Rencana SpaceX untuk membangun masa depan di Mars dan di orbit dinilai masih jauh dari kenyataan, meski perusahaan itu terus mengumpulkan pencapaian teknis yang besar. Sejumlah pakar menilai target yang dipasang Elon Musk terlalu cepat dibandingkan hambatan nyata yang harus diselesaikan.
Keraguan itu menguat karena SpaceX memang telah membuktikan diri dalam satu hal penting, yaitu roket yang sebagian bisa digunakan kembali. Teknologi yang dulu dianggap mustahil itu kini membuat SpaceX mampu melakukan peluncuran lebih banyak daripada semua penyedia lain jika digabungkan.
Target Mars masih dibayangi banyak hambatan
Fokus paling ambisius SpaceX tetap tertuju pada Mars, tetapi banyak ahli melihat gagasan koloni berpenghuni massal sebagai proyek yang sangat panjang. Robert Zubrin, insinyur sekaligus presiden Mars Society, mengakui keberhasilan SpaceX nyata, namun ia juga menilai Musk kerap membuat klaim yang tidak realistis dan terus menggeser tenggat waktu.
Christian Bach, kepala divisi transportasi antariksa di Technical University of Dresden, bahkan menilai gagasan tersebut sama sekali tidak realistis. Ia menyebut kemungkinan menempatkan beberapa orang saja di Planet Merah pada abad ini masih kecil, karena tantangan teknologi dan biologis belum terpecahkan.
Scott Hubbard, mantan pejabat senior NASA, menambahkan bahwa Starship saja belum cukup untuk membuka jalan ke Mars. Menurut dia, astronot juga membutuhkan sistem penunjang kehidupan baru, termasuk daur ulang oksigen dan air, serta keterlibatan NASA agar proyek itu bisa benar-benar berjalan.
Starship, pengisian bahan bakar orbit, dan persoalan jadwal
SpaceX mengandalkan Starship untuk perjalanan pulang pergi ke Mars yang disebut memakan waktu sekitar tiga tahun. Namun Hubbard menyoroti satu hambatan besar lain, yaitu pengisian bahan bakar di orbit yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Skema itu menuntut beberapa roket diluncurkan sekaligus, dengan satu wahana membawa kru atau kargo dan wahana lain membawa tangki oksigen cair serta metana cair untuk dipindahkan melalui sambungan khusus. Hubbard menilai para insinyur SpaceX memang sangat kuat, tetapi masalah utama tetap terletak pada jadwal pelaksanaan.
Proyek orbit dan hitung-hitungan ekonomi yang belum meyakinkan
Di luar Mars, SpaceX juga mendorong Starship yang dimodifikasi untuk menjadi pendarat bulan bagi program Artemis NASA. Perusahaan itu bahkan tengah mengembangkan konstelasi satelit baru untuk mendukung pusat data AI orbital.
Ide memindahkan pusat data AI yang boros energi ke luar angkasa terdengar menarik, tetapi Kathleen Curlee, analis antariksa di Georgetown University, menilai aspek ekonominya belum masuk akal saat ini. Robert Zubrin lebih tegas lagi dengan menyebut gagasan itu sebagai fiksi, sembari menyindir bahwa unggul membangun kapal laut tidak otomatis berarti lokasi terbaik untuk AI ada di tengah laut.
Meski begitu, SpaceX tetap memiliki modal besar untuk meneruskan proyek-proyek tersebut setelah masuknya dana yang belum pernah terjadi sebelumnya dari IPO perusahaan. Di saat yang sama, industri antariksa masih rapuh, tercermin dari ledakan besar di landasan peluncuran yang dialami Blue Origin.
Dengan sederet target itu, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah SpaceX mampu meluncurkan roket, melainkan apakah semua visi besarnya bisa mengikuti jadwal yang dipasang. Sejumlah pengamat menilai keberhasilan teknis perusahaan tidak otomatis berarti seluruh ambisi Elon Musk dapat tercapai sesuai rencana.







