Tekanan terhadap Akseleran dan Awantunai semakin besar karena kredit macet yang tinggi terus menggerus ruang gerak bisnis mereka. Di tengah penagihan yang belum selesai, kewajiban kepada para lender tetap harus dipenuhi sehingga risiko operasional ikut membesar.
Kondisi tersebut membuat keberlangsungan usaha dua platform pinjaman daring itu menjadi perhatian serius. Kepercayaan investor ritel juga ikut tertekan saat pengembalian dana berjalan lambat dan pemulihan pinjaman bermasalah belum menunjukkan hasil yang sepenuhnya memadai.
Akseleran masih menanggung gagal bayar bernilai jutaan dolar AS
Masalah paling berat terlihat pada Akseleran yang sebelumnya telah mengakui adanya gagal bayar bernilai jutaan dolar AS dari sejumlah borrower. Persoalan itu kemudian mendorong pembatasan kewenangan manajemen tertentu dan memaksa perusahaan menempuh restrukturisasi agar kegiatan usaha tetap berlangsung.
Akseleran juga sempat mengingatkan bahwa posisi kas perusahaan bisa menipis jika pemulihan pembiayaan bermasalah tidak berjalan sesuai harapan. Dalam situasi seperti itu, kekhawatiran soal likuidasi maupun penghentian operasional menjadi semakin besar.
Penjualan aset debitur belum cukup menutup kerugian
Untuk memperbaiki tingkat pengembalian kepada lender, Akseleran disebut berupaya menjual aset milik debitur yang gagal bayar. Langkah ini ditempuh agar dana yang bisa dipulihkan tetap mengalir ke para pemberi pinjaman.
Namun, hasil pemulihan itu diperkirakan tidak akan mampu menutup seluruh kerugian yang sudah terjadi. Artinya, beban kredit macet masih menjadi tantangan utama yang menekan bisnis fintech lending tersebut.
OJK ikut memantau penyelesaian pembiayaan bermasalah
Otoritas Jasa Keuangan turut mencermati penyelesaian kredit bermasalah di Akseleran. Regulator menyebut ada indikasi pengembalian dana kepada lender, meski penagihan dan litigasi terhadap debitur bermasalah masih berjalan.
OJK juga mencatat outstanding pendanaan Akseleran turun dibanding tahun sebelumnya. Penurunan itu menunjukkan adanya pembayaran kembali kepada investor, walau proses pemulihan secara keseluruhan masih belum tuntas.
Kepercayaan investor jadi ujian terbesar
Sorotan terhadap Akseleran dan Awantunai tidak hanya berkaitan dengan neraca perusahaan, tetapi juga dengan kepercayaan investor ritel yang menempatkan dana di platform pinjaman daring. Ketika pengembalian dana berjalan lambat, reputasi bisnis ikut menerima tekanan.
Selama pemulihan dan penyelesaian kewajiban kepada lender belum selesai, risiko terhadap bisnis kedua perusahaan tersebut tetap terbuka. Situasi ini sekaligus menjadi ujian besar bagi industri pinjaman online di dalam negeri.
