Arsenal masih berada di puncak klasemen Liga Inggris meski baru saja kalah 1-2 dari Manchester City di Etihad. Situasi itu membuat perebutan gelar kembali terasa sangat rapat, karena jarak kedua tim kini hanya tiga poin.
Arsenal mengemas 70 poin dari 33 pertandingan, sedangkan Manchester City menempel di posisi kedua dengan 67 poin dari 32 laga. Dengan lima pertandingan tersisa bagi Arsenal, setiap laga yang datang akan memiliki bobot besar bagi arah persaingan juara.
Di Etihad, pertandingan berjalan ketat dan lebih banyak ditentukan oleh ketajaman di momen penting. Rayan Cherki dan Erling Haaland mencetak gol untuk Manchester City, sementara Kai Havertz sempat memberi harapan bagi Arsenal lewat gol balasan.
Mikel Arteta menilai duel itu memperlihatkan bahwa jarak kualitas kedua tim tidak jauh. Namun, menurutnya, City lebih tepat sasaran ketika peluang krusial muncul dan Arsenal tidak cukup efisien dalam memanfaatkan kesempatan kecil.
“Itulah tepatnya yang terjadi, dan ketika Anda gagal melakukannya, sementara mereka punya kualitas individu untuk memanfaatkan momen-momen seperti itu, Anda berisiko kalah,” kata Arteta melansir BBC. Pernyataan itu menggambarkan betapa sedikit ruang kesalahan dalam laga sebesar ini.
Arteta juga menyoroti salah satu momen yang dinilai bisa mengubah jalannya pertandingan, yakni saat bola Arsenal membentur tiang gawang. Ia melihat ada kemungkinan hasil berbeda jika bola itu masuk atau jika bola liar di kotak penalti jatuh ke arah lain.
Pelatih asal Spanyol itu bahkan menyinggung proses gol kedua Manchester City yang berawal dari pantulan bola. “Ada beberapa faktor. Ada unsur keberuntungan apakah bola masuk atau tidak. Yang kedua, bola membentur dan jatuh ke Haaland,” ujar Arteta.
Dari sudut pandang Arsenal, detail kecil seperti itu menjadi batas antara pulang dengan poin atau tanpa poin. Kekalahan di Etihad bukan hanya soal kehilangan angka, tetapi juga kehilangan peluang menjaga tekanan tetap berada pada Manchester City.
Meski begitu, Arteta tetap meminta timnya menjaga ketenangan dalam situasi perebutan gelar yang semakin sensitif. Ia menginginkan para pemain tampil lebih presisi agar kesalahan minor tidak kembali berujung mahal di laga-laga berikutnya.
“Anda harus tetap tenang, presisi, dan tanpa ampun,” kata Arteta. Ucapan itu menegaskan bahwa Arsenal kini dituntut tampil lebih bersih dalam pengambilan keputusan dan lebih tajam saat berada di depan gawang.
Arteta juga menolak suasana pesimistis setelah kekalahan tersebut. Ia menilai ruang ganti tetap membawa energi positif karena tim masih memegang keunggulan tiga poin dan masih memiliki lima pertandingan untuk dimainkan.
“Saya percaya hari ini… Kami memiliki keunggulan tiga poin dan lima pertandingan tersisa. Jadi, segalanya masih terbuka,” ujar Arteta. Sikap itu menunjukkan bahwa Arsenal belum merasa tersingkir dari persaingan dan masih percaya diri mempertahankan posisi teratas.
Tekanan kini terbagi ke dua kubu, tetapi beban menjaga puncak tetap ada di tangan Arsenal. Di sisi lain, Manchester City melihat peluang besar untuk terus mendekat dan bahkan mengambil alih posisi teratas jika mampu menjaga konsistensi di sisa musim.
Sorotan juga sempat tertuju pada selebrasi pemain Manchester City setelah laga. Wayne Rooney menilai perayaan tersebut terkesan terlalu berlebihan karena perebutan gelar belum selesai dan masih menyisakan banyak kemungkinan.
“[Perayaan itu] agak berlebihan,” kata Rooney. Ia menilai ekspresi seperti itu justru dapat memantik motivasi lawan dan membuat tensi persaingan semakin tinggi di pertandingan-pertandingan berikutnya.
Arsenal selanjutnya akan menjamu Newcastle United, sementara Manchester City masih punya kesempatan besar menyalip jika berhasil mengalahkan Burnley di Turf Moor pada Kamis, 23 April 2026 dini hari WIB. Dengan selisih yang sangat tipis dan jumlah laga yang terus berkurang, perebutan gelar Liga Inggris memasuki fase paling menentukan.







