Arus Kas Harus Dijaga Sejak Awal, Hery Gunardi Ungkap 5 Cara Bisnis Bertahan

Author: Redaksi Android62

Hery Gunardi menempatkan arus kas sebagai salah satu penentu paling awal yang harus dijaga pelaku usaha, terutama pada enam bulan pertama. Menurut Direktur Utama BRI itu, bisnis tidak cukup hanya punya ide yang bagus, karena usaha juga harus sanggup menjaga uang masuk dan uang keluar tetap lancar.

Pesan itu ia sampaikan dalam sesi Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, di hadapan sekitar 1.000 peserta dari kalangan pengusaha UMKM, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum. Dalam pandangannya sebagai bankir senior, banyak usaha tidak berhenti karena kurang peluang, melainkan karena salah membaca pasar dan tidak disiplin mengelola keuangan.

Mulai dari medan yang tidak terlalu berat

Salah satu langkah awal yang disorot Hery adalah memilih sektor dengan hambatan masuk yang rendah. Ia menilai calon pengusaha sebaiknya tidak langsung terjun ke bidang yang persaingannya terlalu keras, karena tahap awal justru menjadi fase belajar yang sangat penting.

Dengan memulai dari medan yang lebih ringan, pelaku usaha dinilai punya ruang lebih besar untuk memahami cara kerja bisnis. Langkah ini juga membantu agar tenaga tidak cepat habis sebelum usaha sempat berkembang.

Pasar harus dibaca sebelum mengejar penjualan

Di luar pilihan sektor, Hery menekankan pentingnya memahami pasar sejak awal. Pelaku usaha perlu tahu siapa pembelinya, siapa pesaingnya, siapa yang menguasai pangsa pasar terbesar, dan mengapa pemain tertentu bisa melaju lebih jauh.

Ia juga mengingatkan bahwa memiliki produk saja belum cukup. Pengusaha perlu belajar dari pemain yang lebih dulu tumbuh agar bisa menangkap pola pasar dan menyesuaikan strategi dengan kondisi yang ada.

Uang pribadi dan uang usaha jangan dicampur

Pada bagian pengelolaan bisnis, Hery menyoroti masalah yang kerap membuat UMKM sulit berkembang, yaitu pencatatan yang lemah. Ia menyebut banyak usaha gagal karena uang pribadi dan uang usaha dipakai tanpa pemisahan yang jelas.

Menurut dia, pembukuan yang rapi menjadi syarat dasar agar untung-rugi terlihat dengan benar. Tanpa catatan yang tertib, pelaku usaha akan sulit menilai apakah bisnisnya sehat atau hanya tampak berjalan.

Enam bulan awal bukan waktunya mengejar laba

Hery juga memberi perhatian besar pada cash flow, terutama di periode awal usaha. Ia menilai enam bulan pertama sebaiknya difokuskan untuk memastikan likuiditas tetap aman, bukan semata-mata mengejar laba.

Aliran uang yang macet bisa membuat bisnis kehilangan napas meski permintaan ada. Karena itu, tata kelola yang disiplin dibutuhkan agar produksi, pembayaran, dan perputaran dana tetap berjalan mulus.

Teknologi dipakai untuk efisiensi dan penjualan

Kunci terakhir yang ia dorong adalah kesiapan memanfaatkan teknologi. Hery mendorong pelaku usaha memanfaatkan internet, media sosial, serta kanal digital seperti TikTok dan Instagram untuk menjual produk sekaligus menekan biaya variabel.

Ia menilai cara berjualan kini sudah berubah dan teknologi menjadi bagian penting untuk memperluas pasar. Dalam kacamata itu, inovasi digital bukan lagi pelengkap, melainkan alat yang membantu usaha bersaing dengan biaya lebih efisien.

Pesan Hery mendapat dukungan dari Chairman & Founder CT Corp, Chairul Tanjung, yang hadir dalam sesi Education Class. CT menekankan bahwa pengusaha sukses lahir dari produk yang unik, pasar yang besar, dan kecocokan produk dengan generasinya.

CT juga menyoroti perubahan perilaku konsumen, terutama generasi milenial, generasi Z, dan generasi alfa, yang sangat bergantung pada e-commerce. Ia menyebut promosi lewat TikTok kini punya pengaruh besar dan bahkan menyalip Instagram maupun Facebook dalam urusan penjualan.

Gabungan pandangan keduanya menegaskan bahwa bisnis masa kini tidak cukup hanya bertumpu pada ide. Pelaku usaha perlu peka membaca pasar, tertib mengelola uang, dan cepat beradaptasi dengan teknologi agar usaha punya peluang tumbuh lebih kuat.

Berita Terbaru