Ancaman Karier dan Pelecehan Seksual Diungkap Dalam Gugatan Terhadap Eksekutif JPMorgan Lorna Hajdini

Author: Redaksi Android62

Gugatan terhadap Lorna Hajdini menempatkan JPMorgan Chase dalam sorotan setelah seorang rekan kerja pria yang lebih muda menuduh adanya pelecehan seksual, pelecehan rasial, dan ancaman yang berdampak pada kariernya. Dalam berkas yang diajukan ke New York County Supreme Court, Hajdini disebut menggunakan sebutan “Brown boy Indian” kepada korban yang diidentifikasi sebagai John Doe.

Di luar tuduhan kata-kata bernuansa rasis, gugatan itu juga memuat klaim tentang tekanan yang dilakukan lewat posisi kuasa di tempat kerja. Korban mengaku tidak hanya menghadapi perilaku yang bersifat seksual, tetapi juga ancaman profesional yang membuat situasi di lingkungan bank besar tersebut menjadi semakin serius.

Dugaan tekanan di kantor

Menurut dokumen perkara, dugaan pelecehan mulai muncul setelah keduanya bekerja bersama pada musim semi 2024. Salah satu peristiwa yang dicantumkan menyebut Hajdini menjatuhkan pena di dekat meja korban, lalu menunggu ketika korban membungkuk untuk mengambilnya.

Pada momen itu, ia diduga menggosok kaki korban dan mencengkeram betisnya. Gugatan juga menyebut adanya komentar bernada seksual tentang pemain basket, yang memperkuat klaim bahwa interaksi tersebut tidak berhenti pada candaan biasa.

Korban kemudian mengaku diajak minum, namun ajakan itu ditolak. Setelah penolakan tersebut, Hajdini disebut mengancam akan menghancurkan karier korban, sehingga tuduhan ini tidak hanya menyangkut pelecehan verbal dan fisik, tetapi juga intimidasi yang dikaitkan dengan jabatan yang dimilikinya.

Ancaman yang dikaitkan dengan ras dan promosi

Tekanan disebut berlanjut pada September 2024. Dalam gugatan, Hajdini kembali diduga mengancam korban jika tidak berhubungan seks dengannya, sambil merendahkan kinerja profesional korban di hadapan konteks yang dikaitkan dengan ras dan identitas etnisnya.

Berkas perkara juga memuat pernyataan yang menggambarkan ancaman terhadap peluang karier korban. Salah satu kutipan yang disorot adalah referensi bahwa manajemen tidak menginginkan “Brown boy Indian” memimpin originations, yang memperkuat tuduhan bahwa dugaan tindakan itu memuat unsur diskriminasi rasial dan hambatan profesional sekaligus.

Klaim soal pemaksaan dan penggunaan obat

Korban menyatakan akhirnya menyerah karena takut akan pembalasan. Ia juga mengaku penolakannya sempat terdengar oleh saksi yang berada di kamar sebelah, yang menurut gugatan dapat memperkuat dugaan bahwa peristiwa itu benar terjadi dalam situasi nyata.

Dalam dokumen yang sama, Hajdini disebut mengakui memberikan Rohypnol, obat yang kerap dikenal sebagai “roofies” atau date-rape drug, serta zat farmasi untuk membantu ereksi agar korban dapat melakukan hubungan seksual yang dipaksakan. Bagian ini menjadi salah satu tuduhan paling berat karena berkaitan dengan dugaan penggunaan obat untuk memfasilitasi kekerasan seksual.

Peristiwa di apartemen korban

Gugatan juga menguraikan kejadian di apartemen korban saat Hajdini datang dan diduga melakukan pendekatan seksual secara paksa. Ia disebut membuka pakaian atas, menyentuh bagian tubuhnya sendiri, lalu melontarkan komentar yang menghina istri korban dengan muatan rasis.

Berkas perkara menuduh Hajdini memaksa korban melepas celana dan melakukan oral seks tanpa persetujuan. Saat korban menangis, Hajdini disebut justru memarahinya karena tidak ereksi, yang menambah gambaran tentang unsur pemaksaan dan penghinaan dalam insiden tersebut.

Keluhan ke perusahaan dan respons JPMorgan

Pada Mei 2025, John Doe mengajukan keluhan tertulis ke JPMorgan Chase. Laporan itu memuat dugaan diskriminasi berbasis ras dan gender, pelecehan, serta pola yang disebut sebagai “severe sexual abuse”.

Pihak bank menyatakan tidak menemukan bukti yang mendukung tuduhan tersebut setelah melakukan penyelidikan internal. Juru bicara JPMorgan mengatakan banyak karyawan telah bekerja sama dalam proses pemeriksaan, tetapi pengadu disebut menolak ikut serta dan tidak memberikan fakta penting yang dapat mendukung klaimnya.

Dampak pada korban dan posisi Hajdini

Pengacara korban, Daniel J Kaiser, menyebut kliennya terdampak berat secara pribadi dan profesional. Ia mengatakan korban mengalami kehilangan pendapatan, tekanan emosional, kerusakan reputasi, dan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.

Menurut Kaiser, Hajdini masih bekerja di perusahaan, sementara pihak korban menuntut ganti rugi serta perubahan kebijakan di bank. Gugatan ini juga memunculkan kembali perhatian pada bagaimana relasi atasan dan bawahan dapat berubah menjadi alat tekanan ketika pengawasan di tempat kerja tidak berjalan efektif.

Latar belakang karier Lorna Hajdini

Berdasarkan profil LinkedIn yang dikutip dalam laporan, Hajdini meraih gelar Bachelor of Science di bidang Finance and Statistics dari NYU Stern School of Business. Ia disebut telah hampir 15 tahun bekerja di JPMorgan dan kini menjabat Executive Director di divisi Leveraged Finance.

Sebelumnya, ia pernah memegang posisi vice president dengan cakupan sektor consumer, retail, pharma/medtech, logistics, serta aerospace and defence. Ia juga mengikuti program Private Equity and Venture Capital di Harvard Business School Executive Education, dengan pengalaman awal yang mencakup magang di kantor medical director, Glazer Capital Management, dan Tudor Investment Corporation.

Source: www.ndtv.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru