Memberikan gadget kepada anak tanpa arahan dapat menimbulkan risiko, bahkan ketika anak sudah berada di usia sekolah dasar. Psikolog klinis anak Nisfie M. Hoesein menekankan bahwa kehadiran orang tua lebih menentukan daripada sekadar patokan usia anak.
Menurutnya, anak usia dua tahun yang menggunakan perangkat bersama orang tua bisa lebih terlindungi dibanding anak sekolah dasar yang mengaksesnya sendirian. Perbedaannya terletak pada ada atau tidaknya orang dewasa yang membantu anak memahami konten dan aktivitas digitalnya.
Risiko yang Tidak Selalu Bisa Disaring
Ruang digital tidak dapat dibuat sepenuhnya steril karena algoritma dapat menampilkan konten yang tidak sesuai usia anak. Karena itu, anak perlu belajar mengenali rasa tidak nyaman dan memahami bahwa pengalaman tersebut harus diceritakan kepada orang tua.
Orang tua dapat mengenalkan sejak dini bahwa tidak semua materi di internet menyenangkan atau pantas ditiru. Pesan sederhana seperti meminta anak segera bercerita apabila menemukan sesuatu yang mengganggu dapat membangun rasa aman.
Pendampingan juga berkaitan dengan perkembangan anak di luar layar. Penggunaan gadget tanpa pengawasan dikhawatirkan mengurangi kesempatan anak melatih empati, komunikasi verbal, dan kemampuan menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata.
Interaksi digital yang terlalu sering dapat membuat gerak tubuh anak kurang terolah. Kondisi itu berpotensi berkaitan dengan gangguan perkembangan fisik dan metabolik, termasuk risiko obesitas.
Pendampingan Berubah Sesuai Usia
Bentuk pengawasan tidak harus sama pada setiap tahap pertumbuhan anak. Orang tua dapat meningkatkan kepercayaan secara bertahap sambil tetap membuka jalur percakapan mengenai pengalaman anak di internet.
| Usia Anak | Bentuk Pendampingan | Peran Orang Tua |
|---|---|---|
| 2-5 tahun | Pendampingan fisik | Berada dekat saat anak menggunakan gadget |
| Di atas 8 tahun | Kepercayaan bertahap | Mengajak anak berbagi pengalaman setelah mengakses konten sendiri |
Pada rentang usia dua hingga lima tahun, orang tua perlu berada dekat dengan anak saat perangkat digunakan. Kehadiran tersebut memungkinkan penjelasan diberikan segera atau perhatian anak dialihkan ketika muncul konten yang tidak sesuai.
Saat anak berusia di atas delapan tahun, kepercayaan dapat diberikan sedikit demi sedikit. Namun, kepercayaan itu perlu ditopang aturan yang sudah dikenalkan sejak awal serta kebiasaan anak untuk bercerita di rumah.
Gadget sebagai Media Belajar
Nisfie menilai gadget tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai ancaman atau perangkat hiburan. Bagi generasi yang tumbuh dekat dengan teknologi, perangkat digital juga menjadi jalur untuk menemukan pengetahuan, permainan, dan berbagai bentuk hiburan.
Karena itu, kesiapan menggunakan gadget tidak cukup diukur dari usia anak. Kesiapan keluarga dalam membangun Literasi Digital Anak justru menjadi bagian penting agar perangkat dapat dipakai sebagai media pembelajaran yang sehat.
“Anak kita siapkan untuk siap literasi digital, ya itu gadget menjadi media pembelajaran. Kalau jadi media, itu enggak lagi bicara kapan siap atau tidak,” kata Nisfie dalam perbincangan dengan CNN Indonesia.
Ia menggambarkan anak sebagai pihak yang memegang kendali, sedangkan orang tua bertindak sebagai pendamping yang membantu membaca arah. Peran Pendampingan Orang Tua bukan mengambil alih seluruh aktivitas anak, melainkan menavigasi pilihan dan membuka ruang dialog.
Orang tua dapat menetapkan jenis konten yang boleh diakses, lalu meminta anak menceritakan kembali apa yang mereka tonton atau buka. Pola komunikasi ini membuat Penggunaan Gadget tidak berhenti pada durasi layar, melainkan menjadi kesempatan belajar bersama.
