Mulai 20 Juli 2026, Akses di Pelabuhan ASDP Beralih ke Sistem Digital

Mulai 20 Juli 2026, kawasan pelabuhan penyeberangan ASDP akan memasuki pola pengawasan baru berbasis digital. Setiap orang, kendaraan, dan aktivitas di area pelabuhan ditargetkan dapat diidentifikasi, diverifikasi, serta dipantau dengan lebih optimal.

Perubahan tersebut bukan hanya menyangkut pintu masuk dan keluar. PT ASDP Indonesia Ferry menyiapkan penataan menyeluruh untuk memperketat keamanan, ketertiban, dan tata kelola di kawasan penyeberangan.

Registrasi Digital dan Zonasi Akses

Sistem baru akan menggabungkan registrasi elektronik, Face Recognition, zonasi akses, dan One Gate System. Kombinasi itu dirancang agar akses orang maupun kendaraan dapat dibatasi sesuai kebutuhan operasional di pelabuhan.

Zonasi akan membantu mengarahkan pergerakan pengguna jasa, pekerja, dan kendaraan secara lebih tertib. ASDP menilai pengaturan tersebut dapat mendukung keandalan operasi penyeberangan serta meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.

Direktur Operasional dan Transformasi ASDP, Rio Lasse, menyatakan sterilisasi tidak sebatas penataan jalur keluar-masuk. “Sterilisasi pelabuhan bukan sekadar pengaturan akses keluar-masuk, tetapi transformasi menyeluruh dalam tata kelola operasional,” kata Rio.

Ia menegaskan sistem tersebut disiapkan untuk memperkuat kemampuan pengawasan di dalam kawasan pelabuhan. “Kami ingin memastikan setiap orang, kendaraan, maupun aktivitas di kawasan pelabuhan dapat teridentifikasi, terverifikasi, dan termonitor secara optimal,” ujar Rio.

Enam Pelabuhan Masuk Tahap Sosialisasi

Menjelang penerapan bertahap, ASDP melakukan sosialisasi kepada regulator, operator kapal, aparat keamanan, mitra kerja, dan pengguna jasa. Kegiatan itu berlangsung di enam pelabuhan utama yang menjadi lokasi persiapan sterilisasi.

PelabuhanFokus Persiapan
MerakPatroli terpadu, penataan kawasan, penertiban akses, dan penguatan fasilitas pengawasan.
BakauheniPenyempurnaan infrastruktur, pendataan Face Recognition, dan pengaturan arus kendaraan.
KetapangSosialisasi mekanisme sterilisasi menjelang penerapan bertahap.
GilimanukSosialisasi mekanisme sterilisasi menjelang penerapan bertahap.
KayanganSosialisasi mekanisme sterilisasi menjelang penerapan bertahap.
LembarSosialisasi mekanisme sterilisasi menjelang penerapan bertahap.

Merak dan Bakauheni memiliki fokus persiapan yang lebih spesifik dibanding empat pelabuhan lainnya. Kedua pelabuhan tersebut menyiapkan penataan fisik dan digital untuk menunjang mekanisme akses baru.

Merak Perkuat Pengawasan Kawasan

Di Merak, ASDP menyiapkan patroli terpadu bersama regulator dan aparat keamanan. Penataan kawasan juga mencakup sosialisasi kepada pengguna jasa serta penertiban akses bagi pihak yang berkepentingan.

Fasilitas seperti CCTV, pagar pembatas, penerangan, rambu, dan pos pengawasan akan dioptimalkan untuk mendukung One Gate System. ASDP juga melakukan pendataan ulang pedagang dan mengatur area usaha di kawasan pelabuhan.

Sementara itu, Bakauheni menitikberatkan persiapan pada penyempurnaan infrastruktur dan sistem pengawasan digital. Pengaturan arus kendaraan serta pendataan pengguna berbasis Face Recognition menjadi bagian dari langkah yang disiapkan.

Kolaborasi Menjadi Penentu

Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menyebut sosialisasi sebagai tahap penting sebelum pelaksanaan penuh. “Transformasi ini hanya akan berhasil apabila seluruh stakeholder memiliki pemahaman dan komitmen yang sama,” ujarnya.

Menurut keterangan ASDP pada 17 Juli 2026, kebijakan ini tidak ditujukan untuk menutup aktivitas masyarakat di pelabuhan. Sterilisasi dirancang untuk membangun budaya keselamatan, keamanan, kedisiplinan, dan pelayanan prima dalam layanan penyeberangan.

ASDP menempatkan kerja sama regulator, operator kapal, aparat keamanan, dan mitra kerja sebagai unsur penting pelaksanaan program. Perusahaan berharap sistem tersebut menjadi fondasi penyeberangan yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan bagi konektivitas nasional.

Source: money.kompas.com
Berita Terkait