Split-Shift Parenting Bikin Beban Rumah Lebih Adil, Ini Cara Kerjanya

Author: Redaksi Android62

Pembagian tugas rumah tangga sering menjadi sumber kelelahan dalam keluarga yang sama-sama bekerja, terutama ketika satu pihak merasa memikul beban lebih besar. Dalam situasi seperti itu, split-shift parenting menawarkan cara kerja yang lebih seimbang karena pengasuhan dan pekerjaan rumah dibagi berdasarkan waktu, kemampuan, dan kesepakatan bersama.

Pola ini tidak hanya mengatur siapa yang mengurus anak, tetapi juga siapa yang menangani pekerjaan domestik pada jam tertentu. Dengan pembagian seperti itu, tugas harian tidak menumpuk pada satu orang dan ritme keluarga bisa lebih mudah dijaga.

Beban yang sering tak terlihat

Persoalan pembagian kerja keluarga tidak berhenti pada tugas fisik seperti mencuci piring, menyapu, atau merapikan rumah. Ada beban mental load yang juga ikut menyita tenaga, karena mencakup perencanaan, mengingat jadwal, mengatur kebutuhan keluarga, dan mengantisipasi hal-hal yang akan datang.

Michelle Felder, LCSW, MA, yang meninjau artikel Parents, menjelaskan bahwa mental load adalah pekerjaan yang kerap tidak disadari ketika orangtua memikul sebagian besar tanggung jawab rumah tangga. Kondisi itu dapat memunculkan rasa tidak senang dan membuat pembagian tugas terasa jauh dari adil.

Giliran yang berganti, bukan beban yang menumpuk

Split-shift parenting bekerja dengan pola bergantian. Satu orang dapat fokus pada anak di pagi hari, sementara pasangannya mengambil alih pada sore atau malam.

Model yang sama juga bisa diterapkan pada pekerjaan rumah tangga. Pembagian ini membuat kontribusi keluarga dihitung bukan hanya dari jumlah tugas, melainkan juga dari jam dan tanggung jawab yang benar-benar dijalankan.

Penelitian yang dimuat di European Sociological Review berjudul “Couples’ Division of Employment and Household Chores and Relationship Satisfaction: A Test of the Specialization and Equity Hypotheses” menunjukkan bahwa kesetaraan jam kerja dalam pembagian pekerjaan rumah tangga berdampak positif pada kepuasan hubungan. Ketika kontribusi dianggap setara dan dihargai, kualitas hubungan cenderung membaik.

Komunikasi menentukan apakah sistem berjalan

Setiap keluarga memiliki ritme kerja yang berbeda, sehingga pembagian yang cocok untuk satu rumah belum tentu pas untuk rumah lain. Ada pasangan yang lebih nyaman membagi tugas berdasarkan jam kerja, sementara yang lain memilih pembagian berdasarkan hari tertentu.

Daniel Carlson, profesor madya di Universitas Utah, mengatakan kepada Time bahwa jumlah tugas yang dibagi merata sangat penting bagi kualitas hubungan pria dan perempuan. Ia juga menambahkan bahwa semakin banyak tugas yang dikerjakan bersama, semakin besar rasa keadilan dan kepuasan terhadap pengaturan rumah tangga.

Karena itu, komunikasi dan negosiasi menjadi kunci utama. Pasangan perlu menyusun daftar tugas bersama lalu menyesuaikannya dengan kekuatan dan kemampuan masing-masing, tanpa memaksakan sistem yang terasa berat bagi salah satu pihak.

Standar rumah tangga juga perlu disamakan

Konflik sering muncul bukan semata karena jumlah pekerjaan, tetapi karena perbedaan standar bersih dan rapi. Apa yang dianggap cukup oleh satu orang belum tentu memenuhi ukuran pasangan yang lain.

Perbedaan definisi soal kapan tugas harus dikerjakan dan seberapa sering tugas itu perlu dilakukan juga dapat memicu persepsi ketidakadilan. Kesepakatan yang jelas tentang standar rumah tangga membantu mengurangi gesekan dan membuat pembagian terasa lebih adil.

Sistem perlu diperiksa ulang secara berkala

Pembagian tugas yang terasa cocok hari ini belum tentu akan tetap sesuai beberapa waktu mendatang. Anak bertambah besar, jadwal kerja berubah, dan kebutuhan keluarga ikut bergerak mengikuti keadaan.

Karena itu, split-shift parenting perlu dievaluasi secara berkala. Tujuannya bukan mencari siapa yang salah, melainkan memastikan sistem masih berjalan baik bagi seluruh keluarga.

Carlson menyebut pasangan yang lebih banyak berbagi tugas bersama cenderung melaporkan hubungan yang lebih adil dan memuaskan. Split-shift parenting pada akhirnya bukan soal menghitung siapa paling sibuk, melainkan menjaga kerja sama agar tidak ada satu pihak yang terus-menerus merasa lelah atau terbebani.

Source: www.idntimes.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru