Anak dengan alergi protein susu sapi tetap dapat mengonsumsi daging sapi selama tidak memiliki alergi lain yang menyertainya. Penegasan ini datang dari dokter spesialis anak konsultan alergi imunologi, dr Molly Dumakuri Oktarina, yang menekankan bahwa alergi susu sapi tidak otomatis sama dengan alergi daging sapi.
Kesalahpahaman ini masih sering terjadi di banyak keluarga karena semua produk yang berasal dari sapi kerap dianggap harus dihindari. Padahal, pemicu reaksi alergi pada kasus ini ada pada protein susu sapinya, bukan pada dagingnya.
Alergi susu sapi dan daging sapi tidak identik
dr Molly menjelaskan bahwa anak yang mengalami alergi protein susu sapi umumnya bereaksi terhadap komponen susu saja. Karena itu, daging sapi tetap bisa menjadi sumber protein yang aman apabila anak tidak memiliki alergi tambahan terhadap daging.
Ia menegaskan, “Kalau alergi terhadap protein susu sapi hanya protein susu sapinya saja, dagingnya tidak. Jadi masih bisa makan daging.” Penjelasan ini penting agar pembatasan makanan tidak dilakukan secara berlebihan.
Riwayat keluarga dapat meningkatkan risiko
Faktor keturunan menjadi salah satu unsur penting dalam munculnya alergi pada anak. Risiko akan meningkat bila ada orang tua atau saudara kandung yang memiliki riwayat alergi.
Menurut dr Molly, jika salah satu orang tua atau salah satu saudara kandung memiliki alergi, risiko anak mengalami alergi berada di kisaran 20 persen sampai 40 persen. Jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi, risikonya naik menjadi 40 persen sampai 60 persen.
Risiko tetap ada meski keluarga tidak punya riwayat alergi
Meski riwayat keluarga berpengaruh besar, alergi tetap bisa muncul pada anak yang orang tuanya tidak memiliki alergi. Berdasarkan sejumlah penelitian yang dikutip dr Molly, risiko pada anak dari orang tua tanpa riwayat alergi tetap berada di sekitar 5 persen.
Secara medis, alergi umumnya muncul dari perpaduan dua faktor, yakni keturunan dan paparan alergen. Jika hanya satu faktor yang ada, gejala alergi cenderung tidak mudah berkembang.
ASI dan cara persalinan ikut memengaruhi
dr Molly juga menekankan pentingnya pemberian ASI sebagai langkah utama untuk membantu menurunkan risiko alergi pada anak. ASI dinilai mendukung perkembangan sistem imun pada masa awal kehidupan.
Selain itu, cara persalinan turut memengaruhi mikrobiota atau bakteri baik dalam tubuh anak. Mikrobiota tersebut berperan dalam membentuk respons imun yang lebih seimbang.
“Cara persalinan itu berpengaruh semuanya pada mikrobiota baik pada anak. Karena mikrobiota baik itu bisa mempercepat atau membantu pemaparan sistem imun sehingga dapat mencegah kejadian alergi,” ujarnya.
Pemahaman yang tepat mengenai alergi susu sapi membantu orang tua menyusun pola makan anak dengan lebih aman. Dalam kondisi alergi yang hanya berkaitan dengan protein susu sapi, daging sapi tetap dapat dipertimbangkan sebagai sumber protein yang tidak perlu langsung dihindari.
Source: www.beritasatu.com






