Belanja militer dunia kini berada di titik tertinggi sepanjang sejarah setelah tembus 2,887 triliun dolar AS. Lonjakan ini menandakan banyak negara masih menambah atau mempertahankan anggaran pertahanan di tengah situasi keamanan yang belum stabil.
Data Stockholm International Peace Research Institute atau SIPRI menunjukkan kenaikan itu terjadi selama 11 tahun berturut-turut. Beban militer global juga sudah setara 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto dunia, angka tertinggi sejak 2009.
Tekanan konflik mendorong anggaran pertahanan
Peneliti Program Pengeluaran Militer dan Produksi Senjata SIPRI, Xiao Liang, menilai kenaikan besar ini sangat terkait dengan konflik yang masih berlangsung. Perang di Ukraina, Gaza, dan Sudan disebut ikut mendorong banyak pemerintah tetap menjalankan atau menambah rencana belanja pertahanan yang sudah disusun sebelumnya.
Liang menjelaskan bahwa pola yang terlihat saat ini menunjukkan respons langsung atas perang, ketegangan, dan ketidakpastian geopolitik. Ia juga memperkirakan tren belanja tinggi ini masih bisa berlanjut hingga 2026 dan seterusnya jika krisis belum mereda.
Eropa mencatat lonjakan paling tajam
Kawasan Eropa menjadi pendorong utama kenaikan global dengan pertumbuhan 14 persen hingga mencapai 864 miliar dolar AS. Invasi Rusia ke Ukraina membuat negara-negara NATO di Eropa tengah dan barat memperkuat pertahanan untuk mencegah agresi lanjutan.
Spanyol menjadi salah satu negara dengan lonjakan paling besar setelah anggarannya naik 50 persen. Liang menilai fokus belanja keamanan di kawasan ini kini bergeser ke negara-negara Eropa tengah dan barat yang mulai menjalankan militerisasi secara lebih nyata.
Jerman juga tampil sebagai motor besar dengan belanja 114 miliar dolar AS. Pemerintah negara itu mengubah aturan fiskal agar belanja militer dikecualikan dari rem utang, di tengah ketidakpastian jaminan keamanan dari Amerika Serikat.
Liang menilai kenaikan anggaran tidak otomatis langsung meningkatkan kemampuan tempur dalam waktu singkat. Namun, dalam jangka panjang, ia melihat Jerman akan menjadi lebih mandiri secara militer.
Amerika Serikat masih terbesar, tetapi turun
Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan belanja militer terbesar di dunia, meski tahun ini angkanya turun 7,5 persen menjadi 954 miliar dolar AS. Penurunan itu terjadi karena Kongres belum menyetujui bantuan militer baru untuk Ukraina yang biasanya ikut dihitung dalam belanja donor.
Liang mengatakan tren tersebut mulai berbalik. Ia juga melihat anggaran 2026 yang baru disetujui Kongres AS memberi sinyal kenaikan besar, terutama karena perang di Timur Tengah dan meningkatnya ketegangan di Asia masih membutuhkan biaya operasional yang tinggi.
SIPRI menilai menurunnya porsi Amerika Serikat dalam total belanja global bukan disebabkan pemangkasan besar di negara-negara teratas. Penyebab utamanya adalah kenaikan yang lebih luas di banyak negara lain, terutama di kelompok kekuatan menengah.
Asia ikut mempercepat modernisasi senjata
Di Asia, Cina tetap menempati posisi kedua dengan kenaikan belanja 7,4 persen sebagai bagian dari modernisasi militer menuju 2035. Perkembangan itu memicu respons dari Jepang, Taiwan, dan Filipina yang juga menaikkan anggaran pertahanan mereka.
Liang menyebut modernisasi militer Cina dan ketegangan dengan negara-negara tetangga sudah lama mendorong kenaikan belanja di kawasan. Ia menambahkan bahwa Australia, Jepang, dan Taiwan juga berada di bawah tekanan untuk lebih mandiri dalam pertahanan.
India berada di posisi kelima dengan belanja 92,1 miliar dolar AS. Kenaikan itu dipicu ketegangan dengan Cina serta konflik perbatasan dengan Pakistan sepanjang 2025, termasuk investasi besar pada bidang dirgantara dan drone yang banyak digunakan dalam konflik tersebut.
Risiko fiskal dan keamanan ikut membesar
Di balik kenaikan anggaran pertahanan, ada tekanan baru pada ruang fiskal pemerintah. Liang mengingatkan bahwa belanja senjata tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga dengan keputusan anggaran yang bisa memengaruhi layanan sosial dan bantuan pembangunan.
Ia menyebut pemerintah di berbagai negara mungkin akan menghadapi pilihan sulit jika anggaran pertahanan terus naik. Dalam kondisi seperti itu, layanan sosial atau bantuan pembangunan berpotensi terpangkas demi menjaga prioritas keamanan.
SIPRI juga menilai akumulasi persenjataan global yang terus bertambah dapat meningkatkan risiko salah perhitungan antarnegara. Pada saat yang sama, kepercayaan antarnegara bisa menurun, sehingga tantangan keamanan dunia menjadi semakin kompleks.







