Akamai Technologies mencatat pendapatan tahunan di atas US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun dari kawasan Asia Pasifik pada 2025. Pencapaian itu menegaskan betapa besar peran APAC dalam bisnis perusahaan layanan awan dan keamanan siber tersebut.
Di saat yang sama, Akamai melihat arah pasar mulai berubah. Perusahaan kini menempatkan fokus lebih besar pada AI enterprise, terutama pada infrastruktur yang membawa proses AI lebih dekat ke pengguna akhir agar pemrosesan berlangsung lebih cepat, aman, dan relevan bagi kebutuhan bisnis.
AI masuk fase implementasi
Senior Vice President of Sales dan Managing Director Asia Pasifik Akamai, Sean Li, menilai tantangan terbesar bukan lagi membangun model AI. Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan AI tetap andal saat dipakai di lingkungan nyata, ketika latensi, skalabilitas, dan reliabilitas langsung memengaruhi pendapatan serta pengalaman pelanggan.
Sean mengatakan banyak perusahaan di Asia Pasifik memang mempercepat adopsi AI. Namun, mereka masih dibatasi arsitektur cloud konvensional yang tidak dirancang untuk inferensi real-time dalam skala besar.
Untuk menjawab kebutuhan itu, Akamai memindahkan proses inferensi ke edge. Langkah ini ditujukan agar pelanggan bisa menjalankan AI secara instan dan aman tanpa bergantung sepenuhnya pada cloud terpusat.
Edge menjadi pembeda utama
Pendekatan edge memberi nilai lebih karena layanan diposisikan lebih dekat ke titik interaksi pengguna. Akamai menilai kedekatan itu dapat memangkas waktu respons dan membantu perusahaan bergerak lebih cepat dalam menjalankan aplikasi AI.
Sean Li menyebut cara ini memungkinkan pelanggan merespons secara real-time dan menghadirkan pengalaman yang lebih baik dalam skala besar. Arah tersebut juga mengikuti perubahan industri yang bergerak dari model pelatihan terpusat menuju inferensi terdistribusi.
Dalam praktiknya, selisih waktu dalam hitungan milidetik bisa berdampak pada keterlibatan pelanggan, efisiensi operasional, dan manajemen risiko. Karena itu, kebutuhan terhadap infrastruktur yang dekat dengan pengguna akhir makin penting bagi perusahaan yang serius menjalankan AI.
Serangan siber membayangi sektor finansial
Percepatan layanan digital dan penggunaan AI juga datang bersama risiko keamanan yang makin besar, terutama di sektor keuangan. Lembaga finansial di Asia Pasifik menghadapi porsi serangan siber global yang terus naik seiring meluasnya perbankan digital, pembayaran real-time, dan layanan berbasis API.
Laporan Keamanan State of the Internet Akamai berjudul AI-Empowered Botnets and API Visibility Gaps: Attack Trends in Financial Services mencatat APAC menyumbang 52% dari seluruh serangan distributed denial-of-service atau DDoS Layer 7 global terhadap jasa keuangan pada 2025. Temuan itu menempatkan APAC sebagai wilayah yang paling sering diserang di layer aplikasi selama empat tahun berturut-turut.
Serangan DDoS Layer 7 menargetkan portal perbankan online, API pembayaran, dan aplikasi yang berhadapan langsung dengan pelanggan dengan trafik yang tampak sah. Pola seperti ini membuat deteksi dan pemblokiran jauh lebih sulit dibandingkan banjir trafik pada jaringan konvensional.
Visibilitas API masih tertinggal
Data Akamai menunjukkan perbankan menyumbang 44% serangan DDoS Layer 7, sedangkan fintech menyumbang 38%. Di sisi lain, sektor perbankan sendiri mencakup 92% serangan jaringan tingkat rendah di kawasan tersebut.
Akamai menilai persoalan utamanya bukan hanya volume serangan, tetapi juga kompleksitas lingkungan yang menjadi target. Persaingan bisnis dan penggunaan alat koding berbasis AI memang mempercepat peluncuran layanan baru ke produksi, tetapi tidak selalu dibarengi visibilitas aset digital yang memadai.
Perusahaan juga menyebut hanya 27% pemimpin TI yang mengetahui API mana yang mengekspos data sensitif. Pada saat yang sama, aktivitas bot canggih melonjak 147% pada akhir 2025, memperlihatkan tekanan keamanan yang semakin berat bagi organisasi finansial di kawasan ini.
Director of Security Technology and Strategy Asia Pasific Akamai, Reuben Koh, mengatakan perbankan dan sektor finansial kini menjadi salah satu pusat lingkungan keuangan digital yang paling cepat di dunia. Setiap layanan pembayaran, fitur mobile banking, integrasi fintech, dan alur kerja baru berbasis AI menambah dependensi yang dapat diuji oleh penyerang.
Dengan skala ancaman seperti itu, fokus Akamai pada edge dan inferensi AI yang lebih dekat ke pengguna tidak hanya ditujukan untuk mempercepat layanan. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan dan keandalan layanan digital yang terus berkembang di Asia Pasifik.
