Persib Bandung kini menanggung beban yang jauh lebih besar dari sekadar hasil di lapangan. AFC menjatuhkan total sanksi Rp4,6 miliar kepada klub asal Bandung itu setelah rangkaian pelanggaran disiplin yang terjadi sepanjang musim kompetisi antarklub Asia.
Hukuman tersebut tidak hanya berupa denda. AFC juga memberlakukan larangan menggelar laga kandang dengan penonton untuk dua pertandingan musim mendatang melalui skema penangguhan sebagian, sehingga dampaknya ikut masuk ke sisi operasional klub.
Lima pelanggaran yang memicu akumulasi denda
Beban Persib tidak muncul dari satu insiden saja. AFC mencatat ada lima pelanggaran regulasi yang kemudian menumpuk menjadi denda besar dalam satu musim.
Catatan sanksi itu sudah dimulai sejak Oktober 2025, saat Persib dikenai denda Rp33 juta karena persoalan penomoran kursi penonton. Setelah itu, hukuman berikutnya datang saat Persib menjamu Selangor FC dan harus membayar US$26.250 atau sekitar Rp436 juta.
Pada laga melawan Selangor FC, AFC menyorot penyalakan flare dan pelemparan benda keras ke area lapangan. Pelanggaran yang serupa juga kembali muncul ketika Persib menjamu Bangkok United.
Di pertandingan melawan Bangkok United, Persib kembali dikenai denda Rp503 juta. AFC mencatat sembilan flare menyala serta akses keluar stadion yang tidak steril sebagai faktor yang memberatkan sanksi.
Insiden Ratchaburi menjadi hukuman terbesar
Denda terbesar dijatuhkan AFC pada Rabu, 13 Mei 2026, dan berkaitan dengan pertandingan melawan Ratchaburi. Laga yang berlangsung pada 18 Februari 2026 itu berakhir ricuh setelah wasit meniup peluit panjang.
Insiden tersebut menjadi catatan terberat bagi tim Indonesia di ajang AFC Champions League Two musim ini. AFC menilai akumulasi masalah disiplin dalam laga itu mempertegas alasan untuk menjatuhkan sanksi finansial dan pembatasan penonton.
Sanksi lain juga datang dari laga tandang Persib ke markas Ratchaburi. Pada pertandingan tersebut, perilaku suporter kembali dinilai menyimpang dan memicu denda tambahan Rp148 juta.
Dampak tidak berhenti di stadion kandang
Rangkaian hukuman ini menunjukkan bahwa masalah Persib tidak hanya muncul di satu lokasi. AFC melihat pelanggaran terjadi di kandang dan tandang, sehingga pola disiplin klub ikut menjadi sorotan.
Dari seluruh pelanggaran itu, total sanksi yang harus dibayarkan Persib mencapai Rp4,6 miliar. Angka tersebut menjadi tekanan besar karena datang sebagai akumulasi hukuman sepanjang musim, bukan akibat satu kejadian tunggal.
AFC juga menilai standar infrastruktur, keamanan, dan ketertiban stadion belum terpenuhi secara konsisten sejak fase grup dimulai. Kondisi itu membuat Persib tidak hanya menghadapi beban finansial, tetapi juga ancaman gangguan pada atmosfer pertandingan kandang musim berikutnya.
Di tengah upaya bersaing di level Asia, hukuman beruntun ini menjadi persoalan tambahan bagi Persib. Klub kini harus menanggung konsekuensi di luar urusan teknis permainan, termasuk pembatasan yang berpotensi memengaruhi laga kandang pada musim mendatang.
Source: www.suara.com






