Paparan rokok di kalangan anak sekolah dan remaja terus terlihat sebagai persoalan yang tidak kecil. Di berbagai temuan terbaru, kelompok usia muda justru muncul sebagai sasaran paling rentan, baik dari rokok konvensional maupun rokok elektrik.
Data kesehatan yang tersedia memperkuat kekhawatiran itu. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan sekitar 7,4% dari 70 juta perokok aktif berada pada kelompok usia 10-18 tahun, sementara kelompok usia 15-19 tahun menjadi penyumbang perokok terbanyak dengan porsi 56,5%.
Kondisi tersebut membuat isu rokok tidak lagi bisa dipandang sebagai kebiasaan orang dewasa semata. Anak dan remaja kini ikut masuk dalam lingkaran risiko yang sama, di saat mereka masih berada pada fase tumbuh kembang.
Lazuardi Hakiman Hanif dari Indonesian Youth Council for Tactical Changes atau IYCTC menilai paparan iklan punya peran besar dalam mendorong remaja menjadi perokok aktif. Menurut dia, remaja yang terpapar iklan rokok memiliki peluang 1,67 kali lebih besar untuk merokok aktif.
Peringatan itu disampaikan di tengah semakin banyaknya anak muda yang terdorong masuk ke kebiasaan merokok sejak dini. IYCTC melihat persoalan ini bukan hanya soal pilihan individu, melainkan juga soal lingkungan yang masih memberi ruang luas bagi industri tembakau.
Gambaran nasional ikut memperlihatkan besarnya persoalan yang dihadapi. Dari Riset Kesehatan Indonesia 2023, jumlah perokok aktif di Indonesia tercatat lebih dari 70,2 juta jiwa, dan Indonesia berada di peringkat ke-3 dunia untuk jumlah konsumen tembakau tertinggi setelah China dan India.
Situasi di lapangan juga menunjukkan paparan itu terjadi sangat dekat dengan kehidupan anak. Melalui program Dewan Perwakilan Remaja atau DPRemaja, IYCTC menemukan di Cilincing, Matraman, dan Tanah Abang terdapat 86.541 anak yang setiap hari terpaksa terpapar asap rokok serta dikepung 254 titik iklan.
Temuan tersebut menegaskan bahwa ancaman rokok hadir bukan hanya lewat produk yang dijual murah. Promosi yang terus muncul di ruang publik ikut memperkuat risiko, terutama bagi anak dan remaja yang mudah terpengaruh.
Lazuardi juga menyoroti pola iklan yang kerap memakai tema petualangan untuk produk tembakau dan vape. Narasi semacam itu dinilai dapat membuat rokok tampak menarik di mata generasi muda, padahal dampaknya justru mendorong kebiasaan berisiko sejak dini.
Tren nasional menunjukkan pola yang serupa. Data Global Youth Tobacco Survey 2019 mencatat prevalensi perokok pada anak sekolah usia 13-15 tahun naik dari 18,3% pada 2016 menjadi 19,2% pada 2019.
Ancaman di kalangan muda juga meluas ke rokok elektrik. Data Global Adult Tobacco Survey 2021 menunjukkan prevalensi pengguna rokok elektrik pada remaja naik tajam dari 0,3% pada 2019 menjadi 3% pada 2021.
Ketua PKJS UI Aryana Satrya menilai momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia perlu menjadi pengingat agar generasi usia produktif tidak terus dijadikan sasaran pemasaran industri rokok. Ia menekankan bahwa kesehatan dan produktivitas anak muda semestinya dijaga, apalagi di tengah peluang bonus demografi.
Dengan kombinasi harga murah, iklan yang mudah ditemui, dan paparan yang dekat dengan ruang hidup anak, risiko adiksi nikotin pada remaja menjadi semakin besar. Karena itu, pencegahan di ruang publik, sekolah, dan lingkungan sekitar anak kian mendesak untuk diperkuat.
Source: lifestyle.bisnis.com