AI Meniru Putra Yang Telah Tiada, Ibu 80 Tahun Tetap Berbincang Setiap Hari

Author: Redaksi Android62

Keputusan sebuah keluarga di China untuk menghadirkan versi AI dari anak yang telah meninggal memicu sorotan luas. Teknologi itu kemudian dipakai agar seorang ibu berusia 80 tahun tetap bisa melakukan panggilan video dengan sosok yang ia kira masih hidup.

Yang membuat kisah ini semakin menyentuh sekaligus mengusik, sang ibu disebut belum mengetahui bahwa putra tunggalnya sudah tewas dalam kecelakaan lalu lintas tahun lalu. Keluarga memilih menahan kabar itu dan menggantinya dengan kehadiran digital yang dibuat semirip mungkin dengan almarhum.

AI dibangun dari kenangan keluarga

Permintaan pembuatan kloning AI itu datang dari anak pria yang tewas, menurut laporan media lokal Litchi News. Tujuannya sederhana, yakni agar sang ibu tidak merasa sendiri dan tetap mendapat “teman bicara” yang terasa akrab.

Pemimpin tim AI, Zhang Zewei, mengatakan pihaknya mengumpulkan banyak foto, video, dan rekaman audio. Dari bahan tersebut, tim membangun sosok digital yang bisa meniru dialek, kebiasaan berbicara, dan bahkan gerakan membungkuk ke depan saat berbicara.

Hasilnya, figur AI itu dinilai sangat mirip dengan mendiang anak tersebut. Sejak selesai dibuat, sosok digital itu rutin menghubungi sang ibu setiap hari melalui panggilan video.

Percakapan yang terasa nyata bagi sang ibu

Dalam keseharian, ibu berusia 80 tahun itu memperlakukan lawan bicaranya sebagai putranya sendiri. Ia kerap menasihati “anaknya” agar makan dengan baik, memakai pakaian hangat, dan menjaga keselamatan saat bepergian.

Di sisi lain, AI itu menjawab dengan nada lembut dan menenangkan. Sosok digital tersebut beralasan sedang bekerja di kota lain sehingga tidak bisa pulang untuk menemani sang ibu secara langsung.

Salah satu percakapan yang dikutip South China Morning Post menunjukkan betapa kuat rasa rindunya. Sang ibu meminta agar putranya lebih sering menelepon supaya ia tahu kondisi anaknya baik-baik saja di kota lain.

Ia juga mengaku sangat merindukan putranya dan menyesal karena tidak bisa bertemu langsung. Balasan dari AI terdengar meniru gaya anak yang berbakti, dengan janji akan pulang setelah menghasilkan uang yang cukup.

Kondisi sang ibu ikut jadi perhatian

Keputusan keluarga untuk menyembunyikan kabar kematian itu tidak lepas dari kondisi sang ibu. Ia disebut mengidap penyakit jantung, sehingga keluarga khawatir berita sebenarnya akan memperburuk keadaannya.

Karena alasan itu, keluarga memilih agar AI tetap menjadi penghubung harian yang memberi rasa ditemani. Langkah tersebut diambil demi menjaga sang ibu tetap tenang dan tidak merasa sendirian.

Namun, pilihan itu juga memunculkan dilema etis yang tidak kecil. Di satu sisi, teknologi ini memberi kenyamanan emosional, tetapi di sisi lain ada risiko besar jika kebenaran akhirnya terungkap.

Perdebatan yang meluas di media sosial

Kisah ini kemudian viral di media sosial China dan memancing reaksi yang terbelah. Sebagian warganet menilai penggunaan AI seperti ini bisa menjadi cara untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.

Sebagian lainnya justru menyoroti dampak psikologis yang mungkin muncul di kemudian hari. Ada juga yang menilai sang ibu telah lama hidup dalam ketidakbenaran, sehingga pengungkapan fakta bisa membawa luka yang lebih besar.

Perdebatan tersebut membuat kasus ini melampaui sekadar cerita keluarga. Di tengah rasa duka, teknologi AI kembali dipertanyakan batasnya saat dipakai untuk meniru kehadiran orang yang sudah tiada.

Source: www.cnbcindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru