Magdalena Wekenborg, menyebut hasil tersebut menunjukkan kemampuan model bahasa berskala besar untuk mereproduksi pola proses afektif dan kognitif manusia dalam kondisi terkontrol. Pernyataan itu dikutip dari Euronews.

Manfaatnya bagi riset psikologi dan biomedis

Peneliti menilai pendekatan berbasis AI memberi ruang untuk mengamati proses psikologis yang selama ini sulit diobservasi lewat eksperimen konvensional. Model bahasa besar dapat membantu menggambarkan keterkaitan antara emosi, penalaran, dan bahasa secara lebih sistematis.

Jakob N Kather dari TU Dresden menilai keunggulan utama AI terletak pada kemampuannya menjalankan eksperimen berulang dengan kondisi yang identik. Menurut dia, hal itu membuat data lebih mudah dibandingkan secara sistematis dan memungkinkan eksperimen baru berbasis data.

“Hal ini memungkinkan eksperimen baru berbasis data dalam penelitian psikologi dan biomedis yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan,” kata Kather.

Bukan emosi sungguhan, tetapi pola yang mirip manusia

Para peneliti menegaskan bahwa AI tidak memiliki emosi, kesadaran, atau kondisi mental seperti manusia. Meski begitu, model ini tetap dapat meniru cara memproses, memahami, dan menghasilkan bahasa sehingga responsnya dalam situasi tertentu terlihat menyerupai proses kognitif manusia.

Karena itu, AI dapat membantu membuka eksperimen yang sulit atau tidak mungkin dilakukan pada manusia maupun hewan karena keterbatasan etika dan teknis. Selama ini, studi kesehatan mental kerap memanfaatkan model hewan, tetapi pengalaman emosional manusia jauh lebih kompleks.

Relevan untuk kebutuhan metode baru

Di tengah proyeksi bahwa jumlah penderita gangguan mental di dunia dapat mencapai 1,2 miliar orang pada 2050, pencarian metode baru menjadi semakin mendesak. Temuan TU Dresden dinilai memberi arah tambahan bagi riset yang ingin memahami cara kerja emosi dan pikiran secara lebih tajam.

Perkembangan ini juga membuka peluang untuk menguji gagasan baru dalam terapi, termasuk kemungkinan psikoterapi berbasis percakapan. Meski demikian, para peneliti menegaskan AI bukan pengganti manusia dalam penelitian kesehatan mental maupun praktik psikologi.

AI lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu untuk simulasi, analisis data, dan penyusunan eksperimen. Hasilnya tetap perlu divalidasi secara kritis melalui penelitian yang melibatkan manusia secara langsung sebelum diterapkan lebih jauh.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait