Ancaman Natanz dan Laut Merah Menguat, AS Kembali Menuding Iran sebagai Pembuat Onar

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah ancaman terhadap fasilitas nuklir Natanz muncul bersamaan dengan gangguan keamanan pelayaran di Laut Merah. Amerika Serikat menempatkan Iran sebagai pihak yang dianggap berada di balik sejumlah sumber ketidakstabilan tersebut.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa memperbarui ancaman untuk kembali menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz dalam waktu dekat. Pemerintah Iran menyatakan akan membalas apabila serangan itu benar-benar dilakukan.

Komando militer Khatam Al-Anbiya Iran menilai serangan terhadap Natanz dapat dipandang sebagai perluasan perang di kawasan. Komando itu juga memperingatkan bahwa seluruh kepentingan Amerika Serikat, sekutu, dan pendukungnya dapat menjadi sasaran.

PihakPernyataan atau posisiRisiko yang disorot
Amerika SerikatMembuka peluang negosiasi dengan IranTindakan lanjutan bila dialog tidak serius
IranMenjanjikan balasan atas serangan ke NatanzPerluasan konflik kawasan
Houthi YamanMengancam jalur pelayaran di Laut MerahGangguan bagi kapal yang melintas

Di tengah risiko eskalasi itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai pengaruh Iran menjadi inti persoalan di kawasan. Dalam laporan Kompas yang mengutip Al Jazeera, Rubio menyebut Teheran sebagai pihak yang berperan sebagai pembuat onar di Timur Tengah.

Rubio mengatakan Washington sedang berhubungan dengan pejabat Arab Saudi mengenai ancaman Houthi Yaman terhadap jalur pelayaran. Menurutnya, ancaman tersebut bukan persoalan baru, melainkan masalah yang pernah muncul sebelumnya.

Laut Merah menjadi perhatian karena jalur ini penting bagi pergerakan kapal, termasuk tanker minyak. Ancaman terhadap pelayaran di kawasan itu berpotensi memperlebar dampak konflik dari daratan ke jalur perdagangan laut.

Menurut Rubio, Houthi bukan satu-satunya kelompok yang berkaitan dengan pengaruh Iran. Ia juga menyebut Hizbullah, milisi di Irak, dan Hamas sebagai kelompok yang dibiayai Teheran.

Pemerintah AS menuduh kelompok-kelompok tersebut menjadi aktor destabilisasi di kawasan. Tuduhan ini mempertegas pandangan Washington yang selama bertahun-tahun menghubungkan konflik regional dengan kebijakan Iran.

Tekanan terhadap Iran

Rubio menyatakan Iran kini menghadapi masalah besar setelah mengalami kerusakan selama perang. Menurut dia, tekanan yang dihadapi Teheran mencakup kondisi militer sekaligus ekonomi.

“Pada akhirnya, ini sebenarnya membuktikan bahwa inilah yang telah diinvestasikan Iran selama 20 tahun terakhir,” ujar Rubio. Ia mengatakan Iran mengalami kerusakan yang sangat besar pada infrastruktur militernya.

Rubio menuduh Iran selama dua dekade mengalokasikan sumber daya negara untuk mendukung kelompok teroris serta membangun rudal dan sistem drone. Pernyataan itu menjadi dasar kritik Washington terhadap arah belanja dan kebijakan keamanan Teheran.

Jalur Dialog Tetap Dibuka

Meski menyampaikan tudingan keras, Rubio mengatakan Amerika Serikat masih terbuka bagi negosiasi dan diskusi yang positif serta konstruktif. Namun, ia menekankan bahwa komitmen yang telah dibuat harus dihormati dalam proses tersebut.

“Jika mereka serius, kita juga serius. Jika tidak, maka kita akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kita dan juga kepentingan sekutu kita,” kata Rubio.

Eskalasi yang berjalan juga telah menimbulkan dampak kemanusiaan di Iran. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Iran mengatakan 50 orang tewas dan 500 lainnya terluka dalam serangan AS baru-baru ini di negara tersebut.

Source: www.kompas.com
Berita Terkait