Antrean kendaraan di sejumlah SPBU Kota Palu mengular panjang setelah gempa bumi tektonik magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada pukul 11.27 WITA. Banyak warga memilih segera mengisi bahan bakar karena khawatir gempa susulan kembali terjadi dan harus mengungsi dalam kondisi darurat.
Kondisi itu terlihat di hampir seluruh SPBU, dengan barisan kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga truk logistik memenuhi area pengisian. Sejumlah warga bahkan rela menunggu berjam-jam demi memastikan kendaraan mereka memiliki BBM yang cukup.
Trauma lama mendorong warga bergerak cepat
Kekhawatiran warga tidak hanya dipicu guncangan terbaru, tetapi juga ingatan terhadap pengalaman bencana besar pada 2018. Situasi saat itu membuat banyak orang kesulitan mencari bensin karena SPBU tutup, sehingga sebagian warga memilih tidak menunda pengisian BBM kali ini.
Salah seorang warga, Siti Rahma, 35, mengatakan dirinya memilih mengisi bahan bakar selagi masih ada kesempatan. Ia membawa dua jeriken kecil karena tidak ingin mengulang kesulitan saat mencari bensin untuk evakuasi pada peristiwa gempa besar 2018.
“Waktu gempa besar tahun 2018 dulu, kami kesusahan setengah mati cari bensin untuk evakuasi karena SPBU tutup semua. Makanya ini masih ada kesempatan, isi BBM memang,” kata Siti sambil mengantre.
Hamka Rauf, 42, juga mengaku memilih mengisi penuh tangki sepeda motornya demi berjaga-jaga. Menurut dia, kendaraan yang siap pakai akan memberi rasa aman jika keadaan memaksa keluarga segera meninggalkan rumah.
“Beli memang BBM, jangan sampai nanti ada gempa susulan lagi yang lebih besar. Lebih baik antisipasi memang toh. Kalau kendaraan full bensin, kita merasa lebih aman dan tenang kalau sewaktu-waktu harus dipakai mengungsi bersama keluarga,” ujarnya.
Antrean meluber hingga badan jalan
Di SPBU Jalan Pue Bongo, Palu Barat, antrean kendaraan meluber hingga ke badan jalan raya. Akibatnya, arus lalu lintas di sekitar lokasi tersendat dan menimbulkan kemacetan.
Pemandangan serupa juga terjadi di SPBU Jalan Imam Bonjol, yang dipadati pengendara dalam suasana panik. Di tengah bunyi klakson dan padatnya kendaraan, warga tetap bertahan karena ingin mengamankan persediaan BBM untuk kebutuhan darurat.
Hingga sore hari, barisan kendaraan dilaporkan masih mengular di berbagai sudut kota. Kondisi itu terjadi seiring puluhan gempa susulan yang menurut informasi BMKG masih terus berlangsung.
Petugas turun mengatur lalu lintas
Di tengah situasi yang memicu kepanikan, aparat dan kepolisian setempat turun ke sejumlah titik SPBU untuk mengatur arus kendaraan. Langkah ini dilakukan agar antrean tetap tertib dan tidak memicu gesekan antarpengendara.
Pemerintah dan aparat juga mengimbau warga agar tetap tenang serta tidak terjebak panic buying yang berlebihan. Masyarakat diminta tidak mudah percaya pada isu hoaks mengenai kelangkaan BBM, karena Pertamina memastikan pasokan dan stok bahan bakar untuk Palu dan sekitarnya masih aman serta mencukupi.
Guncangan M 6,7 itu bukan hanya meninggalkan ketegangan sesaat, tetapi juga mengubah cara warga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Selama gempa susulan masih terjadi dan trauma lama belum hilang, antrean BBM di Palu menjadi gambaran paling nyata dari rasa waswas yang menyebar di kota itu.
