Armada Kargo Multifungsi Ini Dibaca Jadi Jalan Baru Logistik Tambang dan Migas

Author: Redaksi Android62

Armada kargo multifungsi mulai dipandang sebagai jawaban atas kebutuhan logistik di wilayah tambang dan migas yang sulit dijangkau. Interport menilai peluang itu kian terbuka karena aktivitas industri terus bergerak ke area dengan pelabuhan terbatas dan akses darat yang tidak selalu memadai.

Melalui anak usahanya, Interport Dirandra Syandana (INDIS), perusahaan itu mengoperasikan kapal multipurpose bernama Interport Sandikala VII. Kapal berbendera Indonesia tersebut sudah menjalani pelayaran perdana dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Balikpapan dengan estimasi waktu tempuh sekitar empat hari.

Dirancang untuk muatan yang lebih beragam

Interport Sandikala VII menjadi kapal multipurpose pertama milik INDIS dan disiapkan untuk mendukung distribusi kargo di perairan Nusantara yang memiliki karakter geografis beragam. Dengan kapasitas 1.400 DWT, kapal ini dapat mengangkut hingga 107 TEUs jika seluruh ruang digunakan untuk kontainer.

Jika difungsikan untuk muatan breakbulk, daya angkutnya mencapai sekitar 1.200 ton. Direktur Interport Dirandra Syandana, Yusuf Indrawarman, mengatakan kapal itu disiapkan untuk membantu operasional industri yang membutuhkan layanan lebih lincah.

“Kapal ini hadir untuk menjawab kebutuhan operasional di wilayah yang sulit dijangkau, khususnya bagi industri pertambangan yang membutuhkan solusi logistik yang lebih fleksibel dan andal,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/6).

Masuk ke area yang tidak ramah bagi kapal besar

Daya tarik utama kapal ini terletak pada desainnya yang cocok untuk wilayah pedalaman dan area dengan infrastruktur pelabuhan terbatas. Interport Sandikala VII memiliki panjang keseluruhan 67,2 meter dan water draft hanya 3,2 meter.

Karakter itu membuatnya dinilai sesuai untuk beroperasi di sungai maupun perairan dangkal. Kondisi tersebut penting bagi sektor tambang, migas, konstruksi, dan proyek strategis lain yang banyak berada di area hulu atau lokasi terpencil.

Dalam banyak kasus, kapal kargo berukuran besar tidak dapat masuk karena keterbatasan alur dan kedalaman air. Karena itu, armada yang lebih kompak menjadi alternatif yang lebih praktis untuk menjaga rantai pasok tetap berjalan.

Bisa bongkar muat tanpa bergantung penuh pada fasilitas pelabuhan

Untuk memperkuat operasional di pelabuhan perintis dan area remote, kapal ini dilengkapi marine crane Liebherr dengan kapasitas angkat maksimal 40 ton. Fasilitas tersebut memungkinkan bongkar muat tetap dilakukan meski sarana pelabuhan tidak lengkap.

Interport Sandikala VII juga memakai sistem penggerak azimuth thruster yang membantu manuver di perairan sempit dan saat sandar. Kombinasi kemampuan itu membuat kapal lebih adaptif terhadap kebutuhan distribusi yang menuntut kecepatan, fleksibilitas, dan kepastian operasi.

Peluang pasar masih terbuka luas

Armada seperti ini dinilai tidak hanya relevan untuk pertambangan dan migas, tetapi juga untuk konstruksi serta proyek-proyek strategis lain. Kebutuhan logistik di sektor-sektor tersebut cenderung ikut naik seiring ekspansi industri ke wilayah yang belum sepenuhnya ditopang infrastruktur transportasi laut.

Kapal tersebut juga sudah mengantongi sertifikasi kelayakan teknis dari PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI. Dengan kombinasi kapasitas angkut, desain kompak, dan kemampuan bongkar muat mandiri, armada kargo multifungsi seperti Interport Sandikala VII diposisikan sebagai solusi yang lebih efisien bagi distribusi logistik nasional di kawasan yang sulit dilayani kapal kargo berukuran besar.

Source: mediaindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru