Tekanan paling besar pada awal perdagangan datang dari saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan utama setelah turun 4 persen ke Rp 4.800 per saham, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang melemah 1,33 persen ke Rp 4.440 per saham dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang terkoreksi 0,80 persen ke Rp 3.740 per saham.
Pergerakan itu ikut menyeret IHSG ke area 5.400-an sejak sesi pembukaan. Pada pukul 09.05 WIB, indeks tercatat turun 182,44 poin atau 3,26 persen ke 5.412,32 setelah sempat dibuka di 5.486,11.
Rentang pergerakan indeks pada pagi itu juga menunjukkan tingginya gejolak. IHSG bergerak fluktuatif di kisaran 5.370,32 hingga 5.490,11, sementara tekanan jual sudah terasa kuat sejak awal perdagangan.
Kondisi pasar yang memerah tidak lepas dari gabungan sentimen geopolitik dan isu jual saham oleh investor asing. Kekhawatiran atas eskalasi geopolitik bertemu dengan spekulasi “sell Indonesia” yang memunculkan dugaan aksi jual massal, sehingga tekanan di bursa makin dalam.
Dalam waktu yang sangat singkat, pelaku pasar juga terlihat melepas saham dalam jumlah besar. Aksi jual yang berlangsung sekitar 10 menit pada pagi itu membuat kepanikan cepat menyebar di pasar, terutama pada saham-saham unggulan yang selama ini menjadi penopang indeks.
Situasi tersebut memperlihatkan betapa sensitifnya pasar terhadap kabar eksternal dan arus dana asing. Ketika sentimen berubah cepat, saham berkapitalisasi besar kerap menjadi sasaran pertama dan dampaknya langsung terasa pada pergerakan indeks secara keseluruhan.
Di tengah kondisi yang bergejolak, pemerintah meminta investor tetap melihat kondisi ekonomi nasional secara lebih detail. Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menekankan agar investor menilai fundamental sebelum mengambil keputusan di tengah tekanan pasar.
“Jadi, teman-teman investor tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonomi kita seperti apa. Yang bisa saya katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan bapak presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan presiden,” kata Purbaya Yudhi Sadewa.
Pernyataan itu menjadi upaya menjaga kepercayaan pasar saat saham-saham bank besar tertekan dan IHSG bergerak liar. Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada apakah kepanikan di awal perdagangan akan mereda atau justru berlanjut mengikuti sentimen yang masih berkembang.







