Anggaran Pendidikan Jatim Rp9,9 Triliun Belum Menutup Kesenjangan Sekolah Kota dan Daerah

Author: Redaksi Android62

Di tengah peringatan Hardiknas 2026, sorotan justru mengarah pada pekerjaan rumah besar pendidikan di Jawa Timur yang belum selesai. Wakil Ketua DPRD Jatim, Deni Wicaksono, menilai kesenjangan mutu antardaerah masih terlalu lebar, sementara kesiapan digital sekolah juga belum berjalan merata.

Menurut Deni, kondisi itu membuat pengalaman belajar siswa di kota dan di daerah masih jauh berbeda. Ia menilai pendidikan di Jawa Timur tidak boleh dibiarkan tertinggal hanya karena layanan dasar dan infrastruktur belum seimbang di seluruh wilayah.

Jurang kualitas masih terlihat jelas

Deni melihat masalah pemerataan masih menjadi persoalan utama. Sekolah di kawasan perkotaan dinilai cenderung lebih siap, sedangkan banyak sekolah di wilayah pinggiran belum memiliki sarana, guru, dan akses teknologi yang memadai.

Ia menyebut Jawa Timur memiliki skala pendidikan yang besar dengan sekitar 345.454 tenaga guru dari jenjang SD hingga SMK. Namun, jumlah itu belum otomatis membuat layanan pendidikan merata karena persebarannya masih lebih banyak terkonsentrasi di kota.

Akibatnya, mutu layanan pendidikan ikut terbagi tidak seimbang. Perbedaan itu, menurut Deni, tampak dari kesiapan sekolah dalam menjalankan pembelajaran yang lebih modern dan lebih lengkap.

Anggaran besar belum tentu terasa di sekolah

Dari sisi pembiayaan, Deni menyoroti alokasi pendidikan Jawa Timur yang mencapai sekitar Rp9,9 triliun atau 32,8 persen dari APBD 2025. Besarnya angka itu, kata dia, harus benar-benar berdampak pada siswa dan sekolah, bukan hanya berhenti sebagai data di atas kertas.

Ia menekankan perlunya efektivitas penggunaan anggaran agar belanja pendidikan lebih tepat sasaran. Fokusnya harus diarahkan pada peningkatan mutu layanan yang benar-benar dirasakan di lapangan.

Deni juga menilai kebijakan pendidikan perlu disusun secara terhubung antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Menurutnya, koordinasi yang lebih solid akan membantu mencegah program saling tumpang tindih dan membuat perbaikan berjalan lebih mudah.

Tantangan digital ikut memperlebar jarak

Selain pemerataan layanan dasar, kesiapan digital sekolah juga menjadi perhatian Deni. Ia menilai transformasi digital di Jawa Timur masih timpang, terutama di luar pusat-pusat kota.

Masih ada sekolah yang menghadapi keterbatasan akses internet dan perangkat pendukung untuk pembelajaran digital. Di tengah percepatan digitalisasi pendidikan, kondisi tersebut dianggap sebagai hambatan serius yang tidak bisa dibiarkan berlarut.

Deni menilai kesenjangan digital berpotensi memperbesar ketimpangan pendidikan jika tidak segera dibenahi. Sebab, akses terhadap teknologi kini menjadi bagian penting dari kualitas pembelajaran.

Kebijakan pendidikan diminta lebih hati-hati

Dalam kesempatan itu, Deni juga menyinggung rencana penghapusan jurusan di jenjang pendidikan menengah. Ia meminta kebijakan tersebut dikaji dengan matang agar tidak membingungkan siswa dan tidak membuat arah belajar mereka menjadi kabur.

Ia menegaskan pendidikan adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan pembenahan serius dan berkelanjutan. Karena itu, menurutnya, perbaikan pendidikan harus berbasis data dan dijalankan secara konsisten agar manfaatnya terasa di seluruh wilayah Jawa Timur.

Source: pdiperjuangan-jatim.com
Berita Terbaru