Peternak Broiler Terjepit Harga Kandang, Kerugian Bisa Tembus Ratusan Juta Rupiah

Author: Redaksi Android62

Peternak ayam broiler kembali menghadapi tekanan berat karena harga jual di tingkat kandang masih jauh di bawah biaya produksi. Dalam kondisi ini, sejumlah peternak rakyat disebut harus menanggung kerugian yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia atau Permindo menyebut harga ayam di kandang belum pulih dan masih bergerak di kisaran Rp 15.500 sampai Rp 16.000 per kilogram. Angka itu terpaut jauh dari ketetapan Badan Pangan Nasional yang menempatkan Harga Acuan Pembelian ayam di tingkat produsen pada Rp 25.000 per kg.

Biaya produksi terus naik

Tekanan tidak hanya datang dari harga jual yang rendah, tetapi juga dari kenaikan ongkos produksi. Sepanjang tahun 2026, harga pakan ternak berada di kisaran Rp 8.800 sampai Rp 9.400 per kg, sehingga beban peternak semakin berat.

Biaya lain juga masih tinggi. Harga day old chick atau DOC final stock berada di level Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per ekor, membuat ruang keuntungan peternak semakin sempit.

Permindo memperkirakan Harga Pokok Produksi broiler saat ini telah mencapai Rp 21.000 sampai Rp 22.000 per kg live bird. Dengan harga jual di kandang yang masih Rp 15.500 sampai Rp 16.000 per kg, peternak rakyat diperkirakan merugi sekitar Rp 5.000 sampai Rp 7.000 per kg live bird.

Menurut Asep Saepudin dari Permindo, selisih itu dapat menghasilkan kerugian besar bagi peternak dengan populasi besar. Untuk peternak kecil, kerugian masih bisa mencapai puluhan juta rupiah karena tiap kilogram ayam belum menutup kekurangan sekitar Rp 4.000.

Dalam hitungan per ekor, kerugian tersebut dapat mencapai sekitar Rp 10.000 sampai Rp 14.000 untuk ayam panen berbobot 2 kilogram. Kondisi ini membuat usaha peternakan rakyat berada dalam tekanan berat meski kebutuhan protein hewani di pasar tetap berjalan.

Peternak ajukan tujuh tuntutan

Menyikapi keadaan itu, komunitas peternak mengajukan tujuh tuntutan kepada pemerintah. Fokus utamanya adalah memperluas akses pasar di sektor ritel modern nasional agar ayam karkas segar, ayam beku, dan telur bisa masuk ke minimarket, supermarket, hingga hypermarket.

Peternak juga meminta adanya program penyerapan hasil panen yang berjalan berkelanjutan melalui Bulog atau BUMN Pangan. Skema ini diharapkan dapat meniru stabilisasi harga gabah dan beras ketika pasar mengalami kelebihan pasokan.

Selain itu, mereka mendorong agar produk unggas masuk ke program strategis pemerintah. Usulan tersebut mencakup Makan Bergizi Gratis, penanganan stunting, bantuan sosial, serta pemenuhan pangan di institusi negara seperti TNI, Polri, asrama, dan rumah sakit.

Distribusi dan sebaran produksi ikut disorot

Permindo juga menyoroti distribusi logistik antarwilayah dan antarpulau. Penguatan rantai dingin dan penambahan cold storage regional dinilai perlu untuk menekan disparitas harga antar daerah.

Selain logistik, peternak meminta pemerintah menyusun peta produksi dan kebutuhan unggas nasional yang lebih presisi. Saat ini sekitar 70% populasi ayam pedaging dan petelur masih terpusat di Pulau Jawa, sehingga pasokan berlebih turut menekan harga di kandang.

Ke depan, investasi peternakan baru diharapkan diarahkan ke wilayah potensial di luar Jawa. Daerah-daerah tersebut dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan konsumsi dan kebutuhan protein hewani yang tinggi.

Tuntutan lain adalah pembentukan Cadangan Protein Hewani Nasional berbasis ayam dan telur. Stok cadangan ini diharapkan mampu menyerap surplus produksi sekaligus menjadi instrumen penyaluran pangan saat kondisi darurat.

Peternak juga mendorong realisasi program nasional Ayam Rakyat Lawan Stunting. Melalui program itu, mereka menyatakan siap menyuplai daging ayam bagi keluarga rentan gizi dan ibu hamil.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru