AS Mulai Uji Antarmuka Biohibrida Otak, Jalan Baru Menuju Komputer Dalam Pikiran

Author: Redaksi Android62

Antarmuka otak-komputer bergerak ke fase yang lebih berani di Amerika Serikat. Science Corporation, startup neuroteknologi milik Max Hodak, mulai menyiapkan uji coba pada manusia untuk pendekatan biohibrida yang dirancang lebih dekat ke jaringan biologis otak.

Langkah ini menandai pergeseran penting dari implan saraf yang selama ini mengandalkan komponen elektronik semata. Science ingin membangun sistem yang tidak hanya membaca sinyal otak, tetapi juga berinteraksi dengan jaringan saraf melalui neuron hasil kultur laboratorium.

Pendekatan yang dibidik berbeda dari implan otak biasa

Dalam pengembangan terbarunya, Science tidak hanya mengejar fungsi antarmuka otak-komputer seperti perangkat yang sudah lebih dulu dikenal. Perusahaan ini menyiapkan sensor yang memakai neuron hasil kultur agar bisa terintegrasi secara biologis, bukan sekadar elektronik.

Max Hodak menilai elektroda logam yang umum digunakan menyimpan risiko kerusakan jaringan dalam jangka panjang. Karena itu, arah pengembangan diarahkan ke desain yang lebih lembut bagi otak dan diharapkan tidak terlalu agresif terhadap jaringan saraf.

Murat Günel, Ketua Departemen Bedah Saraf Yale Medical School, ikut dilibatkan sebagai penasihat ilmiah. Ia menyebut konsep tersebut menarik karena berusaha menciptakan “antarmuka biologis antara elektronik dan otak manusia”.

Uji awal masih sangat terbatas

Pada tahap pertama, Science tidak langsung menanam sistem penuh dengan neuron hasil kultur. Perusahaan akan menguji sensor tanpa neuron pada pasien yang memang sudah menjalani operasi otak besar.

Kelompok ini mencakup pasien seperti penyintas stroke, sehingga penempatan perangkat tidak menambah prosedur invasif yang tidak diperlukan. Perangkat kecil tersebut memiliki 520 elektroda dan akan ditempatkan di atas korteks otak untuk mengukur aktivitas neurologis.

Data dari uji awal ini akan dipakai untuk menilai keamanan, stabilitas, dan kelayakan teknologi biohibrida pada manusia. Tahap tersebut juga menjadi dasar untuk melihat apakah pendekatan gabungan antara unsur elektronik dan biologis benar-benar bisa bekerja di tubuh manusia.

Apa yang membedakan dua pendekatan ini

  1. Elektroda logam: membaca sinyal otak secara elektronik, tetapi masih dipandang berisiko terhadap jaringan dalam jangka panjang.
  2. Biohibrida: menggabungkan neuron hasil kultur dengan komponen elektronik, namun masih berada pada tahap riset dan belum diuji luas pada manusia.

Bidang antarmuka otak-komputer memang masih menghadapi hambatan yang besar. Regulasi yang ketat dan terbatasnya pasien yang cocok untuk uji klinis membuat pengembangannya berjalan hati-hati.

Selama ini, perusahaan seperti Neuralink lebih banyak mengandalkan sensor elektronik untuk membantu pasien ALS atau cedera tulang belakang mengendalikan komputer lewat sinyal otak. Science memilih jalur yang berbeda dengan mencoba menekankan kompatibilitas biologis sebagai pusat pengembangannya.

Didukung dana besar dan hasil awal pada hewan

Science berdiri pada 2021 dan baru mendapatkan pendanaan Seri C senilai US$230 juta dengan valuasi mencapai US$1,5 miliar. Pendanaan itu ikut memperkuat pengembangan PRIMA, perangkat pemulihan penglihatan untuk penderita kebutaan akibat degenerasi makula.

Perusahaan menargetkan PRIMA dapat tersedia lebih luas di Eropa setelah memperoleh persetujuan regulator. Di saat yang sama, ambisi jangka panjang Hodak tetap sama, yakni membangun jalur komunikasi langsung antara komputer dan otak manusia.

Sebelumnya, Science menyebut teknologi biohibrida itu aman ditanamkan pada tikus dan mampu merangsang aktivitas otak. Temuan tersebut belum cukup untuk menarik kesimpulan pada manusia, tetapi menjadi dasar ilmiah yang penting untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Günel menyebut target memulai uji klinis pada 2027 sebagai skenario optimistis, sehingga proses pembuktian ilmiah dan regulasi masih menjadi faktor penentu. Jika pengembangan berjalan sesuai harapan, teknologi ini dapat diarahkan untuk membantu penyembuhan sel saraf rusak, memantau tumor otak, memberi peringatan dini kejang, dan membuka peluang terapi untuk Parkinson.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru