Ancaman terbesar bagi sooty albatross justru datang dari laut yang selama ini menjadi rumahnya. Burung laut ini sudah berstatus Endangered menurut International Union for Conservation of Nature atau IUCN, dan tekanan dari aktivitas manusia di samudra membuat populasinya makin sulit pulih.
Salah satu risiko yang paling berbahaya berasal dari alat tangkap perikanan seperti longline fishing. Saat mencari makan, sooty albatross bisa tersangkut dan tenggelam, sehingga ancaman ini menjadi masalah serius bagi spesies yang jumlah individunya tidak cepat bertambah.
Pola hidup sooty albatross membuatnya sangat bergantung pada laut terbuka. Sebagian besar waktunya dihabiskan jauh dari daratan, sedangkan pantai atau pulau hanya didatangi ketika musim berkembang biak tiba.
Habitat burung ini tersebar di wilayah Samudra Selatan yang terpencil. Perairan dekat Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, Tristan da Cunha, dan Kepulauan Prince Edward menjadi kawasan yang kerap didatangi spesies bernama ilmiah Phoebetria fusca ini.
Di wilayah itu, angin laut yang kuat justru membantu cara terbangnya yang efisien. Sooty albatross memakai dynamic soaring, teknik meluncur dengan memanfaatkan perbedaan kecepatan angin di atas permukaan laut sehingga tidak perlu banyak mengepakkan sayap.
Kemampuan itu membuatnya mampu menempuh ribuan kilometer hanya dalam beberapa hari. Bagi burung yang mencari makan di area luas dan sumber makanan yang tersebar, efisiensi ini menjadi kunci bertahan hidup.
Makanan utamanya terdiri atas cumi-cumi, ikan kecil, dan berbagai organisme laut yang muncul di permukaan air. Sooty albatross juga kerap mengikuti kapal nelayan karena sisa tangkapan ikan mudah ditemukan di sekitar area tersebut.
Dari luar, burung ini terlihat mencolok dan elegan. Tubuhnya ramping dengan panjang sekitar 85 cm, bentang sayap kurang lebih 2 meter, serta bulu berwarna cokelat gelap hingga kehitaman yang tampak berkilau lembut saat terkena cahaya.
Paruh hitam yang melengkung tajam menjadi ciri khas yang mudah dikenali. Garis putih tipis di sekitar mata memberi kontras tambahan, terutama ketika burung ini terbang rendah di atas ombak.
Meski tampak tangguh, ada satu kelemahan besar yang ikut menentukan nasibnya. Sooty albatross berkembang biak secara lambat, karena dalam satu musim biasanya hanya menghasilkan satu telur.
Sarangnya dibangun di tebing curam atau lereng terpencil dengan bahan sederhana seperti rumput dan tanah. Telur dierami cukup lama oleh induk jantan dan betina secara bergantian, lalu anak burung masih membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum mampu terbang mandiri.
Perubahan suhu laut, polusi laut, dan gangguan pada habitat berkembang biak turut menambah tekanan bagi spesies ini. Karena pertumbuhan populasinya lambat, penurunan jumlah individu menjadi sulit dipulihkan dalam waktu singkat.
Di tengah ancaman itu, sooty albatross tetap menjadi simbol ketahanan satwa laut di salah satu wilayah paling keras di bumi. Namun, selama ekosistem Samudra Selatan terus berubah dan risiko dari aktivitas manusia tetap tinggi, masa depan burung ini akan terus bergantung pada perlindungan yang efektif.
Source: www.idntimes.com






