Di Tengah PHK 30.000 Orang, Amazon Justru Genjot Investasi AI Bernilai Miliaran Dolar

Author: Redaksi Android62

Gelombang investasi besar Amazon di kecerdasan buatan kini tidak hanya menimbulkan sorotan dari luar, tetapi juga ketegangan dari dalam perusahaan sendiri. Di saat ribuan pekerja kehilangan pekerjaan, raksasa e-commerce itu tetap menyiapkan dana jumbo untuk memperluas infrastruktur AI, termasuk data center skala besar.

Kombinasi dua langkah itu membuat arah prioritas Amazon dipertanyakan oleh sebagian karyawan. Efisiensi internal berjalan beriringan dengan ekspansi teknologi yang membutuhkan biaya sangat besar, sehingga kebijakan perusahaan terlihat kontras di mata sebagian pekerja.

Amazon disebut telah memangkas 30.000 karyawan dalam delapan bulan terakhir. Pada saat yang sama, perusahaan tetap mendorong investasi miliaran dolar untuk memperkuat kemampuan AI dan memperluas kapasitas komputasi.

Dorongan efisiensi dari Andy Jassy

CEO Amazon Andy Jassy menekankan upaya menyederhanakan operasional perusahaan. Ia juga mendorong pemangkasan lapisan manajemen sebagai bagian dari strategi agar Amazon bergerak lebih gesit sambil menekan biaya di banyak lini.

Namun, langkah penghematan itu tidak membuat semua pihak di internal Amazon sepakat dengan arah investasi perusahaan. Bagi sebagian karyawan, sulit menerima bahwa PHK besar terjadi bersamaan dengan percepatan belanja untuk AI.

Penolakan datang dari internal

Menurut CNBC International, sekelompok engineer Amazon mendukung proposal dalam sidang Dewan Kota Seattle pekan ini. Mereka mendorong adanya pengaturan terhadap pembangunan data center AI skala besar.

Sikap itu mencerminkan kekhawatiran bahwa ekspansi AI berlangsung terlalu cepat tanpa mempertimbangkan dampak bagi pekerja. Seorang engineer software di Amazon Web Services, Patrick Schloesser, bahkan menyinggung langsung PHK sekitar 30.000 karyawan dalam delapan bulan terakhir saat sidang tersebut.

Schloesser menyebut PHK itu sebagai cerminan urgensi Amazon untuk memperbesar daya komputasi. Menurut pandangan itu, peningkatan kapasitas komputasi dibutuhkan untuk mendukung pengembangan dan penerapan AI yang sedang dikejar perusahaan.

Investasi AI terus membesar

Di tengah kritik internal, Amazon tetap bersiap menggelontorkan dana yang jauh lebih besar untuk AI. Perusahaan dilaporkan menyiapkan sekitar US$200 miliar dalam pengeluaran modal pada 2026.

Sebagian besar dana itu akan diarahkan untuk memperluas kemampuan AI dan menopang kebutuhan komputasi yang terus meningkat. Langkah Amazon sejalan dengan tren yang juga terlihat di perusahaan teknologi besar lain seperti Microsoft, Alphabet, dan Meta.

CNBC International menyebut keempat perusahaan itu diperkirakan akan menginvestasikan sekitar US$700 miliar secara kolektif tahun ini untuk proyek-proyek terkait AI. Angka tersebut menunjukkan bahwa persaingan di sektor ini masih sangat agresif dan menyedot modal dalam jumlah sangat besar.

Kritik lingkungan ikut menguat

Selain soal ketenagakerjaan, ekspansi data center AI juga memunculkan keberatan dari sisi lingkungan. Fasilitas semacam ini membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar, sehingga menimbulkan penolakan dari masyarakat setempat dan menarik perhatian pembuat kebijakan.

Konferensi Nasional Legislatif Negara Bagian AS menyebut 14 negara bagian sedang mempertimbangkan langkah yang dapat membatasi, menunda, atau melarang pengembangan data center baru. Tekanan ini menambah tantangan bagi perusahaan teknologi yang sedang memperluas infrastruktur AI secara agresif.

Bagi Amazon, situasinya kini semakin sensitif karena tiga isu bergerak bersamaan: efisiensi internal, investasi AI besar-besaran, dan kritik publik terhadap data center. Di satu sisi perusahaan ingin mempercepat transformasi teknologinya, tetapi di sisi lain langkah itu justru memicu pertanyaan tentang biaya sosial dan lingkungan yang harus ditanggung.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru